<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037</id><updated>2012-01-04T17:01:05.135-08:00</updated><title type='text'>jelaga tak bertepi...</title><subtitle type='html'>selamat datang di jelaga tak bertepi....
dunia tempat orang lalu lalang, hilir mudik, dalam sebuah percepatan.
percepatan yang meninggalkan kepalsuan, karena akselerasi itu menyakitkan!
inilah layar bagi kepalsuan itu; tempat kita berkaca dan berkontemplasi.
selamat datang; selamat datang di kelompok bermain! (di mana kebebasan adalah hal yang absolut, dan kesalahan adalah perinduk permainan).
selamat datang di ranah hiperealitas......
</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>32</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-112593062476520291</id><published>2005-09-05T07:29:00.000-07:00</published><updated>2005-09-05T07:30:24.766-07:00</updated><title type='text'>Ketika Insomnia Menghinggapi</title><content type='html'>Tubuh. Mesin tempat jiwa menjalani peranannya di dunia. Bersiklus, bermetabolisme, berdetak, berdenyut, membelah diri di tiap bagian selnya.&lt;br /&gt;Im wondering, tidakkah kendaraan ini butuh berhenti dan beristirahat?&lt;br /&gt;Jam di dinding menunjuk pukul 1. Saya masih duduk di meja belajar saya di asrama. Menghadap jendela yang membingkai langit Bogor yang kelam tersaput mendung tipis-tipis di luar. Tanpa bintang. Pekat. Angin menghembus dari sela-sela jendela yang tidak tertutup rapat. masih terdengar siaran radio tengah malam dari radio yang masih di charge di atas meja. mungkin satu jam lagi siarannya selesai.&lt;br /&gt;Saya sudah minum susu coklat hangat. Berharap mata bisa terseret kantuk. Tapi nampaknya tubuh ini sudah menjalani mekanisme terbalik. Bahkan saya tidak berniat merebahkan diri sama sekali.&lt;br /&gt;Tiga teman sekamar saya lainnya sudah terlelap di balik selimut masing2. Lantas mengapa saya masih saja terjaga seperti ini? Tersuruk di lembaran2 kertas yang acak2an memenuhi meja belajar saya yang kecil.&lt;br /&gt;writing is my passion&lt;br /&gt;Tulisan cakar ayam itu berteberan di sana-sini. Kadang tidak bisa tidur di malam hari amatlah meresahkan. Mengapa? Saya pikir, karena suasana begitu hening dan saya tidak akan mendengar apa2 lagi kecuali suara saya sendiri. Ah, ya dan tentu saja radio yang masih bertahan siaran, disetel dengan volume paling kecil.&lt;br /&gt;Dan jika saya mendengar lebih dalam, ada desahan nafas saya. Lebih dalam lagi, ada degupan jantung, lebih dalam lagi, sepertinya saya bisa mendengarkan otak dan hati saya bercelotehan satu sama lain.&lt;br /&gt;memperbincangkan banyak hal.&lt;br /&gt;Jika aktivitas sehari tadi masih membayang di ingatan, tentang dunia yang berlari, terburu, chaos dan order dalam tatanan sosial, aturan, toleransi, tawa, tangis, obrolan, kehidupan.&lt;br /&gt;Tentu saja saya bisa resah mengkhawatirkan semuanya.&lt;br /&gt;Namun bukan untuk itu malam tiba.&lt;br /&gt;Justru di saat seperti ini, saya bisa bebas. Mengutip Morning Aroshava dalam 'Sesaat Ketika Malam Tiba' : Night will sets u free..&lt;br /&gt;Bebas dari interverensi orang2 di sekitar saya, bebas dari interverensi aturan yang entah mengapa sama2 kita sepakati, bebas dari interverensi waktu yang tak henti memburu. Dan malam, sepenuhnya milik saya. Bebas mengisi aliran detik dan menitnya sesuka saya. Sekedar menghitung bintang, melamun, menulis, dan belajar mendengarkan apa yang otak dan hati saya katakan.&lt;br /&gt;Mungkin itu juga yang membuat resah. Bagaimanapun manusia adalah Possibilite de Situation, kemungkinan untuk berada dalam berbagai situasi, atau kemungkinan untuk berada dalam banyak pilihan.&lt;br /&gt;Pernah bangun pagi dan knowing that a whole day is yours? kemungkinan terbentang luas untuk kita bebas melakukan apa saja. Keputusan menghabiskan waktu sepenuhnya bebas berada di tangan saya.&lt;br /&gt;Tidakkah kebebasan kadang terasa menakutkan?&lt;br /&gt;Itu karena manusia lebih sering didikte oleh.. entah oleh apa.&lt;br /&gt;Saya bersyukur bahwa bumi berputar, dan berselang gelap terang. Gelap mayoritas digunakan orang untuk beristirahat sejenak dari rutinitas hidup. Dan saya bersyukur tidak begitu banyak orang terkena insomnia seperti saya.&lt;br /&gt;Bayangkan jika 3 teman sekamar saya juga masih terjaga karena insomnia. Malam tak lagi sepi dan hening untuk saya bisa mendengarkan.&lt;br /&gt;Penyiar radio mengumumkan kata2 perpisahan. Sesaat kemudian hanya dengung halus yang terdengar dari speaker HP itu. Sunyi sunguh2 menari kini.&lt;br /&gt;Ternyata mendengarkan diri sendiri, begitu menyenangkan. Menulis dalam sepi begitu mengasyikan, hitung2 memperbesar wadah guna menampung ide, gagasan, dan inspirasi yang datang dan menyapa. Insomnia itu membebaskan. Seolah memberi toleransi pada diri sendiri, bahwa sunyi itu, amat dibutuhkan oleh manusia. terutama manusia seperti saya.&lt;br /&gt;Ah, tapi sungguhkah tubuh saya tidak butuh istirahat? Tidak butuh memejamkan mata dan terlelap? Sungguhkah mekanisme ini mampu terus menjalani kesehariannya terus menerus tanpa henti?&lt;br /&gt;Entah. Selama ini, Insomnia tidak terlalu menimbulkan masalah.&lt;br /&gt;Ketika jarum jam menunjuk pukul 3, saya membereskan kertas2 yang berserakan, dan menutup jurnal hari kemarin. Kemarin sudah berakhir 3 jam lalu. Tapi hari kemarin saya baru akan berakhir sekarang. Menyelinap dalan selimut dan memcoba memejamkan mata.&lt;br /&gt;Untuk 2 jam kemudian saya bangun dan melaksanakan seruan Tuhan, mengenakan celana North Face palsu saya dan meninggalkan kamar asrama.&lt;br /&gt;Tentu saja setelah berlari 6x lapangan bola, saya tidak ingin ketinggalan siluet langit pagi yang memulai pertunjukkannya dengan warna-warni cahaya. Selamat pagi matahari.&lt;br /&gt;3 teman sekamar saya hanya menggeleng2 melihat siklus yang saya jalani. Sama bingung dan tidak mengertinya dengan saya dan tubuh saya.&lt;br /&gt;Hanya satu. Saya tidak ingin insomnia saya sembuh&lt;br /&gt;_ Bivak, 3 Agustus 2005_     &lt;br /&gt;Embun Pagi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-112593062476520291?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/112593062476520291/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=112593062476520291' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/112593062476520291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/112593062476520291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2005/09/ketika-insomnia-menghinggapi.html' title='Ketika Insomnia Menghinggapi'/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-112592990998938677</id><published>2005-09-05T07:17:00.000-07:00</published><updated>2005-09-05T07:18:29.993-07:00</updated><title type='text'>Kata Albert Camus, Hidup itu Absurd</title><content type='html'>“Jika aku tak mencoba mengambil tanggung jawab atas eksistensiku, absurd rasanya untuk terus ada” –Jean Paul Sartre, The Age of Reason-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, terkadang sulit rasanya untuk menjadi manusia, dengan sebuah m yang besar. Ketika seorang berteriak di tengah-tengah pasar, dalam karya Nietzche tentunya, bahwa “Tuhan” (banyak yang mengatakan itu bukan tuhan dalam arti yang sebenarnya tetapi postulat tuhan yang ada di pikiran manusia) telah mati. Bukan berarti manusia sudah berhasil memerdekakan dirinya dari segala bentuk subordinasi. Manusia tetap hanyalah manusia dengan m kecil yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama-agama, dengan segala macam perbedaan postulasi tuhan yang mereka ketahui dan mereka yakini, mungkin adalah jawaban dari segala kegelisahan dan segala ketidaktahuan yang mereka miliki. Karena fenomena riil dan objektif yang ada dibalik symbol-simbol agama bukanlah Tuhan atau dewa melainkan masyarakat atau bisa dikatakan manusia itu sendiri. Pernyataan itu mungkin bukan pernyataan asli milik saya, saya hanya menyadur dan menyalin dari bukunya Durkheim. Tapi siapa sih yang peduli bahwa pernyataan Durkheim itu benar dan valid. Karena ia sendiri menolak untuk menelaah doktrin-doktrin agama yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia dengan huruf m yang dimilikinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Max Planck melakukan revolusi awal pengetahuan alam karena penemuannya atas fisika kuantum, dan dunia pun seakan berubah untuk selamanya. Teori yang yang menyatakan bahwa perhitungan gerak materi tidak boleh menegasikan variable lain yang mempengaruhi gerakan itu (mungkin saya banyak kesalahan dalam pernyataan ini, oleh karena itu kritik dan saran sangat diharapkan, hehehe..) sangat mempengaruhi Einstein dalam penyusunan teori relativitasnya yang hampir setara dengan “Got is Tott”-nya Nietzche. Entahlah apakah hasil perhitungan kosmologi alam ala Eistein ini dapat termanifestasikan dalam kehidupan manusia ( sekali lagi, mengenai masalah kosmologi alam ini bukan hasil kontemplasi saya tetapi saya copy dari tulisan Ahmad Wahib, apakah saya hanya melakukan copy paste? mungkin saja). Tetapi yang jelas dapat diketahuai bahwea tidak ada yang absolut dalam alam semesta ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pelajaran penting yang dapat kita ambil dari film Kingdom of Heaven. Pelajaran tersebut dimulai ketika yerusalem, kota tiga agama ibrahim, jatuh ketangan pasukan Muslim pimpinan Salahuddin al-Ayyubi seorang kurdi yang memimpin pasukan dinasti Fathimiyyah. Hal ini menjadi menarik karena kota itu dibangun diatas suatu hal yang absolut. Kaum Yahudi dengan Solomon’s Temple-nya, kaum Nasrani dengan kelahiran Yesus sang messiah-ya, dan yang terakhir kaum Muslim dengan kiblat awal sebelum Makkah-nya. Balian, seorang nasrani yang memimpin perlawanan melawan Salahuddin dan berhasil ditaklukan oleh sang jenderal muslim tersebut, menanyakan kepada Salahuddin, “apakah artinya buatmu Yerusalem ini?” Salahuddin pun menjawab, “nothing?” dengan langsung menimpali untuk kedua kalinya, “it’s everything!”. Dan tembok Yerusalem pun runtuh kearenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, manusia memang bukan diciptakan dari materil yang kuat dan solid seperti baja, bukan juga ia diciptakan dari sesuatu yang ekstrim seperti api. Ia berbahankan tanah yang sangat mudah untuk dibentuk dan sangat mudah untuk melebur dan tenggelam (dalam tanah tentunya) sampai pada akhirnya Adam pun terbuang dari surga yang merupakan salah satu perlambang dari segala sesuatu yang bersifat final. Proses penciptaan manusia juga dapat kita pahami sebagai perayaan atas penolakan atas segala macam bentuk absolutisme yang mengengkang manusia (apakah ada pemaksaan dari narasi ini? Entahlah, itu jawaban yang harus anda cari sendiri).  Agama-agama, Islam salah satu contohnya, memberikan jawaban atas raison d’etre manusia (mengapa saya memilih Islam? Tentu saja karena saya adalah Muslim) yaitu agar beribadah kepada-Nya. Tetapi ternyata hal ini belum cukup bagi kebanyakan manusia, dengan m kecil tentunya, karena Rasul dan Nabi terakhir hidup kurang lebih 14 abad yang lalu. Apakah itu cukup memberikan kelegaan atas keterasingan dan kegelisahan dalam dunia yang dihadapi manusia? Hal ini tidak dapat dijawab hanya dengan sebatas jawaban ya atau tidak tetapi jawaban ini harus kita terus cari sendiri dengan dengan proses kontemplasi yang panjang dan melelahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apakah kita??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bukan bermaksud untuk berputus asa, tetapi saya hampir setuju bahwa manusia hampir berada dalam tapal batas sejarah yang direka dan dibentuknya sendiri. Mereka berada sendirian dalam dunia ini tanpa katakismus yang cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The intention is clear, I stare... with this left hand, unable to be worded&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Every time I bleed, there lies the reason to live... And I discover words being so vivid and bright&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Even loved ones scatter like petals from flowers in my hand&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So even if I engraved the meaning that I lived in my hand, it will only be known as flowers of vanity (Dir en Grey, The Final)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia hampir menggunakan segala usaha dan tenaga agar tercapai m yang dikehendaki. Tidak ada yang salah dengan itu. tetapi hal tersebut mungkin dapat mengabaikan segala macam aspek dan variable yang mempengaruhi kehidupan kemanusiaan. Dekonstruksi ala Derrida menawarkan cara lain akan memahami pemaknaan akan hidup (bukan bermaksud mengikuti trend, tetapi memang saya lagi kepingin saja). Ia mencoba mengangkat teks-teks marjinal dalam konteks narasi yang ada agar dapat “diikutsertakan” dalam narasi tersebut. Pola ini dapat dikatakan  menunjukan bahwa ke-m-besaran manusia ternyata terletak kepada ke-m-kecilan manusia itu sendiri. Ia besar karena ia kecil. Terkesan kontradiktif tetapi hal ini menunjukan bahwa kita tidak boleh berputus asa atas dunia yang dihadapi. Mengatakan YA! Terhadap kehidupan adalah salah satu bentuk optimis[1] kita atas kehidupan itu sendiri (sedang kaum Marxist melihat perlunya revolusi social). Oleh sebab itu saya melihat kita tidak perlu menjadi Manusia tetapi kita harus menjadi manusia dengan segala keterbatasan yang kita miliki. Memang benar bahwa manusia berada dekat dengan Tuhan yang mereka percayai. Tetapi gerak aktif manusialah yang dapat menentukan arah yang dikehendaki oleh manusia itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Stat rosa pristina nomina, nomina nuda tenemus[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin pernyataan itulah yang cocok disematkan dalam berbagai kerisauan yang menghantui perjalanan panjang manusia. Tapi siapa yang tahu, bukankah menurut Derrida sendiri “hidup” itu adalah permainan. Material!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M. Ridho&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-112592990998938677?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/112592990998938677/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=112592990998938677' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/112592990998938677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/112592990998938677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2005/09/kata-albert-camus-hidup-itu-absurd.html' title='Kata Albert Camus, Hidup itu Absurd'/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-112592986159513423</id><published>2005-09-05T07:15:00.000-07:00</published><updated>2005-09-05T07:17:41.596-07:00</updated><title type='text'>JUST A REFLECTION FOR US</title><content type='html'>Dalam bayang-bayang menolak sesuatu yang subjektif, rasanya memang sulit ketika hendak menulis sebuah catatan tentang apa yang ada di sekitar ini. Kontemplasi, narasi acak, atau sekedar onani intelektual, apa pun itu, subjektivitas menjadi semacam ganjalan mencapai kondisi kebenaran yang orisinal (mungkinkah ada?). Toh, ternyata kenikmatan menjadi manusia terdapat pada egoisitas yang mengkungkung diri dalam pengakuan kita terhadap realita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subjektivitas manusia merefleksikan sesuatu yang tidak akan mungkin tunggal. Komentar-komentar dari bibir mungil manusia membuat angka ‘1’ tidak  berarti sama dalam benak kita masing-masing. Relativitas? Entahlah, apa yang ada di dapur kita menjadi urusan kita masing-masing. Subjektivitas berada pada kedalaman pengalaman manusia sendiri-sendiri. Tak seorang pun dapat mencampuri pencerapan seseorang terhadap sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, seringkali masalah muncul ketika gagasan bertemu dengan gagasan, dan payahnya satu sama lain saling menisbikan. Seakan dunia ini tidak cukup repot dengan banyak masalah, ihwal gagasan yang beradu pun tak luput dari pertarungan antar manusia. Arena intelektual memang penuh egoisitas. Apakah berarti realita itu multi-interpretasi? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saling seragam atau beragam, tiap kata kita adalah kesendirian yang mutlak. Kesendirian kita dalam hidup membuat keinginan untuk membaca sesuatu itu menjadi bersifat pribadi pula. Saya mengartikan ‘putih’ berbeda dengan apa yang Anda inginkan. Kekeraskepalaan saya membuat tidak ingin makna ‘putih’ saya sama dengan orang lain, dan pula tak ingin orang lain menyama-nyamakannya dengan maksud saya. Kata Sartre, manusia terkutuk untuk bebas. Dan saya tambahkan untuk bebas dalam kesendirian. Kita beruntung kita egois.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesendiriannya di dunia ini, kebutuhan untuk diakui oleh orang lain ternyata merupakan sesuatu yang mutlak. Tak pelak lagi, ternyata egoisitas manusia itu harus berwujud diri. Sebagai eksistensi diri; mewujud dalam identitas personal yang berusaha mencerminkan ke-aku-an. Ditangkap oleh orang lain, diterima sebagai jubah yang selalu mewarnai manusia itu. Keegoisan dianggap sebagai keinginan individu untuk diakui dalam interaksi sosialnya. Kebutuhan ini tak dapat dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Refleksi diri terhadap realita (melalui tulisan kritik sosial, misalnya) -disadari atau tidak- akan membawa pantulan subjektivitas dan egoisitas sendiri-sendiri. Sebagai pengalaman individu dalam mencerap jutaan makna yang hadir selama hidupnya, lalu dimunculkan sebagai sebuah gagasan yang walaupun berusaha untuk ‘sejernih’ mungkin, sebuah refleksi sosial memang selalu bercirikan identitas tertentu. Walau Sapardi Djoko Damono berkata pengarang telah mati ketika menyerahkan tulisannya kepada pembaca untuk diinterpretasikan secara otonom, independen, dan lebih bersifat arbiter, rasanya cecapan rasa sang pengarang akan tetap menonjol sebagai kekuatan egoisme yang ambigu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang umum terjadi pula dan dirasakan bahwa selalu terjadi konflik dalam benturan egositas dan subjektivitas tiap-tiap penulis. Jika diibaratkan sebagai sebuah arena lapangan kotak, pertarungan antar gagasan merupakan sesuatu yang klasik. Polemik dalam sebuah diskursus acapkali menjadi keharusan sebagai buah dari kondisi relasi kekuasaan dalam kehidupan sosial, termasuk dalam dunia gagas-menggagas realita sosial. Teks memang selalu merambah kemana-mana, dan dunia kekuasaan pun terjamah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu setelah semua itu di atas, apakah kita mesti pesimis dan lalu menggugurkan begitu saja keinginan untuk berpendapat sesuatu, menulis apapun, sekedar bersampah serapah, atas kondisi semua ini? Seberapa berarti sikap diam kita nantinya sebagai jawaban atas tantangan tulisan di atas?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, kenikmatan membaca realita itu seperti kenikmatan meminum secangkir kopi di malam hari. Baca dan minum adalah kegiatan konsumsi dasar manusia. Meminum secangkir kopi dapat menghilangkan rasa kantuk kita, memunculkan kesadaran yang telah lama pudar, membuat mata kembali terbelalak, menjadi terjaga. Mengamati apa yang terjadi dengan kasat mata setidaknya menghasilkan sesuatu yang baru dalam kepala kita. Pertanyaan-pertanyaan yang lalu muncul belakangan –semoga saja- membawa kesadaran manusia tentang eksistensinya di tengah-tengah dunia ini. Kita tidak sedang tertidur selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah terjaga, what’s next? Saya tidak terlalu mempedulikan apa yang akan Anda lakukan sesudah memahami apa yang terjadi di sekitar masing-masing. Sekedar terjaga saja membuat segalanya cukup berarti. Kita tahu apa yang telah terjadi. Atau seperti Milan Kundera, yang tertawa dan menangis dibalik keterjagaannya. Setidaknya dalam ke-jelaga-an hidup ini, kita masih bisa meminum kopi, walaupun sekedar kopinstant belaka. Iya, kan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aristides Baltazar&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-112592986159513423?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/112592986159513423/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=112592986159513423' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/112592986159513423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/112592986159513423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2005/09/just-reflection-for-us.html' title='JUST A REFLECTION FOR US'/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-112592970129794556</id><published>2005-09-05T07:06:00.000-07:00</published><updated>2005-09-05T07:15:01.306-07:00</updated><title type='text'>Dari Napoli ke Jalan Lain ke Cinta</title><content type='html'>Cinta itu ibarat hulu sungai...ia tak bosan-bosannya memberi, mengaliri air ke hilir. Seperti sinar mentari di bulan Juli...ia hangat tapi mampu membakar diri. Atau laksana sekuntum bunga...—bukan, bukan karena bunga adalah lambang cinta--, tapi karena ia punya masa....kadang mekar, kadang mati. &lt;br /&gt; Malisa menatap dirinya di cermin. Tubuh yang tidak semampai, tidak putih, tidak bersinar. Tapi ia tak peduli. Yang penting ia dicintai Kori. Kori, kekasihnya yang paling ia sayangi. Sedang menuntut ilmu di luar negeri. Nun jauh di sana, di negeri pizza Italia belajar seni. Meninggalkan Malisa seorang diri di sini.&lt;br /&gt; Tiap jengkal tubuh Malisa sudah terjelajahi Kori. Ia jadi merinding sendiri. Tiap inci wajahnya telah ditelusuri. Tiap pori kulitnya telah puas dikecap dan dinikmati. Sekarang sedang apa Kori? Malam ini begitu dingin...membuat tubuh Malisa beku...tapi hatinya masih mengingat Kori. Raganya sedang mendamba Kori. You’re my everything...&lt;br /&gt; Tiba-tiba gadis itu mengingat kembali masa lalu sebelum Kori pergi. Cinta mereka yang tanpa henti. Cinta mereka yang tak mengenal tempat.., di sudut taman, di dalam mobil, di dalam kelas, bahkan di kamar mandi. Semuanya telah dijalani. Awal pertemuan yang tanpa rencana. Kori, si lelaki pujaan seluruh wanita. Jatuh cinta pada Malisa katanya. Malisa hanyut, Malisa terbang, Malisa di atas awan....Malisa tak sanggup menahan segala hasratnya. Tak ada satupun yang ada di dunia ini yang tak ia beri..., pada Kori. You’re my everything...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Napoli, 31 Januari 2004&lt;br /&gt; Akulah Kori. Sedang berjalan dalam dinginnya hembusan angin musim dingin. Sedang menapak di satu kota indah bernama Napoli. Kubilang pada Malisa sedang belajar seni. Tapi kataku pada ibu, aku ingin mengadu nasib di sini. Mana yang benar aku tak peduli. Yang pasti aku hanya ingin pergi.&lt;br /&gt; Akulah Kori. Si tampan yang selalu menawan hati. Tanpa disangka keberuntungan datang menghampiri. Jadi model iklan padahal baru seminggu di sini. Jadi peragawan padahal satu bulan belum sampai terlewati. Bisa terbayangkan bagaimana nasibku suatu saat nanti. Kurang apalagi diriku ini? Karir menjanjikan. Kekasih cantik menawan.&lt;br /&gt; Menawan? Jelas bukan Malisa. Si pendek dan gemuk di Jakarta. Ia telah kutinggalkan di sana, entah untuk berapa lama. Yang menawan bagiku hanya Louisa, kutemukan di Italia. Wajah yang sempurna, tubuh yang menyita mata. Benar-benar kontras dengan Malisa. Entah sedang apa dia di sana. Merindukanku sampai gila. Atau menangis dengan hebatnya. She’s my everything...&lt;br /&gt; Aku ingat betapa Malisa menyukai ketampananku. Sampai-sampai ia menerima kencan hanya dengan sekali ajakan lalu. Sampai-sampai Malisa rela membantu tugas kuliahku. Sampai-sampai Malisa mau sepanjang malam menemaniku. Sampai-sampai Malisa tak kuasa menolak apa yang dipintaku. &lt;br /&gt;Tubuh Kori dan Louisa menempel karena keringat. Keduanya bersimbah cairan kental yang menyengat. Keduanya saling memainkan pasangannya. Ada Louisa yang tak jemunya menggeliat. Ada Kori yang tak hentinya bergerilya. Keduanya sedang terbakar gairah yang menyala. Seperti layaknya cinta, ada yang memberi, ada yang menerima.&lt;br /&gt;Tiba-tiba Kori teringat Malisa. Ada perbedaan yang ia rasakan di sana. Tubuh sempurna Louisa membuat ia benci pada kenangannya bersama Malisa. Membuat ia bertanya-tanya, mengapa dulu rela melakukannya dengan Malisa. Namun sesaat kemudian Louisa mencapai puncaknya, membuat Kori lupa akan segalanya. She’s my everything...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 14 Februari 2004&lt;br /&gt; Malisa termenung merana. Tak ada dering telepon Kori yang dinantikannya. Tak ada pesan masuk dalam telepon genggamnya. Padahal hari ini tepat setahun hari jadi mereka. Gadis itu ingat setahun yang lalu. Saat purnama menampakkan rupanya. Saat melodi memperindah alunan lagunya. Saat itulah Kori membisikkan kata cinta padanya.&lt;br /&gt; Seketika Malisa tak bisa menahan dirinya. Ada getaran hebat di dalam jiwanya. Sudah enam puluh hari Kori meninggalkannya. Sedang apa dia? Merindunya, seperti ia merindunya pula? Tubuh Malisa tak kuasa diam. Ia begitu mendamba kekasihnya. Begitu menginginkan lumatan liar pada bibirnya. Begitu mengharap sentuhan lembut di dadanya. Begitu merindu kehangatan Kori dalam rahimnya. Begitu juga dengan apa yang dirasakan bayi ini, kata Malisa sambil membelai perutnya. Membelai terus hingga ke bawah...ke tempat yang mulai basah. You’re my everything...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Napoli, 1 April 2004&lt;br /&gt; Akulah Kori. Si dewa cinta yang sedang masyuk dengan kekasihnya, Louisa yang tak pernah puas merengkuh tubuhnya. Kali ini Louisa ingin di bawah katanya. Membuatku leluasa memandang surga dunia. Ada sepasang mata cokelat cemerlang di hadapan. Ada uraian rambut mahogany yang menawan. Ada sepasang payudara indah di rengkuhan. Mungil, tapi merekah. Membuat tangan-tanganku tak bosannya menjamah.&lt;br /&gt; Saat memejamkan mata menikmati asmara, Kori kembali melihat Malisa. Kori melihat sepasang mata hitamnya. Ada tatapan rindu di sana. Namun terbersit bara menyala. Ada apa dengan Malisa? Kori tak tahu mengapa sebabnya. Yang ia tahu selama ini Malisa adalah pelayan cintanya. Atau sebagai budak nafsunya.&lt;br /&gt; Apapun yang ia minta pasti Malisa beri. Menyiapkan sarapan paginya. Membawakan bekal makan siangnya. Menuruti selalu saat ia ingin bercinta. Tidak kenal pagi, tak ada siang, dan tak salah malam. Kadang bisa sehari tiga kali mereka melakukannya. Tanpa syarat, tanpa pengaman, tanpa perasaan berdosa. Dan bagi Kori, tanpa cinta.&lt;br /&gt; Ironisnya, saat ini Kori merasa kebalikannya. Ia adalah budak nafsu Louisa. Wanita itu tak henti-hentinya meminta. Wanita itu seakan menganggapnya boneka. Saat kurang liar mencumbu, Louisa menyalahkannya. Saat Kori tak mampu berereksi, Louisa mengancam meninggalkannya. Wanita itu telah membodohi dan membutakannya.&lt;br /&gt; Ia ingat lagi pada Malisa. Ingat betapa manis senyumannya. Ingat betapa mengalah Malisa padanya. Ingat betapa tulus cinta yang dipersembahkannya. Ingat betapa jahat ia meninggalkannya. Malisa, Malisa, maafkan aku, Malisa. Aku akan pulang melihatmu. Aku akan kembali pada pelukmu. Aku akan menciumi lagi bibirmu. Aku akan merasamu sepanjang waktu.&lt;br /&gt;Inilah cinta yang sesungguhnya, Malisa. She’s my everything...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, 2 April 2004&lt;br /&gt; Malisa menatap langit-langit kamarnya. Mencari bintang yang takkan bersinar. Mencari bulan yang enggan datang. Mencari jawaban yang tak pernah ada. Dibukanya lebar-lebar daun jendela. Saat itu pula semilir angin malam menyusup ke dalam dadanya. Sejuk ia merasa, sementara gundahnya dibawa oleh hembusan itu ke samudera. Dan seketika pula, Malisa ingin ikut bersamanya.&lt;br /&gt; Malisa melihat lagi bayangannya di depan kaca. Mata yang sembab, dihiasi lingkaran gelap. Tubuh yang utuh tanpa jiwa yang mendekap. Sambil tersenyum ia berkata: cintaku tidak seperti hulu sungai lagi, karena air yang kualiri sudah habis keluar dari kedua mata ini. Cintaku tak seperti mentari bulan Juli lagi, karena hangatnya tak lagi mampu mencairkan tubuhku yang kini kaku membiru. Namun cintaku masih seperti sekuntum bunga, hanya saja masa mekarnya telah tiada. Tinggal mati yang takkan menegakkan kelopak indahnya lagi, bisiknya lirih sambil menancapkan belati ke perutnya.&lt;br /&gt; Membunuh dirinya..., membunuh janin yang dikandungnya..., membunuh cinta pada Kori untuk selamanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggalah esok, saat Kori datang memintanya kembali, saat Kori datang untuk mencoba menyirami bunga itu lagi...,niscaya ia hanya akan menemukan sesosok lebih manusia yang telah mati..,  &lt;br /&gt;Karena bunga itu sudah terlalu kering untuk sekedar air liur Kori...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-112592970129794556?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/112592970129794556/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=112592970129794556' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/112592970129794556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/112592970129794556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2005/09/dari-napoli-ke-jalan-lain-ke-cinta.html' title='Dari Napoli ke Jalan Lain ke Cinta'/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-111649754551645403</id><published>2005-05-19T03:11:00.000-07:00</published><updated>2005-05-19T03:12:25.516-07:00</updated><title type='text'>waktu_prolog</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;mONo&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tik tok tik tok tik tok... dan waktu terus berjalan. Waktu terus berputar. Entah dengan alasan apa. Entah adakah tujuan yang ingin dicapai. Selain menjadi means of production dan capital makhluk hidup untuk menjalani perlombaan marathon kehidupan. Kehidupan paradoks yang diselubungi pekat materialisme dan kelam gegap gempita idealisme. Paradoks yang diinginkan. Dualisme yang diharapkan. Dan waktu tidak pernah menunggu manusia yang terseok kerikil serta batu tajam kehidupan. Waktu yang bijaksana untuk menunggu manusia-manusia yang belajar dari kehidupan dan mengisap saripatinya dalam-dalam. Hayati. Resapi. Nikmati. Untuk kemudian mendongakkan kepala dan berkata “iya” kepada kehidupan.&lt;br /&gt;Waktu hanya ada untuk mengada. Tidak lebih. Tidak kurang. Tapi manusia selalu merasa kekurangan. Dan manusia terus berpikir sombong, congkak akan keberlebihan. Idealisme. Materialisme. Kehidupan. Ruang. Waktu. Sampai kapan ini terus ada? Mungkinkah hingga kita, manusia tidak pernah berhenti bertanya dan mengadu, berkeluh kesah, tertawa, tersenyum kepada kehidupan? Mungkin iya. Mungkin tidak. Ketika segala sesuatunya berhenti pada tataran kearifan.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-111649754551645403?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/111649754551645403/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=111649754551645403' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/111649754551645403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/111649754551645403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2005/05/waktuprolog.html' title='waktu_prolog'/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-111649743737643643</id><published>2005-05-19T03:09:00.000-07:00</published><updated>2005-05-19T03:10:37.380-07:00</updated><title type='text'>Einstein, Nietzsche, dan Waktu</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Morning Aroshava&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;            &lt;em&gt;Time is the One Essential Mystery...&lt;br /&gt;-         Jorge Luis Borges&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Borges memang tidak familiar bagi saya. Yang saya tahu, ia cuma penulis asal Argentina yang seangkatan dengan Milan Kundera, novelis kondang asal Ceko itu. Namun quote Borges di atas menginspirasikan pada beberapa hal, misalnya menyibak teori relativitas Einstein. Dalil utama Einstein mengenai relativitas waktu, bila ditelisik lebih jauh menyiratkan makna bahwa waktu itu bukan sesuatu yang linier, waktu itu siklikal atau berulang. Ini jadi mengingatkan saya pada konsep waktu a la orang India yang memang benar-benar relatif. Jam tiga sore tidak dimaknai sama bagi setiap orang. Pemaknaan yang sangat humanis? Mungkin. Logika ini mungkin sangat bertabrakan antara sains yang kaku dan pasti serta humaniora yang relatif. Namun, Einstein pun pasti tidak asal-asalan menciptakan teori tentang waktu. Sembilan puluh sembilan kali ia melakukan eksperimen sehingga menghasilkan rumus e=mc2.&lt;br /&gt;Dengan pemaknaan relativitas waktu ini, tak aneh jika pemikiran postmodern Nietzche bisa masuk ke dalamnya. Sekadar mengingatkan, ketidaklinieran waktu hampir sama dengan ketidaklinieran ilmu pengetahuan khas posmo. Ketidaklinieran waktu ini juga membuat adanya sesuatu yang dapat balik, atau reinkarnasi. Tidak ada sesuatu yang abadi, karena sesuatu itu terlahir berulang. Musik misalnya. Tak ada satu bentuk orisinalitas tertentu yang lahir dari periode ke periode. Transformasi dari classic metal, heavy metal-nya Sepultura dan Metallica, kemudian beranjak ke hip metal pada akhir 1990-an, bukan menunjukkan kalau karya-karya Korn atau Slipknot adalah karya yang benar-benar baru dan tak terbantahkan orisinalitasnya. Mengutip Indra Lesmana, musik, menurut dia hanya perpaduan antara satu nada ke nada berikutnya sehingga tidak menutup kemungkinan bakal terjadi pengulangan.&lt;br /&gt;Pemikiran tentang relativitas waktu ini mengusik saya melihat kembali hukum Newton yang diajarkan di bangku SMU dulu: tidak ada energi yang dapat diciptakan atau dimusnahkan, yang ada energi itu hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Hey, bukankah ini hampir mirip dengan pemikiran Einstein tentang relativitas? Segala sesuatu tidak lenyap, namun menghablur dalam ruang dan waktu. Wah, sebuah eternal return? Akan ada kekekalan sebagaimana hukum kekekalan energi? Ini berarti, dalam tahap yang paling ekstrim mungkin, meniscayakan adanya reinkarnasi. Yup, reinkarnasi yang berarti dapat baliknya ruh seseorang ke dunia ini. Lagi-lagi alam pikir saya begitu kecil, pertanyaan-pertanyaan tentang reinkarnasi ini mendekati batas nalar saya.&lt;br /&gt;Namun setidaknya dari hal itu, ternyata waktu tak sekadar dimaknai sebagai jam dinding merk Seiko yang berdentang di ruang tamu. Atau tak hanya diartikan sebagai pembatas antara satu kegiatan dengan kegiatan yang lainnya. Waktu, dalam semangat Einstein dan Nietzche, bisa berarti banyak hal. Tidak ada justifikasi waktu dari seorang pengamat yang independen, begitu kata Einstein. Secara simpel, dalam dunia nyata, adanya waktu yang tidak bisa dipastikan ini, terlihat misalnya ketika kita hendak berjalan dari satu tempat ke tempat lainnya. Dua kondisi yang berbeda bisa membuat waktu yang ditempuh berbeda, walaupun secara matematik jarak antara dua tempat itu sama. Berjalan bersama teman dan mengobrol di jalan membuat waktu tempuh menjadi singkat. Lain halnya jika kita menempuh perjalanan itu sendirian. Beda ‘kan?&lt;br /&gt;Lantas, kearifan apa yang bisa kita ambil dari pemikiran Kang Einstein ini? Paul Tillich, seorang filsuf dan teolog, melukiskannya seperti ini: Time is our destiny. Time is our despair, and time is the mirror in which we see eternity. Jika disambungkan ke logika Nietzschenian waktu bukanlah topeng kehidupan. Waktu bukanlah simbol yang meraja di dunia simbol ini. Waktu adalah sebuah esensi. Waktu juga bukanlah jaminan absolut, ia adalah sesuatu yang relatif. Mungkin kita bisa berkaca pada waktu: sebuah keabadian yang tak terjamah.&lt;br /&gt;Francis Fukuyama bisa saja berkata, “Inilah akhir dari sejarah manusia: kemenangan demokrasi liberal dan kapitalisme”. Namun, sejatinya waktu jualah yang menjawab apakah hegemoni AS dapat terus bertahan atau justru menipis seiring dengan resistensi dari kelompok pinggiran. Kita bisa “bohong” pada orang-orang dengan menyiasati fisik yang mulai menua, namun waktu tidak berbohong untuk mengatakan berapa usia kita. Kita bisa tertawa dalam pembangunan berwajah kapitalisme, namun time will tell, kerusakan atau dampak apa yang akan ditimbulkan di kemudian hari.&lt;br /&gt;Menyaksikan waktu sebagai sebuah tujuan akhir memang sangat menarik. Kita ditempatkan seperti Nostradamus atau Jayabaya, futurolog yang bisa meramal masa depan. Yang jelas, akan banyak sekali prediksi-prediksi dari berbagai sudut pandang mengenai dunia ini. Namun, tanpa harus ikut meramal, kita sudah bisa asyik melihat tren dari waktu ke waktu yang terus menggeliat; entah itu tren pemikiran, musik, gaya hidup, yang terus dimodifikasi. Terus berputar dan ber-reinkarnasi. Sampai waktu benar-benar berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi :&lt;br /&gt;Paul Halpern, Time Journey: A Search for Cosmic Destiny and Meaning, New York: Mc Graw Hill, 1990&lt;br /&gt;Time and Man, Oxford: Pergamon Press, 1978&lt;br /&gt;Paul Davies, About Time: Einstein Unfinished Revolution, New York: Touchstone Book, 1995&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-111649743737643643?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/111649743737643643/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=111649743737643643' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/111649743737643643'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/111649743737643643'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2005/05/einstein-nietzsche-dan-waktu.html' title='Einstein, Nietzsche, dan Waktu'/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-111649732635908470</id><published>2005-05-19T03:06:00.000-07:00</published><updated>2005-05-19T03:08:46.363-07:00</updated><title type='text'>time is (not) running out</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;mONo_penungguwaktu&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“I’ll be there as soon as i can. But i’m busy mending broken pieces of the life i had before.”&lt;br /&gt;-unintended- &lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;            “Andai aku bisa kembali ke masa lalu.” Mungkin Anda sekalian familiar dengan ungkapan semacam itu. Tersirat rasa sesal dan penantian tak berujung serta harapan yang sudah final akan kandas. Sayang sekali, kita semua tidak hidup dalam alam hiperealitas sinema audio-visual-kinetik-dramatik. Andai saja manusia memang memiliki mesin waktu seperti dalam film Quantum Leap, mungkin ungkapan di atas segera menjadi onggokan frase yang semakin jarang terdengar. Mungkin, ribuan manusia akan berbondong-bondong, berdesak-desakan melakukan perjalanan ke masa silam. Beberapa, mungkin, akan mencari Hitler dan mengarahkannya untuk tidak melakukan pembantaian massal. Segolongan manusia lainnya, mungkin, akan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dilakukan pada masa lalu. Kelompok manusia lainnya, mungkin, akan menemui orang-orang bijak di masa lalu dan meminta nasihat kehidupan. Atau mungkin, beberapa orang malah melakukan balas dendam terhadap manusia lainnya. Dalam tahap ekstrem, adakah manusia yang kembali ke masa lalu untuk membatalkan dan menggagalkan proses kelahiran seseorang di dunia? Kalau begitu, apakah seseorang yang kelahirannya dibatalkan itu akan tiba-tiba lenyap, di masa kini, ketika ada manusia yang membunuhnya di masa lalu? Pertanyaan yang terlalu gegabah untuk ditanyakan. Pertanyaan yang entah siapa tahu jawabnya.&lt;br /&gt;            “Aku ingin pergi ke masa depan.” Familiar dengan pernyataan tersebut? Mungkin tidak. Tetapi, mungkin, ada sebagian manusia di planet bumi ini yang berpikiran dan berharap untuk melompati episode kehidupan masa kini untuk kemudian tinggal di masa depan. Entah karena euforia kebahagiaan masa kini. Entah karena rasa ingin tahu yang menemukan solusi untuk segera dijawab. Atau mungkin juga karena kepedihan hidup dan ingin segera mengetahui akhir dari penderitaan. Namun, lagi-lagi, sayang berjuta-juta sayang, kita, saya, Anda, manusia tidak hidup dalam layar kaca dan mewujud sebagai tokoh kartun. Meski mungkin saja, kehidupan ini memang seperti film kartun. Sayang sekali, Doraemon dan Nobita tidak pernah memberitahukan rahasia pembuatan pintu ajaib. Nobita yang penasaran segera diatasi oleh kenyataan pahit atau manis racikan kantung ajaib Doraemon. Ya, kita tidak memiliki Doraemon dalam tataran nyata, faktual, material. Hanya dalam tataran ideal, Doraemon sanggup mengada. Sayang sekali, sinetron Lorong Waktu berhenti pada bentuk gulungan rol film, hiburan semata dan cerita kebijakan-kebajikan. Apa sekiranya yang akan terjadi apabila manusia sanggup hijrah ke masa depan? Manusia-manusia yang melakukan lompatan waktu. Lalu adakah yang disebut masa kini? Ketika semua manusia berangkat menyongsong masa depan yang terprediksi. Seperti salah satu dialog dalam film The Incredibles yang menyatakan, kurang lebih, “Ketika semua manusia itu spesial, unik. Maka sesungguhnya manusia itu tidak ada yang spesial, unik.” Berarti periodisasi waktu sudah mati. Dan sejarah tinggallah sejarah. Sekaligus sejarah tidak tinggallah sejarah. Entah apa yang terjadi ketika manusia memang sanggup melakukan lompatan waktu. Sejauh yang saya tahu, perkembangan ilmu pengetahuan sudah memiliki teori lompatan kuantum, bukan lompatan waktu seperti yang saya, Anda, manusia, mungkin, harap.&lt;br /&gt;            Waktu adalah perjalanan linier. Dan pernyataan tersebut merupakan kritik untuk tulisan Einstein, Nietzsche, dan Waktu. Menurut saya, Waktu, dalam tataran spektrum, serupa dengan ideologi dan membutuhkan identifikasi. Saya akan mencoba memvisualisasikan pernyataan tersebut. Mari kita berandai-andai, pertama, ada segaris panjang horizontal yang memiliki tiga titik. Titik pertama berada di sebelah kanan garis dan disebut dengan masa lalu. Titik kedua berada di tengah garis dan disebut dengan masa kini. Titik ketiga berada di sebelah kiri garis dan disebut dengan masa depan. Dan saya, Anda, manusia sedang berada di titik tengah, membaca tulisan ini sambil mendengarkan TheMilo. Dimanakah letak relativitas waktu? Bukankah, secara material dan fisik, kita akan selalu berada di titik tengah? Manusia tidak dapat pergi melancong ke masa lalu. Manusia pun tidak dapat bertamasya ke masa depan. Argumentasi reinkarnasi, terutama dilihat dari pandangan metafisik-spiritualitas, memberikan jawaban mengenai permainan energi. Manusia merupakan energi. Energi yang dinyatakan oleh Newton, tidak dapat diadakan sekaligus tidak dapat ditiadakan. Menurut reinkarnasi, dimungkinkan manusia, saya, Anda di masa lalu bukanlah manusia, sekaligus masih dimungkinkan sudah menjadi manusia, melainkan entitas makhluk Tuhan yang lain, tumbuhan atau hewan. Namun dengan prosesi ritual yang, mungkin, hanya sanggup dipahami dalam tahap keyakinan, saya, Anda, manusia pada saat ini mampu berjumpa dan menjadi sesuatu, yaitu manusia. Pada tahap tersebut, khususnya menyangkut substansi relativitas waktu, saya menyetujui konsep yang dikandung Einstein, Nietzsche, dan Waktu. Tetapi ketika membicarakan materialitas, konsep tersebut akan kandas. Karena yang bermain di sini adalah kesadaran sebagai seorang manusia, yang menurut pandangan masyarakat, memiliki akal dan nurani.&lt;br /&gt;            Katakanlah saya, Anda, manusia memang mewujud di titik kanan, karena saya pun sepakat dengan Newton, dan sekarang kita bersua di titik tengah. Katakanlah saya dan Anda, di titik kanan, merupakan sepasang kekasih yang berbeda strata kelas namun masih sanggup berusaha merajut kasih. Dan kini, di titik tengah, saya, Anda bertemu, berjumpa dan saling tidak memahami bahkan mencinta pun tidak, setidaknya masih dimaklumi apabila bertepuk sebelah tangan. Bagaimana kita menjelaskan reinkarnasi dan relativitas waktu pada tataran ini? Pro-reinkarnasi dan relativitas, mungkin, akan menjawab waktu secara bijaksana akan memberitahu bahwa saya, Anda merupakan mantan sepasang kekasih. Atau secara substansial dan ide, saya, Anda memang sepasang kekasih. Permasalahan hanya terjadi dalam materi fisik. Dan cerita romantis di titik kanan harus segera diselesaikan di titik tengah. Landasan kritik yang diajukan adalah pertanyaan mengenai apakah saya, Anda memiliki kesadaran yang sama ketika berada di titik kanan dan titik tengah? Tidak, kita tidak memiliki kesadaran yang sama bahwa saya, Anda memang pernah bersama di titik kanan dan ditakdirkan kembali bersatu di titik tengah. Apabila, di masa titik tengah, saya memang menyayangi Anda dan tentu saja memiliki latar belakang historis, lantas apakah hal tersebut dapat dirasionalisasi atau dijelaskan dengan pernyataan bahwa ya memang, saya, Anda memang sudah semestinya bersatu karena dari titik kanan pun, kita sudah (pernah) saling mencinta.&lt;br /&gt;            Oleh karena itu, saya berpendapat bahwa waktu berjalan secara linier. Dapat dikatakan, secara material kehidupan makhluk di dunia, waktu merupakan proses linier pada dirinya sendiri. Kalaupun relativitas terbukti secara empirik, tidak selalu melalui jalan keyakinan, maka waktu bagi makhluk dunia tetap akan berjalan secara linier. Saya, Anda di titik kanan dengan kesadaran yang dimiliki pada periode titik kanan. Dan saya, Anda di titik tengah dengan kesadaran yang dimiliki pada periode titik tengah. Saya, Anda di titik kiri dengan kesadaran yang dimiliki pada periode titik kiri. Maka dari itu, mungkin dapat dijadikan semacam justifikasi, proyek ilmu pengetahuan lompatan waktu yang dicanangkan oleh manusia, belum menemui titik akhir. Akankah menemui titik akhir ketika manusia mengklaim ilmu pengetahuan tidak memiliki batas? Pertanyaan selanjutnya adalah apakah waktu merupakan sesuatu yang dikontrol dan dikuasai oleh manusia? Sehingga seorang ilmuwan pun dengan bangganya menyatakan bahwa sebentar lagi manusia dapat melancong ke masa lalu, masa depan dan melihat sesuatu yang bernama kehidupan.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Waktu berjalan secara linier, setelah dipikir dalam-dalam, menjadi pandangan yang terlalu materialistik, menegasikan esensi sesuatu yang manusia namakan ‘waktu’ dan tandai melalui jam tangan. Waktu memiliki sesuatu. Dan sesuatu dari entitas yang bernama waktu ini merupakan ‘sesuatu yang memiliki makna dan kemampuan untuk dijangkau atau dilampaui’. Pernahkah Anda mengalami de javu?&lt;br /&gt;            Perkembangan dunia titik tengah, sebagaimana dijelaskan dengan panjang lebar oleh Einstein, Nietzsche, dan Waktu, tidak terlepas dari lingkaran transformasi komoditas yang dikhawatirkan akan kekal. Mari kita simak, musik apa yang kita dengarkan saat ini. Mari kita simak, hari ini, teori apa yang kita telan mentah-mentah. Coba cermati lebih dalam, tanda apa yang kita kenakan di organ jasmaniah manusia yang fana ini. Apakah semuanya terlepas dari sejarah? Apakah semuanya berdiri sendiri dan tidak terpengaruh oleh masa lalu? Ya, kehidupan materialistis dan idealisme semakin menunjukkan bahwa waktu tidak berjalan dengan linier. Hal tersebut saya pahami sejauh yang diperbincangkan bukanlah waktu pada dirinya sendiri, melainkan saya, Anda, manusia, masyarakat yang meluncur di papan fondasi kehidupan, yaitu waktu.    &lt;br /&gt;            Zaman sarat dengan perubahan. Bahkan pernah saya mendengar satu ucapan bijak yang menyatakan, “Satu-satunya yang tetap di dunia adalah perubahan.” Saya, Anda, manusia terus berubah, bertransformasi. Namun pertanyaannya adalah benarkah kita berubah? Atau sekedar bertransformasi dan memodifikasi remah-remah peninggalan peradaban? Dan menyalahkan waktu yang terus berubah. Mungkin, waktu tidak pernah berubah. Perubahan malah terjadi kepada manusia yang menghuni bumi yang sudah semakin tua dan semakin perlu dirawat ini.&lt;br /&gt;            Ide. Semangat. Tren pun terus berganti. Dan perjalanan yang panjang pun akan terasa sebentar ketika kita pergi bersama kawan. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan yang semakin menagih untuk dijawab pun sudah terlampau lama berkarat di ruang kepala. Waktu yang menjawab, yang memberikan keputusan. Sementara saya, Anda, tetap akan meluncur di atas papan waktu. Menunggu. Entah sampai kapan. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-111649732635908470?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/111649732635908470/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=111649732635908470' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/111649732635908470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/111649732635908470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2005/05/time-is-not-running-out.html' title='time is (not) running out'/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-111649714654237092</id><published>2005-05-19T03:01:00.000-07:00</published><updated>2005-05-19T03:05:46.550-07:00</updated><title type='text'>Sesaat Ketika Kota Telah Mati</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;Morning Aroshava&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;            Sesaat ketika kota telah mati. Hanya lampu jalanan yang bersinar redup menemani penjual nasi goreng di pinggir jalan. Sesekali lampu-lampu penerang toko yang dibiarkan menyala membuat warna kota menjadi beragam; merah, biru, kuning, bahkan hijau. Namun, di seberang jalan, masih kudengar sayup-sayup deru mesin pembangun gedung berputar mengaduk semen dan material lainnya. Terus mengaduk di gulita hari karena dipacu waktu yang tak telah disepakati dalam selembar kertas perjanjian; seolah tak mau berkompromi.&lt;br /&gt;            Sesaat ketika kota telah mati. Tak kudengar bunyi berisik penanda kehidupan. Tak pula terdengar bunyi jangkrik seperti tertulis dalam dongeng tentang indahnya kehidupan desa. Saat itu semua hilang; berbaur dengan keremangan pikir yang liar. Mata masih belum mau terpejam; meski hati sudah telelap, terlena oleh kematian kota. Dan sesaat ketika kotaku telah mati tak lagi kucium wangi perempuan, yang kucium hanyalah wangi shampo dari ujung rambutku sendiri. Tak kulihat rangkaian kata-kata sahabatku, yang meluncur, melesat, menukik, atau kadang berhenti di tengah terpaan zaman. Tak kuendus kampusku yang selalu ramai dan membawa cerita tersendiri.&lt;br /&gt;            Waktu seolah berjalan lambat di malam hari. Saat itu, waktu tak banyak berarti. Ia hanyalah sekumpulan detik, menit, dan jam, yang bercampur dengan aroma kelelahan manusia ibukota. Tak banyak yang bisa dilakukan. Oleh karenanya, itulah yang selalu dijelaskan ibu mengapa ketika kecil aku dibiasakan tidur di malam hari, dan bangun di kala subuh. Tuhan juga tak memperdengarkan seruan-Nya di malam gulita, baru esok subuhnya kudengar lagi lewat pancang pengeras suara di masjid. Malam melahirkan kesepian bagi manusia-manusia yang mencoba terbangun.&lt;br /&gt;            Lalu apa yang bisa dipetik dari sebuah malam? Kesepian, ketakbergunaan, atau kesuraman? Sesaat aku mengamati alur rel kereta api yang ada di stasiun, tak jauh dari tempat tinggalku. Biasanya, di pagi, siang dan sore hari, rel ini tak pernah berhenti digilas ribuan manusia yang berkumpul dalam gerbong panas tujuan Jakarta-Bogor. Lalu di malam ini, rel itu hanya terbujur dingin, tak terjamah roda-roda kereta api. Waktu telah melingkar dalam diri manusia; mencengkeram kokoh, hingga manusia berlari seperti dikejar waktu. Tak heran jika di tiap pagi, siang, dan sore mereka berpacu mengejar kereta api. Namun, di malam hari seolah kesibukan itu lenyap.&lt;br /&gt;            Waktu terus bergerak, mengikat manusia, menjadikan manusia budak waktu. Namun, ternyata di malam hari ini kutemukan kesan lain. Justru waktu di malam hari yang akan mebebaskan manusia. Malam hari membebaskan manusia dari ketakutan tidak bisa mengejar kereta untuk pergi ke kampus seperti waktu perkuliahan yang telah ditetapkan. Malam hari membebaskan manusia dari kecemasan untuk ingin segera pulang memeluk anggota keluarga. Malam hari membebaskan manusia dari kejaran deadline tugas yang menjemukan.&lt;br /&gt;            Ya, di malam hari kita bisa mengungkapkan dan berekspresi tanpa terjamah waktu. Seolah takkan berakhir.&lt;br /&gt;            Sesaat ketika kota telah mati. Aku menemukan kedamaian dalam kesepian. Aku menemukan waktu-waktu yang perawan, bergerak leluasa tanpa dicampuri kegelisahan peradaban. Mungkin itu pula yang melanda orang-orang di sekelilingku yang telah terpekur dalam pelukan guling. Mereka damai setelah seharian diintervensi waktu. Sesaat ketika kota telah mati. Hawa malam kini bisa membebaskan dirinya, dari partikel-partikel pekat yang mengandung karbon. Hawa malam berhembus tenang, seperti ia menghempaskan daun-daun dengan sangat perlahan. Tak ada lagi intervensi waktu yang rumit arahan modernitas.&lt;br /&gt;            Night will set you free. Ya ‘kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;margonda, dua puluh satu april dini hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-111649714654237092?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/111649714654237092/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=111649714654237092' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/111649714654237092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/111649714654237092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2005/05/sesaat-ketika-kota-telah-mati.html' title='Sesaat Ketika Kota Telah Mati'/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-111238403762557530</id><published>2005-04-01T11:31:00.000-08:00</published><updated>2005-04-01T11:33:57.626-08:00</updated><title type='text'>_prolog</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Aku hanyalah sepotong angin.Yang berhembus ketika Sang Prima menghendakiku. Yang bertiup tatkala malaikat membisikkan satu kata kepadaku. Aku menghampiri engkau di sepanjang jalan dan sudut kota yang gelisah.&lt;br /&gt;Aku hanyalah secuil cerita kehidupan ini. Aku tak punya makna lebih, selain lembayung sore yang kuhembus dari padang rumput. Aku menyelaraskan detak jantung yang berdegup, membuat iramanya menjadi lebih syahdu. Aku meratakan kemarahan di atas bibir tipis yang dikecup. Pula meredakan risau dalam nyiur belaian rambut yang menenangkan.&lt;br /&gt;Aku datang bersamamu untuk mengirimi sepotong senja. Pada hati yang kaupertanyakan. Pada sebuah keabadian yang hendak engkau tuju. Remuk redam jiwamu; merintih dalam pertanyaan yang kalian jawab berdua.&lt;br /&gt;Aku adalah titah utama kehidupan ini. Adanya aku karena kalian menginginkanku. Kadang, sembari memandang bintang di langit malam, kalian memanggilku. Pelan-pelan aku datang untuk memberi nafas pada racauan yang kau ucap di malam itu agar sedikit lebih berarti. Lalu aku melelehkan benteng ego yang kau rajut sekian lama. Hingga tatap lekat itu tak pernah lepas, memberimu pertanda agar engkau tetap tinggal. Remuk redam hatimu; melebur dalam kebahagiaan dan rasa sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku: hanyalah angin. Sebentuk oksigen yang melintasi ruang gravitasi bumi. Mungkin engkau tidak pernah tahu dari mana aku berasal, karena aku memang tidak untuk dipertanyakan.&lt;br /&gt;Bahkan aku tidak mempunyai eksistensi yang nyata. Sudah kubilang: aku bertiup tatkala malaikat membisikkan satu kata padaku.&lt;br /&gt;: cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; (bagaimana cinta berhembus_ inthemorning)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-111238403762557530?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/111238403762557530/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=111238403762557530' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/111238403762557530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/111238403762557530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2005/04/prolog_01.html' title='_prolog'/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-111238040169036009</id><published>2005-04-01T10:31:00.000-08:00</published><updated>2005-04-01T10:33:21.693-08:00</updated><title type='text'>part1: uncut-uncensoredversion of mONo</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;(&lt;em&gt;Sembari keinginan untuk mengerjakan tugas kuliah dan keinginan untuk melupakannya masih bertarung dalam kepala, dengan apologi pemanasan menulis&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan yang masih sangat berpotensi sangat besar untuk dibuang dalam kantung recycle bin yang menggoda. Tulisan yang masih sangat mungkin untuk diobrak-abrik sesuka hati. Tulisan yang mencoba menggugurkan hipotesa Edwin, bahwa kamar dan PC pribadi adalah pasangan yang sangat pas untuk menulis. Walaupun saya akui, hal tersebut tentulah sangat subjektif dan tidak dapat digeneralisir. Tulisan yang mencoba berbicara tentang cinta. Kenapa “mencoba”? Karena ini adalah medan eksperimentasi yang membebaskan relung hati dan pikiran untuk keluar dari dogma kemalasan serta rutinitas roda kehidupan yang semakin menghimpit zaman. Cinta yang paradoks karena aku sendiri sudah merusak sesuatu yang bernama “cinta” itu. Hubungan selama 3 tahun lebih yang kandas di awal bulan Maret 2005, mungkin menurut Akulaila, tanggal perpisahan kita sudah dilalui dari dulu, mungkin jauh sebelum awal Maret 2005. Baik, mari kita mulai saja dan mulai merengkuh ruang kontemplasi tak berujung yang kadang tidak menyisakan apa-apa, selain keinginan untuk mati...atau hidup.&lt;br /&gt;Cinta.... Huh, tema yang sulit dituliskan namun sudah lama diidamkan. Dari mana saya harus memulai? Dari mana saya akan memulai? Mungkin, menceritakan seorang perempuan yang belajar tentang hidup dan aku sia-siakan. Kepada perempuan yang terlampau gaduh berteriak dan sepi meronta untuk hidup. Perempuan yang (pernah, mungkin masih) aku sayangi, aku cintai. “Bodoh, sudah membicarakan cinta pada usia 20,” ujar seseorang yang aku karang sendiri. Lalu aku menjawab, “Peduli setan.” Ya, aku peduli pada setan. Ya, aku peduli pada malaikat. Dan ya, aku mencintai perempuan itu. Aku menyayangi perempuan itu. Tidak butuh teori. Tidak butuh paradigma. Tidak butuh pendekatan strukturalis. “Cinta itu sederhana,” ucap perempuan itu. Perempuan yang aku sayangi (sepenuh hati, mungkin, karena aku pun pernah mengatakan padanya kalau aku khawatir isi hati ini tidak terisi penuh oleh bayangan perempuan yang aku sayangi itu). Atau aku akan mencoba membuat puisi? Sesuatu yang disukai oleh perempuan itu. Atau aku akan mencoba membuat cerita pendek dan jenis karya sastra lainnya seperti morning aroshava atau in the morning? Sesuatu yang juga disukai perempuan itu. Atau aku biarkan saja lengan ini bergerak, meraba-raba tuts-tuts papan kunci komputer, merangkai huruf demi huruf hingga terjalin kata, kalimat, paragraf, dan akhirnya satu tulisan yang utuh. Utuh? Aku tidak pernah berharap sesuatu akan berjalan dengan utuh, dengan berusaha jujur atau, “sekuat hati,” mengutip dari Ada Band, referensi baru bagi hiburan audio.     &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-111238040169036009?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/111238040169036009/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=111238040169036009' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/111238040169036009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/111238040169036009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2005/04/part1-uncut-uncensoredversion-of-mono.html' title='part1: uncut-uncensoredversion of mONo'/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-111238028486589087</id><published>2005-04-01T10:30:00.000-08:00</published><updated>2005-04-01T10:31:24.916-08:00</updated><title type='text'>part2: "the man who would killed for love"</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;strong&gt;[mONo]&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;“&lt;em&gt;She looks like the real thing. She tastes like the real thing, my fake plastic love.&lt;br /&gt;But i can’t help the feeling. I could blow through the ceiling.&lt;br /&gt;If i just turn and run, and it wears me out.&lt;br /&gt;If i could be who you wanted all the time..”&lt;/em&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7830037#_edn1" name="_ednref1"&gt;[i]&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya tidak ingin menulis hal yang biasa tentang cinta. Sebenarnya saya ingin sekali memberikan perspektif baru mengenai cinta. Sebenarnya energi saya belum habis untuk berusaha lebih jauh mengetahui sesuatu yang bernama cinta. Sebenarnya saya ingin menulis yang bombastis. Sesuatu yang menawarkan pemikiran alternatif dari konsep cinta. Namun diskusi yang, mungkin, terlampau sering terjadi, pencarian referensi dan materi bacaan yang semakin tergerus oleh reading kit dan fotokopian kuliah, pengalaman pribadi yang cukup memberikan bekal, dan amunisi ide yang tidak sempat digunakan, menjadi petunjuk yang menunjukkan bahwa, sebagaimana yang selalu dikatakan oleh Akulaila dari dulu, “Cinta itu sederhana.”&lt;br /&gt;Saya sebenarnya agak gelisah untuk membahas cinta. Karena saya tidak mengerti sesuatu yang bernama “cinta”? Mungkin. Kata orang, entah siapa karena saya hanya mengandalkan kemampuan otak untuk menampung memori ingatan, cinta itu tidak bisa didefinisikan, cinta itu hanya bisa dirasakan dan diungkapkan. “Apa kamu tahu kalau menurut para ilmuwan, cinta itu hanya akibat interaksi hormon tertentu...kamu percaya itu? Aku terlalu mencintaimu hingga aku tidak peduli akan itu...,” ujar seorang pengirim kata-kata yang terbenam dan termediasi dalam rangkaian sinyal elektronik SMS di inbox telepon selular ringkih 5510.&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7830037#_edn2" name="_ednref2"&gt;[ii]&lt;/a&gt; (Entah mengapa untuk sesuatu yang sengaja aku sembunyikan, tulisan ini semakin sulit untuk dilanjutkan). Gelisah karena cinta tidak mudah didefinisikan. Saya gelisah karena saya tidak begitu mengenal cinta. Mungkin, setiap hari saya dilanda cinta. Dan mungkin, sesering itu pula, saya tidak menyadari bahwa saya sedang merasakan, menikmati cinta. Kadang, tiba-tiba, ada sesuatu di jantung yang terasa bergerak halus atau bahkan super cepat yang memaksa darah untuk memompa oksigen lebih cepat. Jantung bergerak super cepat dan terdengar seperti hentakan beat drum yang mendamba speaker berdaya maha dahsyat untuk menyampaikan suatu pesan (signified/signifier) kepada seseorang atau zat yang melebihi seseorang. Atau perasaan resah, gundah tidak beralasan yang menginterupsi sedetik, semenit, atau apapun satuan waktu dalam ruang order-chaos kehidupan. Resah, gundah yang memaksa manusia untuk sejenak menghentikan perlombaan lari marathon kehidupan. Entah apa selanjutnya yang terjadi. Sungguh, saya merasa tidak berkompetensi untuk meramalkan itu semua.&lt;br /&gt;Atas nama sesuatu yang bernama cinta, mungkin, orang akan melakukan segalanya. Tentu saja tidak selalu dalam definisi atau pengertian hubungan cinta individu per individu, yang mungkin terlalu sempit untuk didefinisikan dalam kata “pacaran” atau apabila menggambarkan hubungan cinta tersebut dalam ranah keluarga, teman, dan saudari-saudara. Bagaimana dengan cinta akan kebenaran? Bagaimana dengan cinta tanah air? Kebenaran memang patut dicintai. Kebenaran apapun itu. Karena kebenaran, hidup manusia dapat terpasung kokoh dan merasa “aman” untuk melanjutkan hidup, tentu saja bagi Anda semua yang mengklaim, mempercayai, dan berhenti mencari kebenaran. Cinta tanah air? Mungkin hanya cocok dalam konteks mata kuliah Kewarganegaraan karena mengajukan alasan seperti negara berpotensi besar menjadi sebuah kebohongan besar dalam sejarah manusia adalah sebuah kemungkinan yang rasional. Lalu apabila tidak ada negara, bagaimana masyarakat dapat hidup? Jangan bertanya kepada saya. Tanya saja diri Anda sendiri. Kenapa tidak berhenti bertanya dan mulai bercinta?      &lt;br /&gt;Apakah itu cinta? Apakah ini cinta? Sebagai contoh kecil, mungkin, sebenarnya saya, Anda, dan orang lain tidak perlu repot-repot mencari definisi cinta serta cukup menerima bahwa keinginan (perasaan) untuk memiliki dan memiliki orang lain adalah cinta. Apakah prasyarat untuk bercinta adalah memiliki orang lain atau sesuatu lain? Ini permasalahan lain, karena, hingga hampir bosan mengatakan dan menuliskannya, konstruksi sosial dengan bantuan desire machine telah begitu massif membentuk terminologi cinta melalui Ada Apa Dengan Cinta?, Titanic, Moulin Rouge, Romeo and Juliet, dan lain sebagainya. Meskipun demikian, dimungkinkan juga untuk mengatakan bahwa cinta adalah memang untuk memiliki, bukan sekedar “perasaan untuk memiliki”. Seperti tulisan salah seorang kawan&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7830037#_edn3" name="_ednref3"&gt;[iii]&lt;/a&gt; yang dengan melakolisnya menyatakan, “Daripada aku tidak memiliki yang kucinta, lebih baik aku mati.... “Perasaan memiliki tidak cukup untukku. Bagiku cinta adalah Memiliki....”&lt;br /&gt;Ada satu benang merah yang dapat dijadikan bahan kontemplasi dari berbagai hiburan audio-visual-kinetik-mekanik-dinamik-dramatik di atas dan menjadi salah satu nilai dalam cinta, yaitu pengorbanan. (Huh, tulisan ini semakin sulit dilanjutkan). Pengorbanan, lagi-lagi menimbulkan permasalahan definisi, yang konon katanya, mampu menembus batas rasionalisasi dan menjadi satu-satunya lahan bagi benih relativitas agar dapat mekar ranum. Pengorbanan akan cinta yang naturalistik dan membongkar selimut rekaan kapitalisme. Pengorbanan yang menciptakan hubungan manusia dalam arti nyata. Ya, tetapi itu semua akan menjadi sulit bagi kita-kita semua yang terlanjur menyerah dan kalah. Menerima dengan apa adanya semua definisi cinta yang ditanamkan saat proses internalisasi dimulai, yaitu ketika usia dini bahkan hingga beranjak dewasa dengan aktor sosialisasi yang berbeda, seperti keluarga, agama, sinetron, film, musik, majalah, koran, newsletter, peer groups. Latar belakang dan jejak sejarah memang tidak dapat dihapuskan. Namun akal, rasio, keyakinan, konspirasi licik otak kanan-kiri, dan pengalaman, tidak semestinya membuat manusia berhenti pada titik kepastian, tetapi membuat manusia semakin bergerak melaju. Karena apa? Karena manusia mampu untuk tidak pasti. (Dan cinta pun berakhir seperti paket Happy Meal Mcdonalds; ayam adalah kesetiaan; nasi adalah komitmen; kentang adalah janji sehidup-semati; berduaan sembari berpegangan tangan, berpelukan, berciuman adalah sekaleng plastik Coca-Cola yang memuaskan dahaga; pulang bareng adalah saus tomat; makan bareng adalah saus sambal; pernikahan adalah mainan boneka plastik Buzz Toy Story yang saya dapatkan waktu kecil.  Sesederhana itukah cinta?).  &lt;br /&gt;Salah seorang kawan pun,&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7830037#_edn4" name="_ednref4"&gt;[iv]&lt;/a&gt; dalam diskusi yang diharapkan tak berkesudahan, kurang lebih, pernah mengatakan, “Pacaran itu cuma status, gue cuma jadi status kalau dia (kekasih kawan –red) tuh pacaran.” Dan akhirnya, kawan tersebut di akhir perbincangan mengatakan, “Gue ingin pacaran, kayak orang dewasa. Tidak terkatakan tapi tetap cinta.” Mungkin, jawaban terakhirnya terletak pada sikap yakin, pasti terhadap cinta. Cukup. Titik. (Sesederhana itukah cinta?). Karena cinta tidak dapat disangkal. Cinta tidak dapat ditolak kehadirannya walaupun dapat ditahan. Lebih baik menyerah saja kepada cinta karena cinta itu universal. (Semakin sulit untuk dilanjutkan). Untuk kesekian kalinya setelah berbagai entitas kehidupan dikuantifikasi, fenomena cinta, setelah disetujui para pemodal pembuat souvenir atribut cinta, berlangsung dalam ranah pertemanan, keluarga, persaudaraan, dan tiba-tiba semua orang mengidap euforia bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah cinta. Love is everywhere.  Love shall set you free.&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7830037#_edn5" name="_ednref5"&gt;[v]&lt;/a&gt; Karena cinta memang ada untuk membebaskan. Bebas dalam arti nyata, seperti “kebenaran” yang setiap hari diusung, diarak dalam harian surat kabar nasional. Cinta yang memiliki dualisme. Paradoks antara hegemoni kapitalisme global&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7830037#_edn6" name="_ednref6"&gt;[vi]&lt;/a&gt; dan ekspresi diri yang naluriah. Antara kemampuan hegemoni untuk membuat cinta menjadi dangkal, parsial, sekedar komoditas dan kemampuan naluriah manusia yang rasional dan berkesadaran untuk mampu bercinta.     &lt;br /&gt;Cinta (yang) hampir selalu diidentikkan dengan perasaan. Dan ketika sedang membicarakan perasaan, sejauh pengalaman saya berbicara dan bercengkrama dengan orang lain, orang tersebut atau bahkan saya akan melakukan gerak motorik bahwa perasaan terletak di organ dada manusia. Hal ini pun, berkat kebetulan sejarah yang luar biasa, akhirnya didekonstruksi oleh seorang kawan&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7830037#_edn7" name="_ednref7"&gt;[vii]&lt;/a&gt; yang menyatakan bahwa permainan “perasaan” manusia hanya berkisar di antara otak kanan dan otak kiri. Bahkan lebih lanjut, kawan tersebut menjelaskan bahkan hati nurani pun merupakan bagian dari skenario besar division of labor otak kanan dan otak kiri. Apabila begitu, maka mungkin saja pernyataan para ahli itu memang benar, cinta merupakan salah satu interaksi hormon manusia. Karena “bingung”, ketidaksabaran menunggu jawaban akhir, dan memilih jawaban dari konstruksi sosial, saya akan berhenti memperdebatkan asal-usul perasaan. Karena yang menjadi perhatian adalah apakah cinta itu? Apakah itu cinta? Apabila membicarakan perasaan maka sesuatu lainnya yang bernama bahagia, sedih, murung, ceria pun adalah perasaan. Lalu apa yang membedakan cinta dengan segenap macam perasaan yang telah disebutkan tadi? Jujur saya, saya pun tidak tahu. (Dengan kekhawatiran, tulisan ini tidak akan menghasilkan “apa-apa”, selain racauan di sore hari dan subuh menjelang pagi hari. Dan saya masih dalam keadaan tidak baik-baik saja.).&lt;br /&gt;                  &lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7830037#_ednref1" name="_edn1"&gt;[i]&lt;/a&gt; Radiohead, Fake Plastic Trees, The Bends.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7830037#_ednref2" name="_edn2"&gt;[ii]&lt;/a&gt; Perempuan yang serius mempelajari kehidupan dan sudah terbang bebas lepas dari pekat serta pedih “makan hati”. Terima kasih. &lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7830037#_ednref3" name="_edn3"&gt;[iii]&lt;/a&gt; Seorang kawan laki-laki penggemar nomor sial yang menyaksikan performa The Prodigy dalam angan belaka.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn4" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7830037#_ednref4" name="_edn4"&gt;[iv]&lt;/a&gt; Seorang kawan perempuan yang memiliki saudara kembar dan sedang mencari orang yang “baik” serta “tepat”.  &lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn5" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7830037#_ednref5" name="_edn5"&gt;[v]&lt;/a&gt; Perkataan Re kepada Rana dalam salah satu dialog novel Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Entah halaman berapa.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn6" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7830037#_ednref6" name="_edn6"&gt;[vi]&lt;/a&gt; Buah tangan dari seminar yang pernah saya ikuti di kampus dengan latar langit yang muram durja. Pandangan yang, menurut saya, sangat strukturalis dan menafikan kebebasan manusia.&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-endnote-id: edn7" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7830037#_ednref7" name="_edn7"&gt;[vii]&lt;/a&gt; Seorang kawan laki-laki penghisap rokok Djarum Super dan hampir selalu terlihat riang. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-111238028486589087?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/111238028486589087/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=111238028486589087' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/111238028486589087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/111238028486589087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2005/04/part2-man-who-would-killed-for-love_01.html' title='part2: &quot;the man who would killed for love&quot;'/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-111237978074082822</id><published>2005-04-01T10:21:00.000-08:00</published><updated>2005-04-01T10:23:00.746-08:00</updated><title type='text'>cinta. cinta. (men-cinta, bukan di-cinta)</title><content type='html'>“Apakah cinta itu sebuah seni? Jika memang demikian halnya, maka cinta memerlukan pengetahuan dan perjuangan. Ataukah cinta itu hanya sebentuk perasaan menyenangkan yang dialami, sesuatu yang membuat kita tercebur ke dalamnya jika sedang beruntung?”&lt;br /&gt;Erich Fromm- The Art of Loving&lt;br /&gt;         Mari bicara tentang cinta: sebuah perasaan indah yang mengusik. Mengusik sekaligus menarik untuk ditelisik. Cinta tak hanya berhenti pada tataran yang banal. Cinta diartikulasikan oleh manusia dalam banyak hal. Cinta mungkin tak sekedar lagu-lagu yang terserak di MP-3 atau roman picisan. Bob Marley, bahkan, tak hanya berhenti pada tahap mencinta. Lewat Rastafarian Marley mensosialisasikan ideologi pasivis yang damai, penuh cinta dan pengabdian kepada Jah, sang roh tunggal. Langkah yang hampir serupa ditiru pemusik dalam negeri, Slank yang mengubah Piss menjadi Plur: peace, love, and unity. Di sisi lain, salah seorang pengikut industri musik, Jewel, mencoba menjadi lebih cerdas dengan mengekspresikan cinta dengan mengungkapkan keprihatinannya terhadap kaum papa. Belakangan Jewel dengan irama cintanya malah mempertanyakan eksistensinya di era postmodern, “In a high-tech digital world ,I really try to understand, all the powers that rule this land…in a world of postmodern fad, what was good now is bad”&lt;br /&gt;            Sebuah pengalaman tentang kehilangan cinta mungkin akan sedikit menggambarkan tentang kegalauan cinta: “Apakah ini, cinta yang aku tunggu? Apakah mungkin aku menunggu cinta yang tak berwujud nyata. Aku harus memilih atas kehilangan cinta ini: menempuh ribuan batu terjal atau berjalan tegak.” Mari bicara cinta (lagi). Kalau menelisik quote dari Erich Fromm di atas, ada beberapa hal yang bisa diinterpretasikan. Fromm sendiri mengartikan bahwa pernyataan pertama –yang menyatakan bahwa cinta adalah seni- mempunyai makna yang lebih dalam, karena terdapat kemampuan untuk mencintai dan mempertahankan cinta. Sedang pernyataan yang kedua, merupakan pendangkalan akan arti cinta. Akibatnya, orang terfokus pada masalah bagaimana kita terus dihinggapi cinta, dan lebih memperhatikan objek cinta: seseorang atau sesuatu yang dicintainya, tanpa melihat bagaimana cinta adalah sebentuk kemampuan yang bisa diolah. Kalau saya, dengan mempertanyakan apakah cinta adalah sebuah seni, justru menarik kembali pertanyaan: apakah cinta adalah sebentuk konstruksi? Jika memang cinta adalah sebuah seni yang memerlukan pengetahuan dan perjuangan, maka ia adalah konstruksi yang dibangun dengan cara mengembangkan kemampuan mencintai. Sedang jika cinta adalah sebuah chemistry, blessing, maka ia bukanlah sebuah konstruksi, ia adalah anugrah yang datang dalam kehidupan kita tanpa harus kita cari dan kita perjuangkan: cinta seperti air yang mengalir dalam arus sungai, ya tinggal ikuti saja arusnya. Salah satu alternatif lain adalah meletakkan cinta sebagai perpaduan antara dua hal tersebut: cinta adalah sebuah blessing, namun juga sebentuk konstruksi yang harus kita bangun dan pertahankan.&lt;br /&gt;            Antara chemistry, blessing dan keinginan untuk membangun cinta. Ya, mungkin seperti itu bentuk cinta. Dengan memperhatikan dua hal di atas: cinta diejawantahkan manusia dengan cara yang berbeda-beda, dan cinta adalah sebuah seni yang juga memerlukan perjuangan untuk menggapainya, maka pertanyaan tentang cinta kemudian dimunculkan. Bagaimanakah sebuah cinta dimaknai? Bagaimanakah manusia modern yang hidup dengan aroma rasionalitas dan kedigdayaan sains yang rigid, bisa memetik cinta? Apakah kondisi yang sulawan (baca: paradoks) antara rasionalitas dan cinta yang dihadapi manusia mendistorsikan arti cinta? Atau, justru dari kondisi yang saling berlawanan itu muncul sebuah bentuk cinta yang khas? Tentu cinta yang akan dibahas di sini bukan hanya cinta antara dua pasang manusia, namun juga melihat cinta sebagai sebuah perasaan yang melanda manusia dalam sisi kehidupannya yang lain.&lt;br /&gt;Untuk menjustifikasi bahwa cinta adalah perasaan yang mendasar, saya ingin melihat bahwa cinta merupakan jawaban atas problem eksistensi manusia. Ketika manusia dilahirkan, dia tak ubahnya terlempar dari suatu keadaan yang pasti dan jelas, untuk kemudian memasuki dunia yang tidak jelas dan tidak pasti. Pengalaman keterpisahan dari suatu keadaan nyaman (dalam kandungan) membuat manusia merasa cemas. Rasa cemas dari keterpisahan itu kemudian teratasi dengan hadirnya sang ibu yang mendekap dan memberikan air susu yang membuatnya nyaman. Problem eksistensi akan muncul setelah sang anak terpisah dari ibunya, setelah ia beranjak dewasa dan otaknya mulai berkembang. Rasa keterpisahan itu kemudian menimbulkan hasrat untuk mencari eksistensinya lewat berbagai cara. Manusia mendekap sesuatu untuk mengatasi kesendiriannya. Inilah yang menjelaskan cinta manusia terhadap bangsanya, sukunya, adik atau kakak, hobi atau pekerjaannya, dan cinta terhadap pasangan hidupnya. Ketika manusia merasa eksis dengan hobi membacanya -mungkin untuk mengisi kesepian waktunya, maka ia akan terus mengguratkan bacaan dalam hati dan pikirannya. Ketika manusia merasa eksis dengan keberadaan bangsanya, atau suku bangsanya –untuk mengisi kesepian dan kekosongan identitasnya, maka jiwa patriotiknya akan terus tumbuh mengisi hatinya. Dan ketika manusia merasa kesepian dengan hasrat dan kebutuhan untuk berbagi, maka merajut cinta dengan kekasih adalah sebuah hal wajar yang menyangkut eksistensi manusia. Oleh karena itu tak aneh jika Robbie Williams menyebut : let love be your energy, karena energi untuk hidup, untuk eksis, bisa diperoleh lewat cinta.&lt;br /&gt;            Cinta, saat ini, menjadi kata yang sangat mudah diucapkan. Erich Fromm menyebutkan bahwa dalam masyarakat modern cinta dilihat pada persoalan dicintai daripada kemampuan mencintai. Oleh karena itu pertanyaannya bergeser menjadi bagaimana untuk dapat dicintai, bukannya bagaimana mengeksplorasi sebuah kemampuan memberi sebagai bagian dari mencinta. Orang-orang cenderung mencocok-cocokkan dirinya dengan objek cinta, kemudian terus berpikir: bagaimana agar saya dapat terus dicintai? Dalam akumulasi gaya hidup di mana cinta adalah salah satu di dalamnya, krisis kepribadian bisa menjadi salah satu akibatnya. Reduksi diri ini muncul akibat setiap orang ingin tampil menarik. Menarik dalam interpretasi orang kebanyakan. Tampil menarik di sini juga mengandung unsur rasionalitas, karena melibatkan suatu tujuan fungsional yang hendak dicapai. Oleh karena itu, ini bisa menjelaskan mengenai kelangsungan bisnis perawatan tubuh yang terus berkembang sampai saat ini. “Siapa, sih, yang tidak mau pacarnya bebas dari jerawat, kulitnya putih bersih, berat badannya ideal, pintar pula.” kata teman saya pada suatu ketika. Setiap orang ingin tampil sempurna di depan pasangannya, agar ia terus dapat dicintai. Agar ia tak kehilangan daya tarik. Ah.&lt;br /&gt;            Kemampuan mencinta di sini, menurut saya, adalah kemampuan untuk memberi. Memberi dalam arti yang sangat luas, bukan sekadar memberi dalam arti materi dan fisik. Memberi juga bukan berarti kepasrahan, karena kepasrahan adalah suatu bentuk tirani logika yang membelenggu seseorang. Kegiatan memberi semacam ini, menurut Fromm, dihasilkan dari pribadi yang berorientasi eksploitatif. Memberi dapat dilihat sebagai sebuah kegiatan produktif juga ketika kita memberi dengan tanpa pengharapan berlebih sebagai bentuk aktualisasi rasa cinta, ekspresi dari luapan cinta. Dalam konteks memberi semacam ini, memberi bisa berarti lebih menggembirakan daripada menerima.&lt;br /&gt;            Memberi: tak hanya memberi kado atau bingkisan malam Minggu. Memberi adalah kegiatan yang universal, seperti seorang lelaki memberi waktu di tengah kesibukan pada kekasih, atau pada orang yang kita kasihi lain. Seperti ketika memberi harapan, memberi cerita, memberi energi dengan saling men-support atau memberi sebuah kenang-kenangan indah yang tak akan terlupakan dalam hidup.&lt;br /&gt;            Bagaimana jika kegiatan mencinta ini disandingkan dengan rasionalitas? Hubungan ini terlihat misalnya ketika menengok judul sebuah artikel di majalah Hai, “Jatuh Cinta, Harus Pakai Logika”. Haruskah perasaan jatuh cinta dikendalikan? Perbedaan-perbedaan mungkin menjadi bahan pemikiran kita apakah terus mencinta atau tidak. Cinta, saat ini, menjadi terobotasi dengan adanya institusi cinta yang bernama pernikahan. Sehingga sangat wajar kalau kita berbicara mengenai institusi cinta, harus disertai rasio, karena bagaimana pun hal tersebut menjadi sebuah sistem yang kekal hingga saat ini. Itulah paradoks yang –lagi-lagi membawa kepada romantisme zaman pramodern-  hidup dalam sanubari cinta masyarakat modern. Memandang cinta sebagai sebuah insting, sebuah seni, dan sebuah energi , bukan sebuah sistem yang telah terobotasi, menurut saya jauh lebih menarik dan hidup.&lt;br /&gt;            Dalam sebuah milis yang saya ikuti, pernah terjadi perdebatan seru mengenai cinta. Beberapa pernyataan yang sempat menghiasi e-mail saya adalah  “Hakikat cinta adalah pembebasan”, lalu dibalas dengan pernyataan, ”Mana mungkin ada pembebasan penuh dalam cinta. Bullshit!! Cinta itu penuh dengan komitmen. Mana mungkin gue ngomong ke pacar gue kalo kita saling membebaskan. Bisa-bisa, dia ngelaba terus.” Diskusi itu kemudian ditutup sementara dengan pernyataan, “Sudahlah, cinta itu nggak dirasionalisasi. Cinta, ya cinta aja. Cinta itu unik, nggak sama bagi semua orang” Jelasnya, seorang teman benar-benar menutup perdebatan dengan kata kunci, “Cinta itu adalah misteri.” Katanya, “Kenapa loe bisa jatuh cinta sama seseorang, apa karena penampilannya, apa karena kedewasaannya, atau hal yang lain? Itu nggak bisa dijelaskan seperti memahami grafik antara dua atau beberapa variabel.” &lt;br /&gt;Kata-kata yang cukup menohok adalah “cinta adalah misteri”. Cukup. cukup. Sepertinya pernyataan ini menghancurkan upaya men-filsafat-kan cinta atau men-teori-kan cinta yang diutarakan di awal tulisan ini. Bagaimana sekuat atau seargumentatif teori tentang cinta, tak dapat menampik irrasionalitas cinta. Mungkin benar kata teman saya di malam gulita yang bermuarakan pikir dan rasa: cinta adalah sebentuk perasaan, sebuah hal yang sederhana tanpa perlu dirasionalkan. Seperti yang dikemukakan di awal, cinta adalah perpaduan antara konstruksi dan chemistry, maka tulisan ini tidak hendak bermaksud menjebak dalam teori cinta. Namun semua penjabaran tentang apa itu cinta, bagaimana cinta dimaknai, adalah sedikit upaya membuat cinta tidak dimaknai secara banal.   &lt;br /&gt;            Mari bicara cinta dalam objek yang berbeda. Ada sejuta kehidupan yang menanti cinta. Kemampuan cinta adalah juga sebuah bentuk dedikasi kepada sesuatu. Mother Theresa, adalah salah satu bentuk sang pecinta yang tak henti mengabdi pada kemanusiaan. Sejak tahun 1948, Mother Theresa keluar-masuk perkampungan kumuh India. Ia mengunjungi keluarga-keluarga, membasuh borok dan luka beberapa anak, merawat seorang bapak tua yang tergeletak sakit di pinggir jalan dan merawat seorang wanita sekarat yang hampir mati karena kelaparan dan TBC. Cinta Mother Theresa tetap abadi dalam jiwa “mereka yang terbuang, yang teracuhkan, yang tak dikasihi”.  Begitulah cinta Mother Theresa, yang tak sekadar dipusingkan dengan bagaimana agar dicintai, melainkan bagaimana mengembangkan kemampuan untuk mencintai. &lt;br /&gt;            Oleh karenanya, mari men-cinta. Cinta tidak perlu dicari, tidak perlu dicocokkan. Cinta yang produktif, seperti kata Aa Gym, lakukan dari sekarang, lakukan dari diri sendiri, dan lakukan dari yang terkecil. Cinta yang produktif akan senantiasa memberi, bukan gelisah. – And not to worry 'cause worry is wasteful, and useless in times like these, I won't be made useless, I won't be idle with despair, I will gather myself around my faith, for light does the darkness most fear- Hands&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_inthemorning&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-111237978074082822?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/111237978074082822/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=111237978074082822' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/111237978074082822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/111237978074082822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2005/04/cinta-cinta-men-cinta-bukan-di-cinta.html' title='cinta. cinta. (men-cinta, bukan di-cinta)'/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-110900156080628825</id><published>2005-02-21T07:58:00.000-08:00</published><updated>2005-02-21T07:59:20.813-08:00</updated><title type='text'>[amerika]</title><content type='html'>“...compromise, conformity, assimilation, submission, ignorance, hypocrisy, brutality, the elite.... all of which are american dream.”&lt;br /&gt;-know your enemy, rage against the machine-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amerika Serikat (AS), negara yang apakah masih pantas disebut sebagai negara. Negara dimana jutaan mimpi manusia tengah menunggu untuk direalisasikan atau malah dikandaskan. Tanah kebebasan yang melegitimasikan diri sebagai polisi dunia dan tameng demokrasi. Pengertian AS tidak digeneralisasi menjadi satu AS. Pemerintah dan rakyat merupakan dua hal yang berbeda walaupun sistem perwakilan meniscayakan aspirasi rakyat diakomodasi oleh lembaga legislatif maupun eksekutif. Pemerintah AS di satu sisi dan rakyat AS di sisi yang lain. Siapakah yang menjadi polisi dunia? Siapakah yang dimaksud dengan AS dalam spanduk aksi bertuliskan, “Go To Hell, America.” Pemerintah atau rakyat?&lt;br /&gt;Tidak adil rasanya menyalahkan seluruh rakyat AS atas perbuatan kekerasan yang dilakukan oleh militer AS. Hubungan antara rakyat dan pemerintah AS memang tidak seperti hubungan antara Leviathan dan Liliput dalam konsep Thomas Hobbes, dimana rakyat tidak memiliki hubungan dengan negara dan negara beroperasi tanpa campur tangan rakyat. Demokrasi liberal yang diterapkan AS menempatkan eksekutif, melalui sistem presidensil, dimana kepala negara dan kepala pemerintahan adalah presiden, dan legislatif, melalui sistem parlementer atau kongres yang berisi perwakilan dari berbagai negara bagian, sebagai dua lembaga negara yang memiliki tugas, diantaranya adalah untuk menampung dan menyalurkan aspirasi rakyat serta mengusahakannya menjadi kenyataan. Meskipun demikian, permasalahan tidak lantas menjadi jernih dan mudah diidentifikasi. Berbagai kegiatan AS tidak hanya menjadi persoalan dalam negeri tetapi juga luar negeri. Apa yang diinginkan oleh rakyat AS merupakan keinginan yang mewujud dalam pedang bermata dua, yaitu keinginan untuk sejahtera dan mapan di dalam negeri maupun luar negeri. Konsekuensi demokrasi dan perjalanan kontra-linear historis menjadikan hal tersebut menjadi fenomena pada masa kini. Masa dimana yang diperdagangkan adalah informasi dan materi berjalan dalam tekstur medium.&lt;br /&gt;Apa yang tidak dimiliki AS, sebagai pemerintah maupun rakyat? Kekayaan? Jaminan keamanan? Senjata taktis operasional yang berpotensi menghancurkan peradaban masyarakat? Rasa-rasanya AS sudah memiliki semuanya. Mengapa demikian? Karena AS menetapkan standardisasi yang kemudian, melalui kekerasan simbolik maupun militer, termasuk hegemoni budaya dan politik, diinternalisasikan ke dalam negara-negara lain di dunia. Apa yang menurut AS adalah baik maka hal itu secara ‘otomatis’ menjadi kebaikan umat manusia. Arogansi ini tidak berhenti sampai di sini. Kekuatan penekan AS berlanjut sampai pada tataran eksekusi. Dan dunia pun diharapkan akan bertekuk lutut di bawah homogenitas serta konformitas hegemoni AS.&lt;br /&gt;Modernitas selalu dikatakan berasal dan berawal dari dunia Barat. Apabila yang dimaksudkan adalah perkembangan teknologi otomotif terbaru, kemajuan proses komunikasi yang melenyapkan batas ruang dan waktu, perkembangan musik rock dari hip-metal hingga emo, hal tersebut memang timbul dari Barat, yang sudah sangat terlanjur diidentikkan dengan AS dan Eropa Barat, yang kemudian dipersempit lagi dengan ungkapan Barat adalah Amerika Serikat. Namun sebenarnya, mengutip Goenawan Mohamad, Barat tidak pernah didefinisikan dengan jelas. Siapa itu Barat? Menurut salah satu pendapat dari bermacam argumen yang pernah dituliskan, istilah Barat timbul sebagai perlawanan balik (counter-attack) dunia Timur, yang terlanjur diidentikkan dengan Timur-Tengah dan sedikit Asia karena Asia relatif telah ter-Barat-kan, yang enggan menelan mentah-mentah cap Barat bahwa negara-negara yang dalam peta geografis terletak di sebelah timur Eropa dan AS ini sebagai negara-negara yang telah membuktikan ‘intoleransi Islam’, dalam pengertian Claude Levi Strauss, dikutip dari Catatan Pinggir-nya Goenawan Mohamad. Barat menjadi apologi dan generalisasi yang jelas dan relatif mudah diterima apalagi ditengah massa yang marah dan tergerus arus modernisasi yang tidak menyisakan tempat, namun menyisakan kesempatan, bagi umat yang tidak kebagian kegilaan kapitalisme dan tidak setuju dengan hukum yang bertentangan dengan ajaran agama. Barat tidak terdefinisi. Timur pun tidak terdefinisi. Namun AS menjernihkan semuanya dengan newspeak, istilah dari Noam Chomsky, penanda-penanda sarat generalisasi yang membagi dunia kedalam dua kategori, persis Marx membagi masyarakat dalam dua kelas borjuis-proletar, yaitu pro-AS dan anti-AS. Barat dan Timur. Kesimpulan yang sangat simplisistik? Memang. Walaupun memang tidak dapat dipungkiri, upaya-upaya memperkuat argumentasi dengan data-data, mutlak diperlukan dalam iklim akademis yang sarat pekat oleh ahli-ahli positivis.&lt;br /&gt;Dengan kekuatan media yang mendunia, AS menciptakan mesin humas (hubungan masyarakat) yang getol menyuarakan dan menyiarkan apa-apa saja yang sekiranya semakin mengukuhkan kekuatan AS. AS tidak pernah setuju dengan pemilihan presiden yang tanpa melalui ritual pemilu. AS tidak pernah setuju dengan pergantian kekuasaan yang dilakukan melalui kudeta. AS tidak pernah setuju apabila ada negara lain yang memiliki senjata nuklir, seperti Pakistan, Korea Utara, dan Iran, padahal AS sendiri merupakan biang kerok kegelisahan dunia. Apabila AS merasa ‘gerah’, ‘resah’, dan khawatir oleh tindak-tanduk negara lain yang ‘sepertinya’, layaknya kebijakan pre-emptive action terhadap kasus terorisme, mengancam kepentingan dalam dan luar negeri AS, lantas mengapa AS seakan mematikan rasa keterpojokan dan ketersudutan negara lain yang silau oleh kekuatan dahsyat AS, lantas negara lain tersebut mempersenjatai diri untuk berjaga-jaga, alat pertahanan-keamanan, atau alat gertak untuk memperkuat bargaining position apabila sekali waktu diancam oleh AS. Kekuatan macam apa yang tidak mau mengakui kekuatan lawan? Sepertinya adu senjata api pada zaman koboi yang mengharamkan untuk menembak dari belakang karena azas fairness, direduksi bahkan dinegasikan oleh bentuk pemerintahan modern. Karena sekarang, pada masa kini, yang terpenting adalah kuantitas. Siapa memiliki apa dan berapa banyak? Siapa yang berada di garis depan pertempuran? Kemudian pertanyaan penting yang tersirat dan terlontar adalah sehebat itukah AS?&lt;br /&gt;Apakah kekuatan media global sekaligus AS yang dikuasai oleh orang-orang Yahudi (Maaf sebesar-besarnya karena penggunaan kata “Yahudi” untuk mempersingkat definisi. “Yahudi” disini tidak merujuk dan tidak selalu bermaksudkan kepada konotasi negatif atau positif. Penulis hanya merasa kesulitan menemukan kata yang tepat untuk menunjukkan siapa penguasa media massa AS, yaitu orang-orang yang memiliki latar belakang agama Yahudi. Penempatan “Yahudi” disini (dalam konteks pro-AS) tidak menyetujui statement yang terlampau sering diutarakan kaum Puritan dan lain-lain. Menurut penulis, orang-orang yang saling berperang dan membunuh adalah orang-orang dungu, tidak peduli berasal dari agama, suku, ras, bahasa, etnis kultural atau renik identitas absolut lainnya), dikutip dari Nicholas A. Rahallus dalam artikel “Globalisasi atau Hegemoni Intelektual Global?”, melakukan kamuflase untuk melebih-lebihkan kekuatan AS, terutama militer, yang ditakuti oleh negara lain? Apabila AS mampu menciptakan keadaan sangat melebihi kenyataan dalam roman American Sweetheart dan reality show bertajuk The Osbourne, maka apa sulitnya bagi Amerika Serikat untuk membohongi masyarakat melalui siaran media? Manusia pertama yang berjalan di bulan? Pangkalan perang AS yang digempur habis-habisan oleh para mujahid bersenjatakan bom bunuh diri? Benarkah setiap anak muda di AS berperilaku seperti anak-anak muda di film Beverly Hills 90210? Lalu kita pun akan berapologi dan berkata, “Agh, itu kan hanya film.” Memang benar itu hanya film, tapi mengapa mesti menghentikan kita untuk berpikir dan curiga bahwa setiap klaim kenyataan yang dicanangkan oleh AS adalah sebentuk film juga? Simulakrum yang tidak berkesudahan karena berkorelasi erat dengan rantai hasrat yang memutar roda konsumsi. Pemikiran ini memang penuh dengan muatan prasangka dan minim data. Penulis mengakui itu. Tetapi meskipun demikian, hegemoni AS masih berlaku dalam kehidupan kontemporer saat ini. Masyarakat dunia melihat bagaimana AS memberlakukan kebijakan politik luar negeri containment policy &amp;shy;pada masa Perang Dingin yang membuat Saigon terbakar dan penolakan AS terhadap protokol Kyoto.&lt;br /&gt;Isu globalisasi dan perdagangan bebas menjadi berita belakangan ini yang menyedot perhatian media dan aktivis anarchist atau new-left, seperti EZLN (Ejército Zapatista de Liberación Nacional) di Chiapas, Meksiko dan gerakan Black Bloc di seantero dunia. Isu kini telah beralih dan terakumulatif dengan masalah-masalah dari masa lalu serta hegemoni AS semakin dipertanyakan. Mengutip pernyataan Sayyid Qutb (1903-1966), pemimpin politik dan filsuf Mesir, yang diambil dari Resist Info, “Kepemimpinan Barat di dunia sudah menuju akhir, bukan karena peradaban Barat secara material bangkrut atau kehilangan kekuatan ekonomi dan militernya, tetapi karena tatanan Barat telah memainkan peranannya dan tidak lagi memiliki “stok nilai-nilai” yang memungkinkan dominasinya.” Saat ini, AS berada dalam dua keadaan, antara kesadaran akan kekuatan yang dimilikinya dan ancaman yang ditakutinya. Dua potensi yang berjalan dalam ruang bifurkasi, dimana order dan chaos dapat timbul kapan dan dimana saja. Lepas dari berbagai analisis dan argumen mengenai peristiwa yang meluluhlantakkan gedung WTC, AS kehilangan kendali dari keadaan equilibrium atau konformitas yang diciptakannya selama ini. AS lupa bahwa kaum radikal, yang memiliki banyak sebutan, memiliki istilah rasional untuk menentang tirani (dalam hal ini, AS), yaitu, mengutip dari Chalmers Johnson, “Dua hal untuk membuat revolusi; massa yang tidak puas dan elit yang berkepala batu.” Diambil dari kata pengantar Eko Prasetyo untuk buku The Future of Revolutions.                                         &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Absurditas dan hiperealitas, hanya dua diantara keberhasilan AS dalam mengontrol komunikasi serta standardisasi dunia. Konsekuensi kemenangan sementara kapitalisme telah mewujud di AS, termasuk ideologi demokrasi liberal yang diagung-agungkan sebagai jalan terakhir kemaslahatan umat manusia. Kunci utama komunikasi adalah pengetahuan dan demokrasi liberal didaulat mampu mengakomodasikan kebebasan manusia, AS melakukan semuanya dengan baik. Kapitalisme dengan sistem pasar, distribusi, pemasaran, marketing, konsumsi bahkan sampai merasuk dalam gaya hidup, menempatkan AS menjadi palang utama arus komunikasi dunia. CNN, NBC, FOX, MTV merupakan beberapa sumber berita yang digunakan, tidak saja oleh Indonesia tetapi juga negara-negara lain untuk memasarkan mesin marketing AS beserta keunggulan produk-produknya di seluruh dunia. Perlawanan adalah probabilitas, take it or leave it? Api militansi terus dikobarkan oleh pihak-pihak yang melabelkan diri sebagai “gerakan sosial demokrat”, “kiri” atau sebutan-sebutan “radikal” lainnya. AS telah berbuat sesuatu di dunia dan layaknya hukum alam yang sulit diruntuhkan validitasnya, yaitu hukum sebab-akibat, maka AS pun akan menerima akibat dari apa yang dilakukannya. Penantian atau menunggu, mungkin tidak menjadi jawaban yang memuaskan bagi para pihak yang ‘tidak sabaran’ atau ‘radikal’. Apakah perbuatan AS tersebut akan dibayar dengan menunggu waktu? Atau masyarakat dunia akan bergerak dan memulai sesuatu agar AS membayar sesuatu untuk sesuatu yang telah diakibatkannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mONothing&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-110900156080628825?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/110900156080628825/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=110900156080628825' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/110900156080628825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/110900156080628825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2005/02/amerika.html' title='[amerika]'/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-110900145959852326</id><published>2005-02-21T07:51:00.000-08:00</published><updated>2005-02-21T07:57:39.606-08:00</updated><title type='text'>Tirani</title><content type='html'>Morning Aroshava&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Salah satu ketakutan terbesar masyarakat abad 21 adalah ketakutan akan ketidakmampuan untuk terus mengkonsumsi.”  Maaf, kali ini saya tidak sedang mengutip quote dari seorang yang sudah lebih dahulu mapan dalam galaksi perenungan, namun pernyataan di atas saya simpulkan sendiri setelah membaca beberapa literatur tentang globalisasi dan ideologi. Bagaimana tidak, konsumerisme merupakan bentuk teror baru yang benar-benar “intangible”, namun menyentuh sisi radikal manusia modern. Apa yang tersisa dari diri kita setelah lulus dari universitas? Mungkin tak ada, selain keinginan untuk bekerja dengan gaji yang melimpah untuk bekal “kehidupan” dengan pasangan hidup kita. Keinginan untuk terus mengkonsumsi merupakan akibat dari ketidakmampuan kita untuk menilai sesuatu, sama halnya ketika pengikut Nazi di Jerman kehilangan nurani untuk turut melakukan pembantaian terhadap orang Yahudi.&lt;br /&gt;Kemiskinan (dalam arti yang luas) menjadi ancaman manusia ketika semua aspek kehidupan telah diliberalisasi, sebagai salah satu bagian dari agenda globalisasi ekonomi. Globalisasi nampaknya menjadi “hantu baru” setelah komunisme di Eropa Timur, meskipun hantu itu terlihat ramah dan bersahabat. Mari kita lihat sejenak kemunculan globalisasi untuk bisa menjustifikasi bahwa globalisasi merupakan hantu baru yang tak kasat mata.&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Globalisasi, seperti dijelaskan Thomas Friedman dari New York Times adalah “…the next great foreign policy debate”. Sedang Fredric Jameson melihat globalisasi sebagai “the becoming of cultural of economic and the becoming economic of cultural”. Pendek kata, ekonomi memegang komando atas semua perilaku di dunia ini. Globalisasi merupakan paket dari sekumpulan nilai-nilai di bidang ideologi, politik, ekonomi, budaya, dan lain-lain. Propaganda globalisasi, terutama di bidang ekonomi membawa jargon free trade. Free trade ini yang kemudian menjadi nilai bersama yang diyakini bisa mengantarkan negara atau individu memperoleh kemakmuran. Globalisasi bukanlah sebuah hal yang baru. Inti dari globalisasi adalah perdagangan internasional, di mana pertukaran barang dan jasa yang makin intens dipicu kemajuan teknologi. Sejak jaman imperalisme, pertukaran barang secara internasional sudah berlangsung. Pada dekade 1980-an, semangat neoliberalisme makin menyeruak tatkala Thatcher dan Reagen terpilih sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di Inggris dan AS. Neoliberalisme inilah yang kemudian menjadi salah satu bagian dalam proses globalisasi.&lt;br /&gt;Amerika Serikat menjadi signifikan dalam globalisasi ini karena sebuah “tanda” baru telah dilahirkan: runtuhnya Tembok Berlin dan pidato Gorbachev tentang perestroika di Uni Soviet. Dua hal tersebut merupakan simbol bagi kemenangan AS atas Soviet dalam Perang Dingin, yang juga membawa simbol kemenangan demokrasi liberal atas kekuatan sosialis komunis. AS kemudian, sebagai pemenang “perang”, menjadi hegemon baru dalam struktur internasional yang unipolar. Hegemoni AS menjadi kekuatan baru yang tak terbendung.&lt;br /&gt;Merujuk pada tulisan Joseph S. Nye, Jr. kepemilikan power adalah basis kekuatan suatu negara dalam berinteraksi dengan negara lain. Nye menyebutkan dua macam bentuk power, seperti ibaratnya carrot and stick, yakni hard power dan soft power. “Jika kau nakal dan membangkang, maka akan kugunakan tongkatku untuk memukulmu, tapi jika kau seorang kelinci yang manis dan penurut, maka kugunakan wortel untuk membuatmu tetap berada dalam lingkaran kekuasaanku!” Begitu mungkin yang dikatakan AS kepada negara-negara di dunia ini, yang terbukti dengan perlakuan sadistis AS terhadap Irak (dengan dalih demokratisasi dan kepemilikan WMD) atau perlakuan manis AS terhadap banyak negara yang bersedia dan setia menjadi pengikutnya. Hegemoni AS ini membuat dunia tak ubahnya sebuah struktur yang panoptik. Yang kemudian menjadi alat propaganda AS adalah “ideologi” yang mengantarkannya pada kemenangannya semasa Perang Dingin, yakni demokrasi liberal dan kapitalisme.  &lt;br /&gt;Ideologi yang ditawarkan AS beserta sekutunya ini menggurita ke semua penjuru dunia, mungkin hanya Kuba dan Korea Utara yang masih keukeuh dengan keyakinan mereka sendiri. Struktur panoptik ini bisa dilihat dari bagaimana AS menjalankan kekuasaan di WTO, IMF, atau World Bank sebagai penyangga neoliberalisme. Antonio Gramsci menjelaskan hegemoni, termasuk hegemoni AS, dapat diciptakan melalui interaksi antara ideologi, kapabilitas material, serta institusi. Taruhlah AS mempunyai institusi macam WTO atau IMF; mempunyai ideologi yang terus disanjungnya yakni demokrasi dan kapitalisme; serta mempunyai kekuatan ekonomi dan militer sebagai penyokong kapabilitas material AS. Maka, hegemoni AS di muka bumi ini tak dapat dihindarkan. Kini, hegemoni AS bukan hanya penguasaan atas negara-bangsa, namun telah masuk ke level individu.&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Struktur panoptik membentuk sebuah tirani. Bentuk tirani yang diterapkan AS mungkin berbeda dengan tirani jaman Joseph Stalin atau pemerintahan komunisme Soviet lainnya. Tirani ini, seperti dijelaskan di awal tulisan, merupakan bentuk teror yang “intangible” alias tak terlihat, persis seperti dalil invisible hand Adam Smith. Kekuasaan AS di era globalisasi ini banyak dibentuk melalui soft power, salah satunya dengan mekanisme ekonomi.&lt;br /&gt; Dalam diri manusia, libido ekonomi telah menjadi sesuatu yang biasa, bahkan cenderung obsesif. Manusia ibaratnya sebuah mesin hasrat; yang mempunyai hasrat atau thymos yang tak pernah terpuaskan. Ideologilah yang melahirkan manusia-manusia seperti itu. Kita tak pernah sadar bahwa saat ini kita telah terbius oleh ideologi demokrasi dan kapitalisme. Masalahnya, selama ini kita terbiasa mengunyah “wortel” dari Barat yang tentunya enak dan mengenyangkan. Bahayanya, menurut Hannah Arendt, ideologi berisi semua unsur totaliter. Terdapat tiga unsur totaliter yang khas bagi semua pemikiran ideologis. Pertama, ideologi hanya berorientasi pada sejarah, memandang segala sesuatu dari asal muasal. Kedua, ideologi tidak membutuhkan kemampuan untuk berpikir dan menilai. Ketiga, ideologi tidak berkuasa untuk mengubah realitas, karena itu ideologi memerlukan metode-metode tertentu, seperti propaganda dan teror. Ideologi mampu memasukkan pemahaman pada setiap orang. Inilah yang kemudian oleh Arendt disebut tirani logika. Menurutnya, “Tirani logika diawali dengan tunduknya pikiran pada logika sebagai proses yang tanpa akhir, dan dilumpuhkannya manusia untuk melahirkan gagasan-gagasan.” Apa bahayanya jika tirani logika ini telah terinternalisasi dalam diri manusia? Haryatmoko dalam pengantar buku Kekerasan Negara Menular ke Masyarakat menyebutkan terbentuknya “individu massa”. Individu massa adalah seseorang yang tidak mampu lagi berpikir kritis, tidak bisa mengambil jarak terhadap keyakinan dirinya dan ilusi-ilusinya.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, tak berlebihan jika kita menyimpulkan bahwa AS adalah “penguasa totaliter gaya baru” dan demokrasi liberal serta kapitalisme menjadi ideologi totaliter tersebut.  Bayangkan, atas nama demokrasi, tentara AS mampu melakukan pembantaian dan kekerasan di Irak. Atas nama kapitalisme, praktek suap menyuap menjadi hal yang wajar, seperti yang dilakukan Monsanto kepada pejabat negeri Indonesia. Tentara AS ataupun pejabat Monsanto tentulah bukan tabularasa yang kosong melompong, namun individu yang seharusnya mampu bersikap dan berbicara dengan hati nuraninya sendiri.&lt;br /&gt;Ilusi kapitalisme ini juga menyebar ke masyarakat kita melalui televisi, serta kancah hiperealitas yang diciptakan oleh pelaku ekonomi. Iklan-iklan bergentayangan di layar kaca menebarkan libido ekonomi, diskon-diskon di pertokoan menciptakan mesin hasrat baru. Perilaku manusia ini melahirkan tirani logika. Tindakan mengkonsumsi dan terus mengkonsumsi adalah bentuk ketidakmampuan manusia untuk bertindak secara otonom. Mal dan iklan memberikan pemahaman kepada kita bahwa mengkonsumsi sesuatu yang baru adalah bagus, atau menjadi ketinggalan mode itu adalah buruk. Akibatnya, penilaian baik dan buruk tidak berpulang pada diri masing-masing individu, namun penilaian itu datang dari luar.&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;“Ideologi seperti harapan, pada porsi tertentu ia memberi semangat hidup dan menggerakkan manusia untuk bergerak maju. Tetapi dalam porsi yang lain, ia bisa membius, menjadi ilusi yang membutakan dan berujung pada kekecewaan yang melumpuhkan. “ Begitu Louis Althusser mengatakan dalam Essays on Ideology, yang turut di-amin-i oleh Bagus Takwin. Berbicara soal negara dan ideologi, Althusser tak kalah dahsyatnya. Althusser merumuskan ideologi sebagai kepercayaan yang tertanam tanpa disadari. Kepercayaan yang dipoles sedemikian rupa sehingga tidak seperti kepercayaan. Ideologi adalah citra ideal yang dikemas seperti fakta dan dipahami sebagai realitas konkrit. Maka, ideologi tak ubahnya seperti ilusi. Althusser menyebutkan dalam negara ideologis terdapat Ideological States Apparatuses (ISA) yang berfungsi sebagai sekrup-sekrup penyangga reproduksi ideologi. ISA ini meliputi agama, pendidikan, keluarga, hukum, politik, serikat buruh, komunikasi, dan budaya. Meskipun Althusser berbicara ideologi dalam konteks negara Marxis, namun ideologi Barat juga tak absolut terbuka. Ideologi Barat (katakanlah AS sebagai kekuatan konkritnya, jika kita masih sulit mendefinisikan siapa “Barat”) juga merupakan bentuk ideologi yang tertutup di satu sisi. Dan ideologi tertutup, di mana semua jawaban ada di dalamnya, merupakan bentuk tirani. Meskipun dalam tataran simbol, ideologi Barat menyerukan kebebasan dan persamaan, namun esensinya bentuk ideologi tersebut mengekang juga.&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;“Salah satu ketakutan terbesar masyarakat abad 21 adalah ketakutan akan ketidakmampuan untuk terus mengkonsumsi.”  Sekarang marilah kita berbicara dalam hal yang lebih konkrit, yang dekat dengan keseharian kita. Quote saya di awal tulisan ini menampilkan fenomena dalam masyarakat kita. Mal setiap hari padat dengan ribuan pengunjung yang entah mencari apa. Mengunjungi mal telah menjadi sebuah budaya refreshing masyarakat, orang pergi ke mal tak hanya ketika ia memerlukan sesuatu, namun ketika ia jenuh atau gundah, pergi ke mal. Berjuta orang tua berbondong-bondong memasukkan anaknya ke sekolah favorit atau kursus bahasa Inggris dengan argumen, “Biar nggak kalah saing di dunia yang makin mengglobal, persaingan sekarang makin ketat.” Anak muda di berbagai belahan dunia sibuk untuk mengganti piranti yang mengukuhkan dirinya sebagai “anak muda” yang mungkin tak akan pernah selesai. &lt;br /&gt;Pertanyaan yang bisa dibalikkan ke penjabaran di atas adalah: Kenapa hal-hal di atas diterima sebagai hal yang wajar (mal sebagai tempat peristirahatan, persaingan di dunia kerja, mengikuti tren)? Kenapa orang tidak lantas bertanya, “Kenapa harus pergi ke mal? Kenapa persaingan bisa sedemikian ketat, hal suprastruktur apa yang membuat pekerjaan makin langka? Atau kenapa gue harus mengenakan merek ini dan merek itu? Apa yang salah dari semua ini?”&lt;br /&gt;Ya, pertanyaan itu sulit untuk termunculkan karena ideologi Barat telah membius masyarakat, dan melahirkan individu massa, seperti yang tersebut di atas. Semua orang takluk pada aroma ekonomi yang menawarkan tawa dan keriangan seperti dalam film-film Hollywood dan kerenyahan Original Recipe. Kita tak lagi mampu berbicara dengan diri kita sendiri; kita tak dapat bertindak secara otonom. Kita telah digerakkan oleh mesin hasrat yang palsu, yang diciptakan oleh struktur yang panoptik.&lt;br /&gt;Menurut Hegel, manusia seperti binatang yang memiliki kebutuhan-kebutuhan alami dan hasrat terhadap benda–benda di luar dirinya, seperti makanan, minuman, tempat berlindung, dan segala sesuatu untuk mempertahankan fisiknya. Namun manusia berbeda secara fundamental dari binatang, karena manusia memiliki hasrat terhadap orang lain, ia juga ingin diakui oleh orang lain. Kebutuhan untuk mengkonsumsi ini selain secara heteronom dipengaruhi oleh sistem kapitalisme, juga didorong akan kebutuhan eksistensialis di era globalisasi ini. Semua orang ingin diakui “hidup” dalam dunia materi. Semua orang melakukan perluasan konsumsi. Dan dalam level negara, pendapat Hegel ini juga bisa dipakai untuk melihat tindakan AS melakukan hegemoni ke negara-negara lain, karena AS butuh diakui sebagai superpower yang bisa bertindak apa saja ke negara-negara lain kalau negara itu membangkang.&lt;br /&gt;Secara fungsional, kepatuhan pengikut AS ini berguna bagi kelanggengan hegemoni AS. Hegemoni AS telah melahirkan individu-individu baru penganut ideologi kapitalisme dan demokrasi liberal. Mereka yang mempercayai ideologi ini lintas batas negara, di mana logika ini sama dengan logika globalisasi yang berarti borderless. Ideologi kemudian tak diartikan sebagai sesuatu yang kaku, ideologi di era globalisasi ini menyebar ke segala arah di mana individu massa lahir. Ibaratnya dunia ini sebuah kampung global (yang sering diandaikan dalam memahami globalisasi), sekarang George W. Bush tengah berada di dalam sebuah peternakan bersama kelinci-kelinci malang. Tuturnya, “Hei, kelinci! Kemarilah! Kamu pasti mau ,‘kan, makan wortel yang segar dan renyah ini? Tenang saja, kalau kau tetap berada di sampingku, wortel-wortel ini akan kuberikan untukmu. Dan ketika nanti kau beranak pinak, aku masih menyediakan wortel untuk anak cucumu. Biar tak bosan, aku punya sejuta varian wortel yang tetap enak dan segar. Ssst, tapi jangan bilang-bilang ya, ini rahasia.” Dan Bush pun terkikik.&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;Ti-ra-ni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Literatur:&lt;br /&gt;Francis Fukuyama, The End of History and The Last Man, (terj. M.H. Amrullah), New York: Penguin Book, 1999&lt;br /&gt;Joseph S. Nye, Jr. Understanding International Conflicts, New York: Longman, 1997&lt;br /&gt;Louis Althusser, Essays on Ideology, (terj. Olsy Vinoli Arnof)  London: Verso, 1984&lt;br /&gt;Maurizio Passerin d’Entreves, The Political Philosophy of Hannah Arendt, London: Routledge, 1994&lt;br /&gt;Patrick O’ Meara, Howard D. Mehlinger et.all, Globalization and the Challenges of a New Century, Bloomington: Indiana University Press, 2000&lt;br /&gt;Rieke Diah Pitaloka, Kekerasan Negara Menular ke Masyarakat, Yogyakarta: Galang Press, 2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-110900145959852326?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/110900145959852326/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=110900145959852326' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/110900145959852326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/110900145959852326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2005/02/tirani.html' title='Tirani'/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-110411603170750935</id><published>2004-12-26T18:53:00.000-08:00</published><updated>2004-12-26T18:53:51.706-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>pa yang menarik adalah perbedaan paradigma yang saling bertolak-belakang dari sesuatu yang namanya ideologis atau paham. Kita lihat perbedaan paradigma Locke dan Hobbes, anarkis yang mengatakan kehidupan personal atau adat itu nomor wahid dan liberal-kapitalis serta Marxian yang membicarakan perkembangan masyarakat yang tidak terlepas dari perkembangan ekonomi yang berkembang secara komunal (transfer/jual-beli dengan alat tukar dengan menekankan prinsip struktural fungsional, yaitu stratifikasi sosial dengan reward-nya). Huh... cukup sampai disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;membicarakanutopia... hanya sebuah awal.&lt;br /&gt;Hal tersebut dikatakan tidak mungkin karena tidak pernah terlintas di benak. Tidak mungkin karena pelajaran dan nilai yang diterima dari kehidupan sosial mengatakan itu tidak mungkin. Utopia adalah impian, angan-angan yang satir disebut dengan tidak mungkin. Mungkinkah kita hidup tanpa negara? Bagaimana pikiran tersebut ada di kepala sementara dari sejak kita bersuara oek-oek pun negara sudah berdiri selama 40 tahun? Pelajaran dari sekolah mengajarkan negara adalah bentuk aktualisasi politik tertinggi dari masyarakat. Apa kabar Plato, Aristoteles, John Locke, Thomas Hobbes, Machiavelli, Jean Jacques Rosseau, Montesquieu, dan kerabat-kerabat kita lainnya dari abad Yunani Kuno hingga Pencerahan? Masihkah teori negara yang kalian ciptakan itu adalah suatu keharusan sejarah? Katakanlah materialisme historis untuk sedikit menyitir dan membelokkan dari makna konsep tersebut yang sebenarnya? Kemajuan yang linear adalah kepastian negara ciptaan kawan-kawan kita dari zaman ketika berpikir adalah suatu ekstase.&lt;br /&gt;Personal order, frase itu selalu berputar-putar di pikiran. Lakukan apa yang kamu ingin lakukan dan lupakan otoritas. Hancurkan semua bentuk hierarkis yang membelenggu dan menekan. Tapi masalah tidak berhenti sampai disitu, panopticon tidak semudah itu dikalahkan. Kuantitas adalah masalahnya. Apa konsep tanpa negara itu tidak akan paradoks terhadap pernyataannya sendiri? Derrida pun mengatakan setiap pernyataan ideologis akan menegasikan setiap pernyataan yang dinyatakannya. Sampai kapan ini akan bertahan? Tidak lama lagi, kawan. Nantikan saat kematianmu. mONomore&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-110411603170750935?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/110411603170750935/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=110411603170750935' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/110411603170750935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/110411603170750935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2004/12/pa-yang-menarik-adalah-perbedaan.html' title=''/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-110411600910435684</id><published>2004-12-26T18:52:00.000-08:00</published><updated>2004-12-26T18:53:29.103-08:00</updated><title type='text'>Anarkisme dan Problem Kekerasan Berpikir</title><content type='html'>            Satu hal yang membuat saya terpukau pada kematian Marylin Monroe adalah saat itulah akhirnya Marylin Monroe bisa mengambil keputusan sendiri, karena selama ini keputusan yang diambil Monroe cenderung dibuatkan oleh fansnya, manajernya, label rekamannya, atau beauty advisor Marylin Monroe. Saat itulah, saat Marylin memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, merupakan saat terbaik bagi Marylin untuk membebaskan dirinya dari kekerasan berpikir.&lt;br /&gt;            Manusia hidup dengan berbagai regulasi yang kadang memuakkan. Manusia seperti terasing dalam kehidupan yang tidak ia ciptakan sendiri. Marylin boleh jadi tak punya hak tawar karena ia telah masuk dalam industri hiburan yang telah “hidup” lama sebelum ia hidup. Kegiatan memaknai sesuatu hal tak lagi bersifat deduktif, namun telah menjadi induktif seperti layaknya rumus-rumus fisika. Raras Damar Wulan, tokoh biseksual dalam novel Tabularasa, sampai merasa perlu mendeklarasikan dirinya: my soul is liberty/unbound and unnamed that rope oneself/ from the day i born till the day i’ll be gone (jiwaku adalah jiwa bebas/merdeka tanpa jeruji, bahkan tanpa nama yang mengikat diri/sedari lahir hingga mati).&lt;br /&gt;            Kefrustasian Raras nampaknya berujung pada kepasrahan yang dilukiskannya di akhir novel: Aku dilahirkan sebagai batutulis kosong. Aku tabularasa, aku adalah dogma dari aliran empiris dan aku terbentuk dari jalannya hidup. Ya, Raras menyadari betul bahwa dirinya hanyalah seonggok batu tulis kosong yang sudah terbentuk dari jalannya hidup. Simpel saja, dalam kehidupan sehari-hari kita juga sering (secara tak sadar) menjumpainya. Mengapa kita harus berpakaian rapi saat menghadap dosen, mengapa kita harus meminta maaf saat Hari Lebaran, mengapa kita harus membayar pajak, atau mengapa kita harus mengikuti Pemilu.&lt;br /&gt;            Problem kekerasan berpikir, begitu saya mengistilahkannya, terjadi pada kita. Kita tak lagi secara bebas menentukan pilihan dalam luas dan mulianya otak yang telah diberikan oleh Tuhan. Kekerasan berpikir ini muncul karena collective mind yang menggumpal di otak kita atau konstruksi yang dipelihara di masyarakat. Konstruksi yang dibangun selama ini, ‘kan, warga negara yang baik adalah warga negara yang mengikuti Pemilu. Itulah warga negara yang berpartisipasi dalam pembangunan (meskipun sebenarnya ia tak mengerti benar makna di balik lambang gambar banteng, pohon, atau matahari). Kekerasan berpikir ini bisa bermula dari kekerasan simbolik, ketika orang secara tidak langsung dipaksa untuk menelan realitas yang ada di hadapannya. Ketika orang melihat simbol-simbol politik dalam ruang publik; gambar partai, slogan-slogan kampanye, janji-janji capres, atau janji-janji calon presiden mahasiswa; saat itulah kekerasan simbolik berlangsung.&lt;br /&gt;            Berangkat dari masalah itu apa yang bisa kita lakukan? Sebagai seorang individu yang, mengutip John Rawls, mempunyai hak atas dirinya sendiri, kekerasan berpikir selayaknya kita enyahkan dalam kepala kita. Saya mencoba menawarkan anarkisme, sebagai sebuah cara pandang dalam mengatasi kekerasan berpikir. Anarki, bukanlah seburuk yang kita kira. Sekali lagi, istilah “anarki” telah dibelokkan, sehingga jika anda men-judge anarkisme sebagai keadaan yang buruk dan cenderung rusuh, maka boleh jadi kekerasan berpikir masih melekat dalam baju anda. Tidak apalah, toh susah sekali menemukan orang di dunia ini yang benar-benar bebas dari kekerasan berpikir (termasuk saya!).&lt;br /&gt;            Anarki, menurut Joseph S. Nye, Jr. dalam Understanding International Conflicts, secara etimologis anarki berasal dari kata an-archos yang berarti “tanpa ada pemimpin” atau “tanpa ada otoritas puncak”. Anarki berarti upaya dehierarkisasi atau keadaan tanpa adanya otoritas yang mengatur pihak-pihak dalam sebuah komunitas. Oleh sebagian orang, keadaan anarki ini dianggap bahaya karena rawan terhadap terjadinya chaos atau instabilitas. Hal ini sudah dipikirkan oleh Thucydides, seorang pemikir politik dan hubungan internasional jaman Yunani Kuno. Ketika di antara polis-polis di Yunani tidak ada kekuatan tunggal yang mengatur, maka menurut Thucydides, Yunani akan jatuh pada konflik perebutan pengaruh antara polis Sparta dan Athena yang berkepanjangan. Namun, bukan berarti keadaan anarki ini menjadi unsolved, karena kontrak sosial dapat menjadi solusi dari keadaan ini.&lt;br /&gt;            Anarkisme memang semata berputar dalam pemikiran politik. Namun, secara metafisik, anarkisme ini bisa kita gali untuk mencari pembebasan untuk diri kita. Kalau Nietzche pernah berteriak, “Tuhan telah mati!”, yang berarti matinya jaminan absolut atas semua hal, maka sekarang pun kita bisa berteriak demikian. Teriakan tersebut sama sekali bukan bermaksud menafikan Tuhan berikut kekuasannya, tapi berusaha mengenyahkan doktrinase yang selama ini mengarahkan pola pikir kita. Peradaban di era digital ini, menurut Yasraf Amir Piliang, telah melahirkan tuhan-tuhan baru, tuhan-tuhan virtual yang berkecamuk dalam angan-angan dan kerja keras manusia. Kalau dulu kita pergi ke tempat-tempat ibadah untuk mencari kedamaian dalam pelukan Tuhan, maka sekarang orang berbondong-bondong pergi ke mal untuk mencari kedamaian dalam “agama” baru yang mereka anut. Merek, diskon, panutan dari media(empty-V, channel V, dll), adalah contoh medium yang melancarkan kekerasan berpikir kita. Bagi mereka yang bergelut dalam dunia akademis, rumus-rumus, buku, adalah contoh lain bagi medium itu. Jadi, jika kita berpikir secara anarkis, otoritas atas sistem berpikir kita hendaknya dilenyapkan. Pengaturan yang berasal dari eksternal, dari luar tubuh dan jiwa kita, akan lebih joss kalau diganti dengan keleluasaan berpikir kita. Tuhan sudah menciptakan kita otak yang sedemikian mulianya, kenapa kita masih bergantung pada hiperealitas media dan doktrin buku?&lt;br /&gt;            Kebebasan dalam anarkisme bukan berarti tidak bisa diatur. Pengaturan dan sistematika itu datang dari diri kita, bukan dari otoritas eskternal diri kita. Jika kita berpikir tentang konsep negative freedom Isaiah Berlin, maka sekarang kita bisa atur sendiri, seperti apa diri kita nantinya: betapa unik dan khasnya diri kita, betapa berdaulatnya kita di atas tubuh, jiwa, dan pikiran kita sendiri, seperti jargon iklan L’oreal, “karena anda begitu berharga”!&lt;br /&gt;            Utopis. Begitu kira-kira teman saya menanggapi ide lepasnya manusia dari kekerasan berpikir ini. Argumen ini didasarkan pada pernyataan awal di tulisan ini: dunia ini berikut pengaturannya telah terbentuk jauh sebelum kita hidup. Kita hanyalah seonggok manusia, batu tulis kosong, yang hidup setelah jaman pra sejarah, jaman kolonialisme, dan seterusnya. Tentu sangat sulit mencabut paku-paku kekuatan yang telah terbentuk sedemikian rupa. Selain itu, pada dasarnya beberapa orang lebih menyukai keadaan order daripada keadaan chaos (chaos di sini berarti pertarungan dalam diri kita untuk menentukan sesuatu). Meminjam pernyataan Profesor Sarlito Wirawan, guru besar Psikologi, orang lebih menyukai keadaan status quo, atau enggan meninggalkan comfort zone-nya daripada harus mencari order yang baru.&lt;br /&gt;            Betapa pun utopisnya, saya tetap merasakan ide ini sebagai alat untuk mereduksi kekerasan berpikir. Memulai untuk mereduksi kekerasan berpikir tentunya merupakan sebuah dobrakan daripada membiarkannya berkeliaran di kepala kita. Taruhlah ada seribu kekerasan berpikir yang kita alami, namun mungkin tak semuanya bisa kita atasi. Sama halnya ketika Da’i Bachtiar berkoar-koar, “Miras adalah penyakit masyarakat. Polisi tidak bisa memberantasnya secara penuh, kita hanya bisa menguranginya.” Pernyataan Da’i Bachtiar itu mungkin bisa menjelaskan kenapa saya, dalam lembar-lembar curhat di komputer (bahkan tulisan ini!), terpaku untuk menggunakan huruf miring untuk kata order, chaos, atau comfort dan kenapa saya harus memulai kata setelah tanda baca titik dengan huruf kapital.&lt;br /&gt;            This is a matter of “kekerasan berpikir”, right?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Morning Aroshava&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-110411600910435684?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/110411600910435684/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=110411600910435684' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/110411600910435684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/110411600910435684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2004/12/anarkisme-dan-problem-kekerasan.html' title='Anarkisme dan Problem Kekerasan Berpikir'/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-110411588641192105</id><published>2004-12-26T18:50:00.000-08:00</published><updated>2004-12-26T18:51:26.410-08:00</updated><title type='text'>post-anarcho menentang panopticon </title><content type='html'>“Apa yang dipelajari di jurusan gw adalah keadaan anarki yang dialami oleh negara-negara di dunia,” ujar temanku. Lebih lanjut dia menjelaskan, “Di dunia ini tidak ada satu institusi pun yang mengatur negara-negara yang ada, termasuk UN. Dunia berkembang dalam keadaan kompromi dan perjanjian diantara negara-negara bangsa.” Oleh karena itu, keadaan anarki tersebut menjelaskan agresi negara besar terhadap negara kecil sebagai bentuk natural law. Yang kuat akan mengalahkan yang lemah, kurang lebih begitu gambarannya. Pembicaraan diatas adalah cukilan singkat dari diskusi-diskusi yang sering saya lakukan bersama beberapa kawan. Ide bahwa sebenarnya, penggunaan kata ‘sebenarnya’ tidak merujuk pada determinisme, dunia berada dalam keadaan anarki merupakan hal yang menarik. UN yang dibentuk dan ‘dipercaya’ menjadi mediator dan lembaga tinggi antar-negara di dunia seakan-akan hanya menjadi penonton, untuk tidak menyebutnya anjing penjaga yang ompong.&lt;br /&gt;Society is a living organism, begitu pandangan para positivist. Dan negara adalah pengatur masyarakat yang utama. Berakar dari pandangan Thomas Hobbes tentang homo homini lupus, individu dan masyarakat adalah entitas yang jahat dan tidak rasional. Egois merupakan sifat manusia yang akan membawa kehancuran masyarakat. Bayangkan, seratus orang dalam lingkungan kita membawa perasaan serakah dalam pikirannya. Apa yang terjadi? Kekacauan? Mungkin iya, mungkin tidak. Kenapa tidak? Karena John Locke memiliki pendapat bahwa manusia merupakan makhluk yang rasional dan berbudi. Dengan kata lain, tidak jahat seperti yang diklaim Hobbesian. Kalau Hobbesian menghendaki bentuk negara seperti Leviathan, sosok monster jahat dan ganas dalam kisah Perjanjian Lama maka Locke melihat negara sebagai manifestasi aspirasi rakyat untuk melebur dalam satu institusi. Dua pemikiran yang berbeda dan diciptakan oleh dua pemikir yang hidup dalam zaman yang tidak terlampau berbeda jauh. Dua-duanya meniscayakan keberadaan negara. Negara sebagai entitas politik tertinggi yang menetapkan hak milik individu dijamin oleh konstitusi, hak atas akses kekayaan alam diberangus oleh profit, dan kedaulatan rakyat digadaikan kepada orang-orang yang mengakui elit, setidaknya begitu menurut pendapat saya.&lt;br /&gt;Ketika manusia memiliki kebebasan untuk merusak maka manusia pun memiliki kebebasan untuk tidak merusak, benar begitu? Atau ada pendapat lain? Membicarakan kebebasan, saya jadi ingat diskusi singkat dengan kawan di perpustakaan STF Driyarkara yang sepi dan jauh dari harapan. Sambil membawa buku lumayan tebal berjudul Freedom... entahlah,  saya sudah lupa judul lengkap dan nama penulisnya, temanku itu berkata, “Kebebasan itu memiliki dua pengertian, yaitu bebas untuk dan bebas dari.” Kedua ungkapan tersebut memang dapat dipahami dengan berbagai macam cara, diantaranya ‘bebas dari’ sebagai bentuk kebebasan yang bebas atau lepas dari sesuatu. Dan ‘bebas untuk’ ditafsirkan sebagai bentuk kebebasan melakukan sesuatu atau hal yang ingin dilakukan individu. Bermain dalam tataran hermenetika dan diksi seperti ini akan memerlukan waktu yang lama, melelahkan, dan menyenangkan. Untuk singkatnya, saya sudahi pengertian kebebasan dalam penjelasan diatas.&lt;br /&gt;Nobody being boss over anybody else, menjadi ungkapan yang menyejukkan bagi saya ditengah budaya represivitas yang melingkupi masyarakat. Represivitas telah menjadi budaya? Kalimat tersebut memang sangat debateable, terutama bagi para pemerhati budaya dan sosial. Sama seperti kaget dan tercengangnya Selo Soemardjan ketika mendengar salah satu dosen UGM, pada tahun 1970-an, mengatakan, “Korupsi sudah menjadi budaya di Indonesia.” Memang berat, beban yang disandang sebuah kata atau kalimat apabila dibubuhi kata ‘budaya’. Budaya yang tidak dapat dipahami secara sempit dan sederhana. Kembali membicarakan kebebasan, individu atau komunitas atau kolektif atau masyarakat memiliki kebebasan untuk lepas dan kebebasan dari otoritas yang melakukan kooptasi dalam sistem kehidupan. Otoritas atau boss dalam bentuk institusi sosial yang paling nyata adalah negara. Negara yang dalam pandangan konvensional memiliki ciri-ciri, yaitu diakui dan memiliki rakyat, memiliki teritorial, memiliki kemerdekaan, dan sebagai tambahan, mendapat pengakuan dari negara lain. Pengertian tersebut memang sudah uzur namun seperti ungkapan salah satu dosen artis di kampusku saat mengajar, “Ini adalah dasar, fondasi dari konsep tersebut.”  Dalam dunia yang anarki, kebebasan mutlak pun diperlukan oleh negara sebagai jaminan kemerdekaan dan mencegah intervensi negara lain. Bagaimana cara mempertahankan keamanan dalam negeri tersebut? Pertanyaan tersebut kembali dijawab dengan pertanyaan, untuk apa senjata terus diproduksi? Untuk apa setiap tahunnya ribuan pemuda-pemudi rela mengorbankan jiwa raganya demi pertahanan nasional? Pertanyaan yang merupakan jawaban dari pertanyaan yang dijawab dengan pertanyaan tersebut kembali memunculkan pertanyaan, kenapa pemerintah berani (Menteri adalah antek pemerintah) mengatakan Teluk Buyat tidak tercemar sementara foto anak kecil kurus yang mulutnya menganga dan kulitnya keriput itu terus mengiris hati? untuk apa warga Bojong dan mahasiswa UMI Makasar dipukuli dan difitnah ‘ditunggangi’ pihak-pihak tertentu? “Pihak yang mana, Pak Komandan?,“ pikirku. ‘Membaca’ saja, Pak Komandan sulit.  &lt;br /&gt;Ya... cukup membicarakan negara karena masih ada hal lain yang ingin saya bicarakan. Menurut saya, negara bukanlah satu-satunya kekuasaan yang membelenggu masyarakat. Masih ingat dengan sekolah? TV? Fashion? Lifestyles? Kekasih? Uang? Lebih baik tulis sendiri belenggu yang membatasi ruang gerak Anda semua selama ini, disini: _______________. Anda duduk manis di ruang kelas yang dikelilingi foto-foto para patriot bangsa lalu tertidur. Anda duduk manis di depan TV yang dilengkapi mesin pemutar cakram digital lalu terbuai. “Aku bergaya, maka Aku ada,” ungkapan Cartesian yang disitir David Chaney. Sepulang kuliah atau kerja, Anda berciuman di mobil lalu berakhir dengan surga dunia atas nama cinta. Anda dilecehkan karena tidak memiliki uang. Anda mendapat gelar akademis karena memiliki uang. Selamat, Anda telah menjadi manusia modern yang sukses, setidaknya menurut saya. Tidak selamat, karena saya amat mengkhawatirkan bukan itu semua yang Anda inginkan. Anda menginginkan kebebasan, bukan? Lalu kenapa tidak merebutnya sekarang, saat ini juga? Bebas dari apa? Bebas dari belenggu pikiran bahwa dunia dalam keadaan baik-baik saja. Bebas untuk berbuat dan melawan sistem yang membuat dunia bertukar tempat dengan neraka. Itu hanya beberapa pilihan yang saya coba carikan dari sekian banyaknya pilihan. Itu hanya usulan saya bagi Anda yang sedang mencari kebebasan. Bebas dalam arti nyata... semoga.&lt;br /&gt;            Semua sistem kehidupan masyarakat dimonitor dari menara pengawas oleh para Penjaga. Penjaga yang tidak merasa menjaga namun sebenarnya menentukan kehidupan masyarakat yang tidak perlu ditentukan karena masyarakat mampu menentukan. Ide ini berbeda dengan liberalisme yang menekankan hak milik pribadi, private property rights. Berbeda pula dengan ide kebebasan leftist yang memperjuangkan kebebasan sumber produksi dari tangan kalangan borjuasi. ‘Menentukan’ disini adalah kebebasan yang mewujud dalam personal order. Ya... ini adalah ide baru dan mari berkenalan dengan panopticon, istilah ini dikumandangkan oleh Foucault yang terinspirasi arsitektur bangunan melingkar yang memiliki menara pengawas dibagian tengahnya. Foucault mencuri ide ini dari arsitektur... siapa ya? Agh maaf, lagi-lagi saya lupa. Logika pengawasan panopticon yang bekerja didalam kekuasaan akan melekat pada sistem yang menerapkan dominasi dan hierarki.&lt;br /&gt;Sistem hegemoni yang mewujud dalam kehidupan kultural hampir tidak menyisakan ruang untuk budaya perlawanan. Resistensi akan dihadapi dengan dilema. Melempar batu ke restoran fast food  Mc’donalds akan ditanggapi dengan headline berita pagi bertajuk “Demonstran melakukan aksi anarkisme...”. Berkelahi dengan aparat keamanan keparat akan direspon dengan pentungan dan lagi-lagi headline berita tengah malam bertajuk “Aksi demonstrasi yang dilakukan oleh bla bla berakhir dengan aksi anarkisme... “.    Apa yang kamu tahu tentang anarkisme? Kekacauan? Silakan keluarkan semua referensi Anda dan mari kita lihat apa Anda masih percaya dengan kebohongan yang bernama negara. mONomore    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note: Maaf karena tidak ada footnote atau endnote disana-sini. Keterangan judul buku dan materi yang dijadikan sumber referensi dalam tulisan ini bertindihan dan berjubelan dalam rak buku di kamar saya. Apabila tertarik, silakan datang, baca, pinjam atau curi?&lt;br /&gt;Michel Foucault mengatakan ini sebagai panopticon, konsep arsitektur yang berbentuk lingkaran dan memiliki pusat ditengahnya. Ruang bundar dengan menara kontrol dimana seseorang dapat mengawasi orang lain di ruang bundar yang mengitari menara kontrol tersebut. Maaf apabila saya terlalu banyak mengumbar nama yang sebenarnya hanya saya kenal lewat tulisan. Bukan maksud saya untuk sombong, maksud saya adalah untuk berbagi. Ide tidak memiliki batasan. Seorang tukang becak dapat memiliki ide lebih brilian ketimbang mahasiswa ber-IPK 4,0. Huh, jadi teringat konsep romantis Plato mengenai dunia gagasan. Ide yang sampai akhir dunia dan setelahnya pun tidak akan pernah bertemu, yaitu materialisme dan idealisme. Biarkan perdebatan terus berlangsung...&lt;br /&gt;Panopticon berlangsung dalam keadaan yang implisit dan komprehensif. Konsep ini memang absurd dan tidak mudah untuk dijelaskan. Logika kekuasaan panopticon  tidak mudah untuk dikalahkan.  Kemerdekaan individu, kemerdekaan pribadi, pernahkan Anda mendengarnya? Di buku PPKn saat SMP atau SMA, mungkin? Atau baru-baru ini, Anda mendapatkan istilah tersebut dari dosen Pancasila di kelas? &lt;br /&gt;Siapa diantara Anda yang tidak ingin diperintah orang lain? Anda mungkin bisa memulainya dengan tidak mengakui segala otoritas eksternal yang mengelilingi eksistensi diri Anda.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mONo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-110411588641192105?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/110411588641192105/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=110411588641192105' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/110411588641192105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/110411588641192105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2004/12/post-anarcho-menentang-panopticon.html' title='post-anarcho menentang panopticon '/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-110411583115415778</id><published>2004-12-26T18:49:00.000-08:00</published><updated>2004-12-26T18:50:31.153-08:00</updated><title type='text'>Lingkungan Kita, Kekuasaan Kita</title><content type='html'>Anarki yang tidak anarki. Tulisan ini tidak berarti menegasikan esensi anarkisme. Tulisan ini hanyalah buih di samudra perenungan order kita, buih yang sedang mencoba mengusik personal order kita. Personal order kita sangat mungkin berteriak, “Buat apa lingkungan hidup harus dikelola? Toh juga nggak ada gunanya buat kita!” Huh. Silakan definisikan order apa yang akan kita bentuk. Tulisan ini hanya berangkat dari keprihatianan akan kerusakan lingkungan. Rasa keprihatinan ini bukan merujuk pada kekerasan berpikir, namun lebih menggunakan pendekatan empati.&lt;br /&gt;Lihatlah penderitaan warga Bojong yang tak rela tanah desanya dipergunakan sebagai Tempat Pembuangan Sampah Terakhir (TPST) berbuah pada tindakan represif aparat. Seperti hidup kembali di jaman Orde Baru, aroma kekerasan dan coercive power itu dihidupkan lagi di sebuah desa di Kabupaten Bogor. Ucapan Nabiel Makarim pada awal kasus Newmont dimunculkan yang bernada tidak percaya ada kerusakan alam di Buyat, semakin memperlihatkan bahwa sebenanya pemerintah pun malas mengurusi soal lingkungan. Bukan mengharapkan pemerintah mengurusi lingkungan, namun memahami bahwa sebenarnya negara tak layak dalam mengurus lingkungan.&lt;br /&gt;            Negara modern malah memanfaatkan isu ini untuk kepentingan politik atau ekonomi negara tersebut. Misalkan kasus penyu-udang yang debatnya menghiasi forum WTO beberapa tahun lalu, mencerminkan egoisme AS dalam memanfaatkan isu lingkungan sebagai alat mencapai kepentingan ekonominya. Egoisme AS makin menjadi-jadi tatkala sampai detik ini, AS sebagai sebuah negara yang memiliki industri besar dengan tingkat konsumsi yang besar pula, menolak penandatanganan Protokol Kyoto. Padahal, protokol yang berusaha mengamankan lapisan ozon (yang makin menipis) ini penting bagi keberlanjutan nasib manusia. Idiom dari Spiderman yang berbunyi “the great power must come with the greater responsibility” sepertinya tak berlaku dalam menyikapi isu ini. Mungkin benar kata Thomas Hobbes yang melihat negara tak ubahnya sebuah monster- yang mempunyai dark side: licik, jahat, dan egois.&lt;br /&gt;            Ide awalnya sepele. Saya mencoba melakukan “gerakan buang sampah sendiri” dengan bersandar pada keprihatinan kasus Bojong. Sampah yang saya hasilkan dari kegiatan konsumsi saya buang, kemudian saya olah sendiri tanpa harus mengandalkan tukang sampah bayaran Pemda Depok yang berkeliling di rumah kos saya. Saya berpikir, daripada mengikuti sistem pembuangan sampah a la pemerintah yang belum tentu beres (malah menimbulkan represifme) dan menambah beban kemunafikan kapitalisme, lebih baik saya mengorganisasi sampah saya sendiri. Ide awalnya adalah saya merasa cukup bisa untuk menangani sampah yang saya hasilkan. Cerminan yang sangat sederhana dari sikap anarki. Lupakan negara dalam mengelola lingkungan! States are sucks, they just talk about their own interest.&lt;br /&gt;            John Rawls yang mengikuti pendahulunya, Locke dan Hobbes menggiring kita pada sebuah pemecahan yakni kontrak sosial. Kontrak sosial adalah sebuah konsensus yang berlaku bagi komunitas, di mana penyelesaian dan pembahasan masalah dilakukan oleh komunitas dan negara hanya sekadar mengetahui. Konsepsi ini dekat dengan konsepsi civil society. Pola ini pernah dicoba ketika LSM lingkungan hidup di AS bangkit menentang metode produksi yang cenderung merusak bumi, dalam sebuah gerakan yang populer disebut Revolusi Hijau tahun 1962-an.&lt;br /&gt;            Golongan anarkis yang lain berpendapat bahwa bentuk-bentuk organisasi akar rumput yang diharapkan bisa menyelesaikan permasalahan, merupakan sebuah bentuk “top authority” yang baru. Sehingga, percuma jika kita berteriak anarki jika nyatanya kita masih dikungkung oleh otoritas yang terbentuk akibat terjadinya konsensus bersama. Anarki golongan ini lebih percaya pada personal order- seperti yang saya sebut di awal, untuk menyelesaikan kerusakan lingkungan ini. Kalau begitu, kita kembali lagi kepada ide awal saya: membuat lubang di tanah rumah, kemudian menimbunnya dengan sampah yang telah saya hasilkan.&lt;br /&gt;            Kerusakan lingkungan seperti bola pingpong yang terus dioper kesana kemari. Sedang anarki menemukan bentuknya sendiri di tengah majemuknya individu di dunia ini. Pernyataan Albert Schweitzer, seorang aktivis lingkungan, kiranya patut direnungkan kembali: “Manusia telah kehilangan kemampuannya untuk melihat jauh ke depan dan membendung bahaya yang datang mengancam. Manusia akan mengakhiri sendiri dengan cara  menghancurkan bumi.” Kalaupun menuduh kutipan ini sebagai bentuk kekerasan berpikir baru, marilah kita definisikan kebebasan diri kita kembali. Sekarang semuanya kembali pada personal order kita. Sekali lagi, ini bukan propaganda peduli bumi! Mau menjadi bagian dari mereka yang turut peduli lingkungan, atau mau merusak lingkungan, terserah saja. Yang jelas, lingkungan hidup ini dekat dengan kita, ia berada dalam pusaran kekuasaan kita. Tulisan ini hanya memberikan sedikit referensi pada kita ketika sedang mengobrak abrik order. Tidak mencoba untuk mengarahkan order kamu, namun hanya memberitahu, “Ternyata menjaga lingkungan itu penting, loh!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_maafkan jika tulisan ini berangkat dari subjektivitas seseorang yang sok peduli lingkungan_&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Morning Aroshava&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-110411583115415778?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/110411583115415778/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=110411583115415778' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/110411583115415778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/110411583115415778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2004/12/lingkungan-kita-kekuasaan-kita.html' title='Lingkungan Kita, Kekuasaan Kita'/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-110411577465872909</id><published>2004-12-26T18:48:00.000-08:00</published><updated>2004-12-26T18:49:34.656-08:00</updated><title type='text'>kebebasan|yang|mengkhianati...</title><content type='html'> terus terang aku mencontek kalimat ini dari lirik Homicide hanya karena terdengar keren. Keren kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala sesuatu berasal dari awal. Tulisan ini pun memiliki awal. Hukum kausal berjalan dalam kehidupan, kalau yang disebut ‘kehidupan’ itu memang ada. Lagipula apa itu kehidupan? Definisi universal tidak mampu menjawab ini. “Aku hidup untuk menjadi martir Tuhan,” ujar para mujahid. Lalu buku Gus Dur menohokku dengan judul yang kontroversial, Tuhan Tidak Perlu Dibela. “Aku hidup untuk seseorang,” ujar teman imajinerku. Hidup untuk apa? Pertanyaan abadi yang aku sendiri pun belum mampu menjawabnya, setidaknya saat ini, detik ini.&lt;br /&gt;Mari kembali membicarakan tentang awal. Awalnya adalah kutipan seorang vokalis band rock ternama yang aku cantumkan pada dua lembar kertas putih. Selanjutnya, kutipan itu dikutip kembali oleh orang lain sebagai pembuka tulisan. Selanjutnya lagi, kutipan itu dikutip kembali oleh tim redaksi yang melaksanakan wawancara imajiner dengan pemilik asli kutipan tersebut, lebih tepatnya sang Pengucap. Tidak ada masalah dengan semua itu dan tidak ada alasan tertentu kenapa hal tersebut ditulis hingga seseorang mengklaim kebenaran adalah pengucapan referensi buku. “Menurut buku yang saya baca...,” ujarnya dan aku dengarkan. Dengan footnote lisan mungkin temanku merasa lega karena tidak merasa mencontek atau mencuri pemikiran orang lain. Tidak ada yang salah dengan itu. Dan sebaliknya, hal tersebut sangat bermasalah bagiku. Klaim adalah dosa yang dilegitimasi dan disetujui oleh moral. Dan sebaliknya, klaim adalah penyucian dosa dari segala kegiatan plagiat yang kita lakukan dan pada akhirnya berbuah surga intelektualitas.&lt;br /&gt;Awalnya adalah klaim kebenaran yang dinyatakan oleh seseorang kepada orang lain. Klaim bahwa ini benar dan itu salah. Klaim bahwa menyertakan referensi buku dan mengatakan istilah didalam buku itu adalah tindakan yang benar. Klaim bahwa seseorang salah karena alasan logika bahasa dan diksi. Sejak kapan manusia berperan menjadi Tuhan? Sejak kapan Tuhan turun ke dunia dan menjelma menjadi manusia? Sejak kapan kebenaran dikatakan oleh mulut manusia yang dipenuhi sumpah-serapah dan ayat-ayat kitab suci? (Tulisan ini kembali pada format awalnya yang penuh tanda tanya dan pertanyaan.) Kadang aku berpikir bahwa hidup ini adalah untuk bertanya. Yah... klaim aku adalah hidup itu untuk bertanya. Lalu sejak kapan aku berani menyatakan hal tersebut? Sejak darah dan surga hanya memiliki perbedaan tipis dan neraka hanya perlu disikapi dengan sujud dan tangan yang menengadah. Memangnya apa itu surga dan neraka? Apakah aku seorang puritan yang mempertahankan nilai-nilai moral hingga ke sumsum tulang belakang dan doa sebelum tidur? Apakah aku seorang puritan?&lt;br /&gt;Klaim... dua klaim dalam sehari sudah lebih dari cukup bagiku. “Iya... gw sepakat ma lo, kok penjelasan dia nggak pake referensi,” ujarku sambil kedinginan. Setengah jam kemudian, “Kok segala sesuatu itu mesti menggunakan standar ilmiah, diantaranya penggunaan referensi?” pikirku sendiri. Tiba-tiba, “Kok ngejelasinnya gitu sih? Sejak kapan dia tahu itu benar dan ini salah,” kembali kepingan-kepingan ide di otakku tak berhenti bertanya. Segala hal menjadi tumpah-tindih bagiku. Apa ya namanya??? Emm... istilahnya ada kok di buku Yasraf. Multiplicity, bukan ya? Hahaha... aku kembali menjadi manusia paradoks dengan mencari pembenaran dari otak orang lain. Menghentikan klaim sama saja dengan membuat klaim terbaru. Mengklaim untuk tidak atau jangan mengklaim. Negasikan apa yang tidak dinegasikan. Mereduksi sesuatu yang tidak direduksi. Menulis sesuatu yang tidak ditulis. Atau seperti ular yang memakan tubuhnya sendiri. Apakah setiap hal memiliki ujung yang sama dengan hal itu sendiri? Apakah jawaban dari sesuatu terletak tidak jauh dari sesuatu itu sendiri?&lt;br /&gt;Kembali lagi ke masalah klaim yang tidak aku selesaikan. Memangnya apa yang mesti diselesaikan? Aku hanya ingin bertanya, apa benar saat ini Tuhan sedang menertawakan kita di surga? Huh... ingin membuat Tuhan tertawa? Beritahu Dia semua rencanamu. Hehehe tidak ada yang salah dan benar dengan itu, lagipula sudah saatnya narasi besar diruntuhkan. Sudah saatnya para orang sombong berlabel filsuf itu diturunkan dari singgasananya karena mereka tidak tahu apa-apa.  Dan orang awam pun lebih tidak tahu apa-apa... apalagi aku. Seorang aku yang hanya eksis dalam byte komputer.          &lt;br /&gt;                Sejak kapan pengklaiman ide menjadi tindakan represivitas dalam bentuk baru? Sejak kapan kategori benar dan salah diklaim oleh pengucapan daftar buku dan dosen yang berakting seperti kyai? Bicaralah apa yang ingin dibicarakan... katakan apa yang harus dikatakan. Mari tolak semua bentuk pengklaiman. Klaim adalah pembodohan. mONomore&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Note: Ini adalah bentuk pembodohan karena mengklaim klaim adalah pembodohan.&lt;br /&gt;      &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-110411577465872909?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/110411577465872909/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=110411577465872909' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/110411577465872909'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/110411577465872909'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2004/12/kebebasanyangmengkhianati.html' title='kebebasan|yang|mengkhianati...'/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-109898343953859128</id><published>2004-10-28T10:09:00.000-07:00</published><updated>2004-10-28T10:10:39.536-07:00</updated><title type='text'>TV dibaca tefe, bukan tivi.</title><content type='html'>Hidupkan televisi, ambil koran, maka konstruksi realitas berlangsung di sana, di hadapan mata Anda. Dan bila Anda melihat secara dekat, khususnya bagaimana peristiwa diinterpretasikan di beberapa media, Anda akan segera melihat bahwa di dalamnya dikonstruksi berbagai realitas yang berbeda.&lt;br /&gt;Walter Truett Anderson&lt;br /&gt;Reality Isn’t What It Used to Be, Harper Collins, 1990, hlm. 127.(Posrealitas, Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika, Yasraf Amir Piliang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuh hari dalam seminggu. Dua puluh empat jam dalam sehari. TV menemani kehidupan manusia. TV tidak berhenti menciptakan realitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah saya mendengar di dalam ruang kuliah yang dingin kelu namun tidak membuat otak beku, sang dosen kurang lebih berkata, “Kenapa Karl Marx berhasil menyelesaikan buku Das Capital?” Lalu sang dosen pun menjawab pertanyaannya sendiri, “Karena pada masa itu (masa Marx hidup) belum ada TV.” Tapi saya tidak menyanggah, “Kenapa begitu? TV memberi ekstasi seni dan MTV lalu ditambah dada Ade Rai dan paha Krisdayanti kepada pemirsa.” Ya... saya tidak menyanggah karena pada saat itu saya belum mengerti apa-apa, sama seperti sekarang. Namun akhirnya, TV memberi saya “apa-apa” untuk diketahui. Bukan Das Capital-nya Marx dan botol saus serta potrait Che-nya Andy Warhol melainkan pulang ke Rahmatullah-nya Sukma Ayu dan kemenangan politik SBY-MJK. Anda boleh mencap saya sebagai seorang yang nihilis. Dan apologi saya, tolong jangan menggeneralisir kenihilismean TV tersebut dalam ranah yang lain.&lt;br /&gt;Televisi sudah menjadi kebutuhan primer masyarakat kita. Dengan definisi “kita” yang saya biarkan berkecamuk dalam otak pembaca. Tulisan ini memang tidak bermain data tapi meskipun demikian bukan berarti racauan gila di malam gelap gulita. Maaf tulisan ini banyak terinterupsi oleh kalimat tidak penting. Maaf untuk tidak berusaha konformis dengan otak yang terlanjur metodis. Maaf untuk terus membanjiri Anda dengan kata “maaf”. Untuk menjelaskan pernyataan kebutuhan primer diatas, saya akan berbagi pengalaman kembali dari ruang kuliah. Tepatnya dari mata kuliah departemen Antropologi, sang dosen berbagi pengalamannya yang sulit mempelajari dan meneliti kehidupan suku pedalaman yang primitif (dalam terminologi masyarakat yang sok modern) dan murni. Penyebabnya adalah karena indikator yang digunakan untuk mengatakan sesuatu itu primitif adalah sama sekali tidak menggunakan peralatan modern (modern adalah sampah peradaban). Suatu suku bangsa dikatakan primitif dan murni apabila tidak memenuhi standardisasi modern (inilah yang menyebabkan TIDAK ADA yang bebas nilai di dunia).Ternyata suku pedalaman yang diteliti tersebut berada dalam keadaan “antara”. Suku pedalaman tersebut memang berkehidupan non-modern namun ada satu entitas kehidupan modern yang merasuk dalam kehidupan suku tersebut, yaitu TV. Ha ha ha...bagaimana mungkin menyatakan suku tersebut murni dari peradaban padahal mereka telah mengetahui akhir dari Maria Mercedes dan Dulce Maria? Sebaliknya, bagaimana mengkategorikan suku tersebut dalam modern sementara mereka tidak mengenal literacy dan unsur beradab lainnya (tetap dengan patokan yang sok modern)? Lalu apa kesimpulan dari penelitian sang dosen tersebut? Setahu dan seingat saya, cerita tersebut diakhiri dengan senyum dan derai tawa puas mahasiswa-mahasiswi, termasuk saya. Saya yang masih mahasiswa baru dan tidak mengerti apa-apa, sampai sekarang.&lt;br /&gt;Televisi mendobrak kehidupan konvensional yang melanda ayah-ibu kita di tahun-tahun perjuangan dan perang senjata. Kehidupan beberapa dekade sebelum akhir abad 20 menjadi saksi penting bagaimana komunikasi kinetik visual menjajah pikiran komunal. Konsep materialisme historis Marx berjalan linier mengikuti rentetan fase penindasan manusia dalam berbagai bentuk. Setelah kapitalisme timbul sosialisme-komunisme, begitu kata Marx. Setelah perang senjata dan tombak bambu timbul perang media komunikasi TV, begitu kata saya. Maaf apabila analogi ini terlalu memaksakan. Penindasan manusia abad 21 tidak lagi menyakitkan dan berdarah-darah melainkan penuh suka cita serta dinantikan. Nuklir Amerika Serikat hanya perlu ditunjukkan di CNN dan HBO bahkan Empty-V untuk membuat Indonesia diam tertunduk. Lalu tiba untuk pertama kalinya Ronald Mcdonald di Bandung, tepatnya di Bandung Indah Plaza, yang membawa semiotika modernitas berupa BigMac. Yup...selamat datang pabrifikasi modernitas dan konformitas. Catatan untuk pemerintah, tidak usahlah repot-repot mensosialisasikan kebijakan ini karena...everybody loves TV !! &lt;br /&gt;Kekerasan simbolik, istilah yang saya rasa cocok menggambarkan keadaan diatas. Saya tidak berusaha menjadi moralis atau puritan, ekspresi saya terhadap TV merupakan bukti ketidakbebas-nilaian suatu wacana. Prinsip cover both side memang penting dan itu termasuk unsur utopia dalam kehidupan TV. Namun satu pertanyaan kembali saya lontarkan, “Apa Anda yakin TV itu bebas nilai?” Dengan kata lain, TV bertindak netral dan tidak memihak siapa-siapa atau apa-apa. Kalau begitu apa yang bisa menjelaskan Seputar Indonesia lebih sebentar dibandingkan Indonesian Idol tapi sama dengan Cek&amp;Ricek? Rating TV? Hal tersebut menunjukkan keberpihakan TV terhadap salah satu pihak atau pemirsa. Baiklah apabila apologi “setidaknya mencoba cover both side” berusaha dikedepankan, tapi tetap saja dalam perspektif saya, TV tidak bebas nilai. Ok, sekali lagi saya ingin menekankan bahwa saya bukanlah seorang moralis atau puritan yang gila moralitas. Keberpihakan saya adalah kepada penolakan reality appearance dan unsur subjektifitas TV yang sudah sangat terlalu hyper berlebihan sekali mempengaruhi pikiran pemirsa.&lt;br /&gt; Masyarakat, termasuk saya dan anda, berhak menggugat, meskipun hanya dalam lembaran kertas, penolakan terhadap TV. Kalangan TV selalu berkilah dan berteriak lantang kebebasan media tapi mengapa tidak pernah merenung dalam kewajiban media. Lagi-lagi saya ingin menekankan bahwa saya mengambil posisi untuk menolak keberpihakan TV yang diskriminatif. Tidak semua orang menyukai kisah cinta Gading Marten dan Astrid Tiar, tidak semua orang suka ditakut-takuti oleh monster jahanam, dan tidak semua orang pula yang suka waktu pagi buta-nya diganggu panggilan para penjaga moralitas religiusitas. Apakah Anda telah mengalami taraf kebingungan dengan tulisan ini? Anda merasakan aura paradoks akut dalam tulisan ini?&lt;br /&gt;Apa Anda bertanya-tanya apa yang saya inginkan dan maksudkan dengan tulisan ini? Yang saya inginkan adalah mimpi ini berakhir dan TV menjadi alarm yang membangunkan tidur panjang “kesadaran”. Kapitalisme sudah mengambil semuanya dari manusia. Apa lagi yang tersisa? Bahkan Dalai Lama pun menjadi berita. Kapitalisme yang telah “menyejarah” memang tidak dapat dikesampingkan begitu saja. Konsekuensi kapitalisme sebagai pemegang tahta kerajaan dunia membuat TV menjadi bukan sekedar idola tetapi sudah menjadi agama. Namun demikian, walaupun TV menjadi senjata pemusnah kesadaran, apa yang saya klaim dalam tulisan ini,  tetap bisa pula menjadi obat pembangkit kesadaran. “Every tool is a weapon if you hold it right,” ucap Ani DiFranco. “Sebotol Coca Cola akan memiliki makna yang berbeda jika terisi bensin dan secarik kain,” ucap entah Sarkasz atau Morgue Vanguard. Sekotak TV dengan beberapa kabel menjuntai dapat menjadi jembatan menuju kesadaran. Klaim kesadaran tidak dikomando secara top-down tetapi Anda harus menemukan definisi kesadaran Anda sendiri. Apabila Anda melihat keadaan sudah baik dan menganggap tulisan ini tidak berarti, ya sudah. Tetapi apabila Anda berpikir ada yang salah dengan lingkungan sekitar, ya sudah. Lakukan yang Anda suka dengan tanggung jawab personal order di kepala.&lt;br /&gt;Tidak ada yang mampu merepresentasikan realitas selain realitas itu sendiri. Media tidak akan pernah mampu membuat realitas karena momen tidak pernah terulang. Namun media mungkin mampu merekonstruksi realitas dan menayangkannya dalam berita sore. Bahkan live reporting pun tidak ubahnya panggung drama setelah ada di layar kaca. Argumentasi dari tulisan ini memang eksistensi suatu objek secara material, apabila unsur tersebut tidak terpenuhi maka yang terjadi adalah the second reality. Konsep ini dikemukakan oleh Walter Truett Anderson yang menyatakan bahwa kenyataan oleh media telah ditampilkan tidak sebagaimana-adanya. Media, sekalipun TV yang memadukan visual, kinetik, dan audio dalam satu paket, tidak akan menggambarkan realitas dengan seutuhnya. Transfer semangat atau aura magis dan karismatis  dari realitas sangat berpotensi direduksi untuk kepentingan komoditas berita saja, tidak lebih. Kesedihan dan kebahagiaan kini menjadi bagian permainan hasrat untuk memperdalam jaring hegemoni kapitalisme. Lalu apa yang kita harapkan dari tayangan TV selama solusi tidak pernah beraksi dalam tataran implementasi? theendofmONo&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-109898343953859128?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/109898343953859128/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=109898343953859128' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/109898343953859128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/109898343953859128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2004/10/tv-dibaca-tefe-bukan-tivi.html' title='TV dibaca tefe, bukan tivi.'/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-109898338074067711</id><published>2004-10-28T10:08:00.000-07:00</published><updated>2004-10-28T10:09:40.740-07:00</updated><title type='text'>Pelajaran dari Sebuah Kotak</title><content type='html'>Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari televisi? Rumah satu miliar Krisdayanti hasil kerja kerasnya menjadi artis, gigihnya perjalanan Feri AFI dari anak seorang tukang becak menjadi penyanyi instan, atau nasehat Ibu Peri yang hadir “terlambat” di akhir tayangan Bidadari? Kalau kata Lilian Dickson, penyair, hidup itu ibarat koin, kita bisa membelanjakan sesuai apa yang kita inginkan. Ya, sekarang kita tinggal pilih saja pelajaran apa yang bakal kita dapat dari teve, sesimpel memilih tayangan dengan memencet remote control dari ujung jari. Atau, kita memilih untuk tidak mendapat apa-apa dari teve. Silakan pilih!&lt;br /&gt;Seperti Minggu sore itu, ketika seorang anak muda dari Yogyakarta dihadapkan pada dua pilihan terberat: menerima cinta teman dekat wanita yang “menembaknya” atau menolak cintanya dengan berbagai pertimbangan. Jika anak muda itu menerima, ia memberikan pertanda dengan minum jamu beraroma manis, tapi jika menolaknya ia memberi simbol dengan meneguk jamu pahit. Oposisi biner itu tak hanya berhenti di layar Katakan Cinta, namun juga di kehidupan sehari-hari. Mau pilih mana: menjadi trendi dengan mengikuti ikon-ikon yang ada di teve, atau tidak trendi karena memilih menjadi “singlefighter” sejati. Lagi-lagi, silakan pilih!&lt;br /&gt;Silakan pilih! memang bukan jargon saya di tulisan ini, tapi saya ingin memberikan pilihan seluas-luasnya agar kita tak terjebak dalam “kekinian” atau “ketelevisian” yang telah dikonstruksi sedemikian rupa. Hey, sudahkah kita sadar akan hal itu? Atau memang, meminjam puisi Rangga AADC, kita sudah digenangi air racun jingga dengan sebuah kotak bernama televisi? Tak apalah, karena kita semua memang suka dengan tayangan-tayangan teve. Slogan “memang untuk anda” memang bukan basa-basi, karena nyatanya teve memberikan banyak kegunaan. Di pagi hari, saat orang hendak mengambil air wudhu, siraman rohani hadir di layar kaca. Ketika matahari mulai merangkak, bagi Anda yang malas keliling kompleks, si cantik Liza Natalia bersedia meliukkan tubuhnya, memandu Anda bersenam pagi. Capek berolahraga? Mungkin kita bisa bersantai sejenak sebelum berangkat kuliah sambil melihat berita pagi dengan cangkir teh atau kopi di tangan (daripada harus baca koran). Kalau beritanya terasa berat, bolehlah ganti channel, karena berita-berita selebritis juga sudah siap disajikan dalam infotainment. Nah, lho, sepagi itu teve sudah memberikan inspirasi dan manfaat beragam.&lt;br /&gt;Kalau kata teman yang bekerja di sebuah stasiun teve, teve akan selalu bergerak mengikuti kemauan pasar. Sepanjang tayangan itu masih menghimpun jutaan mata pemirsa, maka teve akan terus mempertahankannya bahkan akan membuatnya lebih gila. Jangan heran kalau jargon ‘menuju puncak’ terus berkumandang di layar kaca meskipun banyak dari kita yang mencibirnya. Hal itu dicoba dijelaskan oleh Vincent Mosco, pakar ekonomi-politik, dengan “komodifikasi”, yakni proses transformasi nilai guna dari nilai yang didasarkan pada kemampuan memenuhi kebutuhan menjadi nilai tukar yaitu nilai yang didasarkan pasar. Dewasa ini, teve tidak lagi bermakna sebagai alat pemenuhan kebutuhan manusia akan informasi, namun telah bergeser mengikuti kebutuhan pasar. Sambung teman saya yang kerja di panggung layer kaca itu, “Wajar, sih. Biaya produksi stasiun teve itu ‘kan gede banget. Teve butuh iklan sebanyak-banyaknya  untuk menutup biaya produksinya. Dan cara untuk menarik iklan adalah membuat tayangan yang menjual.”&lt;br /&gt;Lantas, apa, sih, yang diinginkan pemirsa teve? Impian kehidupan metropolis? Hantu-hantu kapiran? Atau perang AS-Irak yang mirip dengan film Hollywood keluaran terbaru? Lagi- lagi, choose it!. Impian kehidupan metropolis banyak ditawarkan sinetron-sinetron kita mulai dari yang bertemakan kehidupan anak gaul Jakarta sampai kisah-kisah ala Cinderella. Kalau suka dengan tayangan yang membuat kita bergidik, tontonlah tayangan misteri yang testimoni si pelakon atau paranormalnya lebih serem daripada keadaan sebenarnya. Penggemar berita pun turut digenangi air racun jingga dengan tayangan perang AS-Irak yang menghadirkan dentuman bom, desingan peluru, kucuran darah dan air mata. Perang kini lebih menyerupai drama reality show yang bisa dihadirkan di rumah-rumah.&lt;br /&gt;Fenomena ini ditangkap oleh Jean Baudrillard, pengamat kebudayaan, dengan istilah hiperealitas. Realitas dikonstruksikan lewat tanda, image, atau simbol sedemikian rupa hingga menutupi makna sesungguhnya dan membentuk konstruksi baru. Konstruksi itu bisa terpisah jauh sama sekali dengan realitas sebenarnya,. Coba sekali-kali, kalau ada waktu, kita sama-sama berpikir lagi tentang realitas yang dihadirkan di acara Indonesian Idol, Uang Kaget, Sinetron Metropolis, Liputan 6, atau acara-acara lainnya. Apakah realitas yang mereka bentuk itu sama dengan realitas di dunia nyata?&lt;br /&gt;Kalau begitu, kembali lagi ke pertanyaan awal: pelajaran apa yang bisa kita ambil dari sebuah kotak bernama televisi? Karena kata dosen yang mengajari saya taktik perang Sun Tzu, setelah melakukan sesuatu, harus ada pelajaran yang diambil untuk bisa melakukannya lebih baik di kemudian hari. Memang tak hanya rumah mewah Krisdayanti, perjuangan Feri AFI, atau nasehat Ibu Peri yang bisa menjadi pelajaran untuk kita. Masih banyak “pelajaran" lain yang tidak sempat tercantumkan, saking banyaknya. Misalnya saja, kebesaran jiwa Gde Prama, kesejukan hati Aa Gym, poni imutnya Nirina Zubir, taktik licik Laksamana Sukardi atau metode orgasme ala dr. Naek L.Tobing dan Melly Zamri.&lt;br /&gt;Atau, kembali ke premis awal, kita menyetujui untuk tidak mendapat apa-apa dari teve.&lt;br /&gt;Silakan pilih, lho!&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-109898338074067711?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/109898338074067711/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=109898338074067711' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/109898338074067711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/109898338074067711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2004/10/pelajaran-dari-sebuah-kotak.html' title='Pelajaran dari Sebuah Kotak'/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-109898313413439955</id><published>2004-10-28T10:04:00.000-07:00</published><updated>2004-10-28T10:05:34.133-07:00</updated><title type='text'>Televisi, Identitas Yang Terkoyak</title><content type='html'>“Media adalah sebuah arena bagi perjuangan simbol atau tanda.”&lt;br /&gt;Yasraf Amir Piliang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Kutipan pernyataan Yasraf Amir Piliang, pengamat kebudayaan populer dan juga pengamat posmodernisme, sedikit banyak menginspirasi tulisan ini. Sebagaimana telah diramalkan oleh Francis Fukuyama lewat The End of History And The Last Man Standing, ideologi kapitalisme dan demokrasi liberal yang kemudian menjadi pemenang Perang Dingin, menjadi akhir dari sejarah umat manusia. Dalam perkembangannya, kapitalisme dan liberalisme menjadi hegemon yang merajai sistem internasional, dan televisi, sebagai ikon kebudayaan populer, menjadi penyangganya. Televisi, sebagai bentuk media massa, merupakan alat yang strategis bagi hegemon untuk mempertahankan kekuasaannya dan membawa wacana-wacana yang bisa mendukung kelanggengan kekuasaan. Di teve, kita lihat betul bagaimana Mc Donalds berusaha diterima sebagai makanan yang meng-internasional, atau upaya MTV untuk mermbumikan dirinya dengan: Gue banget!!&lt;br /&gt;            Oleh karena peran strategis media, diutarakan oleh Yasraf, dewasa ini televisi atau media telah menjadi tempat perebutan berbagai kepentingan. Kepentingan yang bermain bukan hanya kepentingan hegemon, namun masih banyak yang lain. Tarik menarik kepentingan ini begitu nyata, sehingga menimbulkan benturan. Padahal, sekarang ini, kita hidup dalam era posmodernisme, era di mana image, style, dan sign  terpisah dari logic dan reason. Jika ibaratnya televisi itu mempunyai identitas tertentu, ia sekarang pasti sudah terkoyak.Logika ekonomi adalah logika yang paling utama dalam memahami televisi kita.&lt;br /&gt;            Televisi memang hanyalah sekumpulan tanda, ia tidak menawarkan esensi yang lebih dalam. Ketika tanda atau simbol telah diterima masyarakat, hal itu ditransformasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, tak salah jika kita sebut dunia yang kita tempati saat ini sebagai sebuah galaksi simulakrum, di mana setumpuk tanda silih berganti masuk ke dalam kehidupan manusia. Hingga, kebudayaan pop yang muncul saat ini mencapai derajat nol. Oleh Lyotard, hal ini disebut sebagai posmodernisme eklektik, di mana tanda dapat secara berganti merasuki jiwa setiap orang. Anak muda sekarang mendengarkan musik Reggae, menonton film Barat, makan siang di Mc Donalds dan makan malam di warung tenda, memakai parfum Prancis, beli baju di Mangga Dua, menjahitkan celana di Rahmat Jeans, atau memakai sepatu Adidas palsu. Tidak masalah, cing!  Namun bagi beberapa orang, mereka merasa dirinya seperti tak memiliki jiwa lagi. Ketika style dan logic sudah terpisah di dalam diri individu, ditambah lagi di tataran eksternal, di televisi tepatnya, tengah terjadi perebutan tanda: apa yang terjadi?&lt;br /&gt;            Mungkin ini tidak berarti apa-apa. Karena mungkin persoalan ini tak berarti banyak dibandingkan dengan kepuasan kita melihat tontonan-tontonan yang menghibur. Karena, seperti teman saya bilang, nonton teve itu nggak perlu mikir. Saat itu pula lah kita harus siap mengoyak identitas kita. Saat itu kita harus siap menyerahkan sebagian kedaulatan kita pada  sebuah benda bernama televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Morning Aroshava&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-109898313413439955?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/109898313413439955/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=109898313413439955' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/109898313413439955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/109898313413439955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2004/10/televisi-identitas-yang-terkoyak.html' title='Televisi, Identitas Yang Terkoyak'/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-109898296019322774</id><published>2004-10-28T09:57:00.000-07:00</published><updated>2004-10-28T10:02:40.193-07:00</updated><title type='text'>.mari bercakap-cakap dalam ruang imajinerku dan terlelap...</title><content type='html'>theendofmONo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kita pikirkan tentang hidup? Tentang kebebasan? Tentang kemapanan? Tentang segala hal yang kita mau? Hidup memberikan pengalaman dan pelajaran. Benarkah? Pelajaran apa yang dapat anda ambill ketika “hanya menonton” TV hampir selama 6 jam dibanding melakukan kegiatan lain? Pelajaran apa yang anda ambil ketika duduk di ruang kuliah yang “terkondisikan”? Sementara anda hanya membicarakan pertandingan sepakbola semalam. Kebebasan apa yang kita miliki ketika akan makan harus menggunakan piring? Ketika akan melakukan pertemuan harus membuat janji dengan handphone? Ketika anda berkaca di depan cermin sebelum berangkat ke kampus dan menyadari t-shirt anda tidak keren lalu anda memutuskan untuk tidak jadi berangkat kuliah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuasaanku. Kebebasanku. Kontrolku. Ilusiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup anda terpenjara dengan teralis tanpa sekat dan yang lebih hebat tak terlihat.  Terdiam. Melongo. Kosong. Tidak berbuat apa-apa. Lalu anda akan bertanya. Apa yang terjadi? Tidak terjadi apa-apa karena yang anda perlukan hanya merenung dan memikirkan kembali hidup anda. Itu saja tidak lebih. Dan mungkin teman mengobrol yang rela menampung kotoran otak anda untuk selanjutnya dia daur ulang menjadi rangkaian bunga indah untuk anda bawa pulang.   &lt;br /&gt;Kesendirian adalah suatu hal yang indah. Tidaklah salah apabila ada individu yang lebih memilih hidup dengan segala kesendiriannya lalu ikut mati bersamanya. Logika formal yang manusia bawa sejak lahir hingga mati hanya imitasi pikiran yang dia benci sekaligus dia sayangi. Mengapa takut untuk berbuat seperti itu ?...mengapa.&lt;br /&gt;Lelah menuruti semua keinginan hati yang terlalu dalam diselimuti selaput nafsu hitam pekat. Penantian untuk merasa bebas tidak akan pernah berakhir. Karena kebebasan itulah satu-satunya jalan keluar. Namun apakah anda mengerti akan arti dari kebebasan? Apakah anda paham? Ketika kebebasan tersebut tidak pernah ada dalam kehidupan ada. Melihat kehidupan layaknya film yang diputar lambat sedangkan anda sendiri tidak mengikuti alur tersebut. Anda rindu dengannya? Dengan hidup yang sesungguhnya? Hidup, seperti kata Edwin tidak sebusuk itu. Kita masih memiliki harapan. Karena harapan adalah satu-satunya yang tersisa. Harapan untuk hidup. Harapan untuk bebas. Bebas dalam arti nyata. Semoga...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Sigurros goblok... anj*ng musikna kitu pisan. Nusuk hati. Nusuk jiwa. Nusuk perasaan. Edan Win, asa teu pararuguh hate. Sedihlah pokokna... Sigurros POL!!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-109898296019322774?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/109898296019322774/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=109898296019322774' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/109898296019322774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/109898296019322774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2004/10/mari-bercakap-cakap-dalam-ruang.html' title='.mari bercakap-cakap dalam ruang imajinerku dan terlelap...'/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-109607957440377620</id><published>2004-09-24T19:29:00.000-07:00</published><updated>2004-10-28T10:12:06.206-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Selamat datang&lt;br /&gt;Jurang alienasi menghampiri manusia ketika konformitas menyergap. Konformitas itu kini sudah dan akan selalu hadir. Dekat sekali.. sangat dekat dengan anda. Hingga anda tidak sadar sedang dikonstruksi. Namun jawaban terakhir tetap di otak anda, mau atau tidak? Jelaga Tak Bertepi tidak memberikan pilihan. Karena pilihan ada di hati anda. Jelaga Tak Bertepi “hanya” memungut debu-debu sisa zaman yang tertinggal. Untuk kemudian anda lihat. Karena Jelaga Tak Bertepi tidak dapat melakukan apa-apa selama anda masih terbelenggu. Belenggu yang berupa dogma untuk kemudian anda terima. Jelaga Tak Bertepi tidak menjanjikan apa-apa. Morning Arosho, mONo, dan Bunny bukan siapa-siapa melainkan apa. Silakan bertanya dan diam untuk hidup..atau mati.&lt;br /&gt;Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;This is not the end of beginning. This is not the beginning of end.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-109607957440377620?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/109607957440377620/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=109607957440377620' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/109607957440377620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/109607957440377620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2004/09/selamat-datang-jurang-alienasi.html' title=''/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-109607938095706990</id><published>2004-09-24T19:28:00.000-07:00</published><updated>2004-09-24T19:29:40.956-07:00</updated><title type='text'>Pendidikan Mati di Usia Dini</title><content type='html'>They schools can’t teach us shit&lt;br /&gt;My people need freedom, we tryin to get all we can get&lt;br /&gt;All my high scholl teachers can suck my dick&lt;br /&gt;Tellin me corporate lies straight bullshit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;They schools ain’t teach us, what we need to know to survive&lt;br /&gt;They schools don’t educate, all they teach the people is lies&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-They Schools, DEAD PREZ-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan adalah sekolah dengan tembok putih persegi dikelilingi foto-foto pahlawan nasional, papan tulis, dan meja bangku yang berjajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup merupakan proses menafsir keadaan fisik, metafisik maupun patafisik lingkungan. Proses menafsir tersebut dapat dilakukan melalui sistem bahasa. Bahasa menjadi medium komunikasi yang menghubungkan variabel atau entitas kehidupan agar menjadi kesepahaman (konsensus) awam. Inilah yang manusia lakukan setiap hari. Tafsiran-tafsiran diproduksi setiap saat dengan pertimbangan subjektif dan latar belakang historis sang penafsir. Semua manusia adalah penafsir bagi dunia dan diri-nya sendiri. Pengetahuan subjektif menjadi pengetahuan umum ketika dapat dibuktikan dan diakui oleh individu yang lain. Kesadaran subjektif secara sporadis menjalar menjadi kesadaran komunal. Hal ini tentu membawa perubahan berarti bagi kehidupan masyarakat. Pola kehidupan dalam berbagai segi sosial, ekonomi, dan politik berkembang secara linier mengikuti arus kebutuhan komunal. Pengetahuan menjadi harta yang berharga dan memiliki kedudukan yang tinggi dalam strata masyarakat.&lt;br /&gt;Tulisan ini sedikit terinterupsi oleh Hans Christian Andersen dan Michel Foucault. Dua orang yang berbeda ranah kehidupan, yang satu pendongeng sedangkan yang satu akademisi politik, namun memiliki akar pemikiran serupa. Logika kekuasaan yang beroperasi dalam medan pengetahuan menjadi kegelisahan mereka berdua. Pengetahuan yang diimplementasikan dalam pendidikan menjadi alat kekuasaan (pemerintah) untuk menancapkan kuku hegemoni. Sejarah selalu dimiliki oleh pemenang dan pemegang kendali kekuasaan. “Who control the past, control the future. Who control the present, control the past,” teriak lantang Zack de la Rocha. Pendidikan menemukan format kotor-nya saat kekuasaan mengkooptasi secara gerilya menuju jantung pengetahuan. Ini terjadi dan kasus pembantaian Gerakan 30 September 1965 masih menyisakan tanda tanya serta derai mata.   &lt;br /&gt;Pada awalnya, pendidikan tidak dilembagakan seperti sekarang. Para orang tua yang bekerja menitipkan anak-anaknya untuk diurus oleh orang lain. Waktu luang diisi oleh kegiatan-kegiatan yang dirasa akan dibutuhkan oleh si anak kelak dia besar. Dari proses ini juga timbul istilah “almamater” yang berarti ibu yang memberikan ilmu pengetahuan. Perkembangan waktu yang cepat dalam generalisasi literatur menimbulkan kebutuhan untuk menciptakan institusi pendidikan, tentu saja masih dalam bentuk sederhana. Orang tua bekerja dan anak dititipkan untuk diajari ilmu-ilmu dan keterampilan kehidupan. Anak-anak bermain dan belajar bersama dengan alam. Tidak ada kurikulum, yang ada hanyalah observasi dan partisipasi langsung ke alam tanpa rintangan. Alam adalah guru terbaik di samping pengalaman. Alam mengajarkan mekanisme organisme makhluk hidup bekerja di dunia untuk dipahami dan diambil manfaatnya oleh manusia. Seragam bagi anak-anak adalah kulit kuning langsat terbungkus pakaian seadanya yang terbakar matahari. Istirahat siang diisi oleh meminum air kelapa dan buah-buahan dari hutan. Kurikulum dibuat berdasarkan konsensus kolektif untuk dijalankan bersama-sama. Anak-anak diajarkan yang ingin mereka ketahui. Pertanyaan semisal, “kenapa bola bundar ?” bukan merupakan jenis pertanyaan konyol yang hanya ditanggapi dengan gelengan kepala atau tawa manis ibu. Pertanyaan tersebut membuka jendela pikiran anak untuk membongkar tabir dogma, terlebih ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt; Kini ijazah meraja. Sekolah menjadi keharusan. Pendidikan bertransformasi menjadi rencana wajib jangka panjang bagi si sulung. Hal yang menjadi keharusan bagi anak untuk berangkat pagi dan mengerjakan pekerjaan rumah. Karier pendidikan dibuat berjenjang dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi (keadaan order ini sangat terancam dobrakan chaos yang menghantui dalam ruang turbulensi). Pendidikan terancam diartikan sesempit itu dan selesai. Tanggung jawab orang tua untuk memberikan kehidupan yang baik bagi anak berhenti pada tahap memasukkan anak ke dalam lembaga modern rasional. Pertanyaannya adalah apakah menjadi seorang manusia berarti menjadi boneka sosial? Tidakkah cukup nilai dan norma yang sudah ada semenjak individu lahir dijadikan pegangan bahkan cetakan untuk membentuk manusia yang diterima sosial? Hal ini membuktikan bahwa pendidikan tidak berdiri sendiri dan anti-netral. Faktor bebas nilai dalam pengetahuan adalah omong kosong. Bebas nilai tidak dapat menjelaskan perbedaan paradigma. Argumentasi perbedaan cara pandang runtuh ditangan pendidikan yang diskriminasi dan memihak. Dan masyarakat kita menerima nilai ini. Nilai untuk memihak kepada sekolah dan pendidikan yang anti-sekolah dan anti-pendidikan.     &lt;br /&gt;Pemerintah membuat kurikulum untuk kesetaraan dan keadilan bagi siswa didik. Diskriminasi dihindarkan dengan membuat kebijakan seragam. Tapi konformitas membuat ulah dengan dalih pengujian kompetensi. Siswa dididik dengan metode McDonaldisasi yang bermodalkan kalkulasi. Daya hitung, daya prediksi, efisiensi, dan kontrol menjadi  indikator baru bagi stabilitas. Stabilitas yang mengorbankan diversitas. Pendidikan ter-institusionalkan secara sepihak oleh orang dewasa. Keadaan ini diperburuk dengan arus massif kapital lokal dan global yang sudah menjadi rahasia umum. Program pemerataan pendidikan pemerintah kandas di tangan modal.&lt;br /&gt;Mari sejenak kita berbicara dalam tataran mempercayai institusi sekolah dan mengkritisi. Anak di desa tidak akan mendapatkan infrastruktur (ruang kelas, buku, gaji guru, dan lain-lain) yang sama dengan anak di kota. Pembeda desa-kota adalah materi. Uang lebih cepat mengalir sekaligus terbakar di dataran kota. Apa ini yang dimaksud dengan keadilan pendidikan? Keadilan kumutatif tidak perlu menjadi patokan karena hal yang terpenting adalah  proposionalitas. Keadaan (spasial, geografi, historis) desa tentu berbeda dengan kota. Namun demikian keadaan ini tidak lantas membuat desa menjadi subordinat dari superordinat kota. Kenapa pejabat daerah lebih memilih untuk membangun mall daripada sekolah dan menambah jumlah guru. Sekolah yang sudah dianggap mati oleh Ivan Illich. Namun masih penulis hargai bagi orang-orang yang menaruh harapan kepada sekolah. &lt;br /&gt;Masalah yang menyangkut dunia pendidikan terus bergulir seperti siklus lahir, hidup untuk kemudian dilupakan. Berbagai masalah yang sama terus berulang tanpa solusi. Kurikulum yang berganti setiap Menteri Pendidikan baru menjabat, UMPTN yang berganti wajah menjadi SPMB, nilai konversi yang menjadi polemik akibat kebijakan sentralisasi, dan Wajib Belajar Sembilan Tahun menjadi beberapa masalah substansial administratif dunia pendidikan kita. Pemerintah mencanangkan proses Wajib Belajar Sembilan Tahun dengan tujuan mulia untuk memberantas musuh masyarakat, yaitu kebodohan dan kemiskinan. Tetapi apa pemerintah tidak pernah berpikir bahwa kemiskinan dan kebodohan diakibatkan oleh kebijakan pemerintah yang parsial dan pro-modernisasi tanpa kritis. Penyelesaian masalah tidak sampai ke akarnya karena belenggu kebijakan dan ideologi yang membuat visi pemerintah melihat permasalahan dari satu sudut pandang, yaitu kesalahan masyarakat sendiri. Masyarakat dianggap bodoh dan miskin karena tidak mau berusaha. Bagaimana masyarakat marjinal tersebut dapat berjuang dan bertahan ketika sistem tidak bersahabat dengan mereka. Demokrasi menemukan ajalnya di Indonesia. &lt;br /&gt;Apakah masih relevan mengkaitkan antara sekolah dengan pendidikan? Sekolah menjadi “agama” dengan caranya sendiri. Definisi sekolah sebagai lembaga (institusi) pendidikan perlu di-redefinisi. Paradigma siswa adalah objek menimbulkan sikap pasif yang berujung alienasi. Dan konsensus terlanjur menetapkan, sekolah menjanjikan masa depan. Anggapan apriori ini perlu didobrak karena menyesatkan. Sekolah tidak menjanjikan apa-apa selama sekolah bukanlah “jendela dunia yang siap dipecahkan setiap saat”. Karena hidup adalah proses menafsir, silakan tafsirkan sendiri “sekolah” anda.&lt;br /&gt;Ketika manusia bertanya dan mencari, itulah pendidikan (pembelajaran). Pendidikan bukanlah industri pabrik mobil yang menciptakan komoditas seragam demi efisiensitas. Pendidikan adalah angan-angan penulis yang direpresentasikan oleh Aroshava. Andai anak-anak itu bisa bermain seharian. Berlari kencang mengejar belalang dan tertegun dengan teguh. Andai kata “anak-anak” itu diganti menjadi “kita”. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mONo&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-109607938095706990?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/109607938095706990/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=109607938095706990' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/109607938095706990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/109607938095706990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2004/09/pendidikan-mati-di-usia-dini.html' title='Pendidikan Mati di Usia Dini'/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-109607926329737870</id><published>2004-09-24T19:04:00.000-07:00</published><updated>2004-09-24T19:27:43.296-07:00</updated><title type='text'>Hedgehog dilemma</title><content type='html'>Landak, binatang kecil yang memiliki duri di sekujur tubuh. Fisiologi makhluk hidup yang beradaptasi dengan lingkungan, menurut versi Darwinis. Penjelasan yang dimafhumi juga oleh pendekatan struktural fungsional dalam skala mikro (sangat mikro karena cakupan spesifik makhluk hidup) bahwa duri di landak memiliki fungsi atau tujuan untuk membela diri dari serangan musuh, diantaranya.&lt;br /&gt;Fungsi yang memiliki ironi, menurut saya. Hedgehog dilemma, kalau boleh saya menyebutnya (atau mengutipnya entah dari siapa). Semakin didekati, semakin menyakitkan. Saya jadi teringat film Edward:The Scissors Hand yang dibintangi oleh Johnny Deep. Edward sama seperti landak yang memiliki organ tubuh yang berpotensi melukai. Kalau landak memiliki duri, Edward memiliki tangan gunting yang artistik.&lt;br /&gt;Cerita fabel landak direpresentasikan oleh Sonic The Hedgehog yang happy ending sedangkan Edward berakhir diantara kecaman masyarakat yang menolak anomali. Masyarakat menolak anomali. Masyarakat menolak dilukai. Semakin Edward senang dengan lingkungannya, semakin dia melukai teman-temannya. Semakin didekati, semakin menyakitkan. Semakin mencintai, semakin disakiti. Bukan begitu, Aroshava? Sudahkah anda siap mencintai dan dicintai? Terlebih, siapkah anda menyakiti? &lt;br /&gt;Klik. Turn off the computer. (... setelah “kekhawatiran” itu di-reply dan beberapa saat menuju angka dua puluh )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mONo&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-109607926329737870?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/109607926329737870/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=109607926329737870' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/109607926329737870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/109607926329737870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2004/09/hedgehog-dilemma.html' title='Hedgehog dilemma'/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-109506326412269977</id><published>2004-09-13T01:13:00.000-07:00</published><updated>2004-09-13T01:14:24.123-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Saya sedang berkhayal: Andai saya bisa membuka sekolah sendiri. Saya akan mengajak murid-murid pergi ke hutan, membebaskan dari semua sistem yang sudah terpola. Di hutan mereka bisa membangun kehidupan sendiri. Menata kehidupan sendiri, yang terlupa dari angan-angan modernitas.&lt;br /&gt;Pagi-pagi itu, saya membangunkan mereka dan menyuruh mereka membawa barang-barang seperlunya. Sebenarnya, ini merupakan usaha saya untuk membuat mereka tidak terlalu terngiang pada kehidupan konformis ini.&lt;br /&gt;Di hutan dingin, kita lalu duduk melingkar, bersatu dengan rimbunnya pepohonan. Kita lalu memulai dengan  belajar IPA, dan saya biarkan mereka mencari semut untuk dikumpulkan di siang harinya. Ya, hari ini kita akan belajar tentang semut. Instruksi saya hanya satu: “Hati-hati, jangan sampai menyakiti semut itu! Di buku memang kita lihat semut adalah makhluk yang menyebalkan: mengerumuni makanan dan bentuknya yang menjijikkan. Tapi, lihatlah, semut adalah makhluk ciptaan Tuhan, sama seperti kita.”&lt;br /&gt;Ketika mereka berteriak meminta tambahan waktu untuk pelajaran IPA, karena mereka belum bisa memahami semuanya, saya hanya tersenyum kecil sambil berkata, “Silakan..Kita di sini tidak dibatasi oleh waktu, kita tidak dibatasi oleh jarak. Kita tidak sedang berada dalam institusi yang dijejali dengan kurikulum atau pengukuran kuantitatif lainnya.” Sampai akhirnya malam tiba, kita merapat dan membuat api unggun. Kita saling bercerita, dan saya pun melepas diri saya. Saya ingin duduk di samping mereka, menjadi teman mereka. Saya bukanlah guru mereka. Ya, karena saya pun tidak tahu apa-apa tentang hidup ini! Saya tidak ingin membelokkan arti “kebenaran” yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;Saya ingin menjadi sahabat mereka, agar ketika mereka kembali ke kota dan bertemu dengan orang-orang, saya bisa mendampinginya, berjalan di samping mereka. Mempersiapkan mereka untuk menghadapi konstruksi yang telah terbangun. Mempersiapkan untuk menjawab pertanyaan mereka ketika berada di pasar, “Mengapa orang-orang datang dan pergi ke pasar begitu pikuk? Mengapa mereka berlomba-lomba mengumpulkan laba sebanyak-banyaknya?”&lt;br /&gt;Tolong, tolong jangan bangunkan saya. Saya sedang masyuk berkhayal. Tapi ingat, jangan bilang siapa-siapa kalau saya berkhayal. Sebab impian bagi masyarakat dewasa ini sangat mahal harganya. Bahkan, ada orang yang dilarang berkhayal, katanya,sih, dianggap mengganggu stabilitas negara. Lho, saya kan hanya berkhayal. Apakah salah kalau saya berkhayal dan membagikan mimpi itu kepada orang-orang yang saya jumpai.&lt;br /&gt; Klik.Saya mematikan komputer saya, namun tidak khayalan saya. Saya hanya sedang berkemas untuk pergi kuliah, mengikuti kemapanan yang sudah terlanjur saya ikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Morning Aroshava&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-109506326412269977?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/109506326412269977/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=109506326412269977' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/109506326412269977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/109506326412269977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2004/09/saya-sedang-berkhayal-andai-saya-bisa.html' title=''/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-109506322264826318</id><published>2004-09-13T01:12:00.000-07:00</published><updated>2004-09-13T01:13:42.650-07:00</updated><title type='text'>Jangan Bersedih, Masih Ada Generasi Nano!</title><content type='html'>             Sejenak kita lupakan pesimisme dalam pendidikan kita. Sejenak kita buang dahulu kritik-kritik pedas mengenai buruknya pendidikan di Indonesia, atau pendidikan dalam konteks yang lebih luas. Mari renungkan nama-nama berikut: Septinus George Saa, Ika Rahmatina, Yudistira Virgus, Edbert Jarvis, Andika Putra, Ardiansyah, atau Mulyono. Deretan nama tersebut mengkin kalah populer di negeri kita dibandingkan juara-juara AFI atau Indonesian Idol (yang terus didongkrak namanya oleh industri media).&lt;br /&gt;            Padahal sederetan nama tersebut telah mengharumkan nama Indonesia di kancah sains internasional. Septinus George Saa, misalnya, berhasil menyisihkan 73 paper dari negara lainnya dalam ajang “First Step to Nobel Prize in Physics”. Siapa sangka putra Papua ini bisa mencengangkan dewan juri dengan paper berjudul “Infinite Triangle and Hexagonal Lattice Networks of Identical Resistor”. Atau tengoklah Yudistira Virgus yang memperoleh Medali Emas dalam Olimpiade Fisika Internasional 2004 di Korea Selatan. Mulyono, penyabet Medali Perunggu dalam Olimpiade Biologi Internasional, mungkin dianggap aneh bagi teman sebayanya di Kediri karena kegemarannya belajar di bawah lampu teplok sedangkan keluarganya sendiri tidak mampu membiayai pendidikan Mulyono secara layak. Jejak alumni Tim Olimpiade Fisika Indonesia pun tak kalah mengejutkan. Di MIT, ada tiga orang mahasiswa asal Indonesia dari tujuh mahasiswa yang diutus MIT untuk mengikuti kompetisi fisika tujuh universitas top, yakni Harvard, Berkley, MIT, Stanford, Briston, California IT, dan Bremen, Jerman. Sedang di Lehigh University, AS, Nelson Tansu, putra Medan, menjadi profesor termuda dalam usia 25 tahun.    &lt;br /&gt;            Fenomena ini tentu mencengangkan. Di tengah kritik yang dilancarkan terhadap institusi pendidikan, sepanjang tahun 2004 ini Indonesia dijejali penghargaan sains di kompetisi internasional, mulai dari Lomba Karya Tulis Tingkat Asia Tenggara, First Step to Nobel Prize in Physics, L’Oreal E-Strat Challenge, Olimpiade Biologi Internasional, Olimpiade Kimia Internasional, Olimpiade Fisika Internasional, dan Olimpiade Matematika Internasional. “Generasi Nano”, demikian Yohannes Surya, sang pembimbing Tim Olimpiade Fisika Indonesia menjuluki “bocah ajaib” yang menempatkan dirinya di kancah internasional. “Generasi Nano” ini memberikan angin segar pendidikan Indonesia di samping berita-berita yang memprihatinkan seperti kasus SMP 56, SMP Dhuafa di Padang, atau kenaikan biaya pendidikan di Indonesia. &lt;br /&gt;            Namun satu hal yang patut diwaspadai adalah fenomena “brain drain”. Sudah banyak kita dengar kabar mengenai eksodus kaum cendekiawan Indonesia yang lebih memilih menetap di luar negeri karena pertimbangan akses sains (laboratorium, internet, pembiayaan penelitian, dll), gaji, serta apresiasi. Jika tidak segera diberi perhatian khusus, “bocah ajaib” tersebut tak lama lagi akan lari ke luar negeri untuk mengekspresikan diri dalam dunia sains. Inilah yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah dalam dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan. Agar kelak “Generasi Nano” yang kita banggakan tidak melempem, atau seperti kata mONo, tidak mati di usia dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-109506322264826318?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/109506322264826318/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=109506322264826318' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/109506322264826318'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/109506322264826318'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2004/09/jangan-bersedih-masih-ada-generasi.html' title='Jangan Bersedih, Masih Ada Generasi Nano!'/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-109504806012830529</id><published>2004-09-12T21:00:00.000-07:00</published><updated>2004-09-12T21:01:00.126-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>“konon/ belajar itu butuh keyakinan/ bukan perhitungan/ karena kata emak/ takakancukupmenghitungbiayapendidikandenganangka/ apalagi emak hanya seorang asongan/ yang tak mengerti dengan IPA,IPS, atau Bahasa/ namun emak punya keyakinan/ aku bisa mengubah peruntungan&lt;br /&gt;tapi sekarang emak urung/ emak murtad/ dalam keyakinan yang dianutnya/ terpaksalah aku menggelandang/ karenasetinggilangitdanbintang sejauhnegericinadankutubutara/&lt;br /&gt;aku bersembunyi/ dalam sunyi/ di lorong jembatan itu/ dengan secarik kertas kusam/ aku menghitung lagi/ uang sekolahku&lt;br /&gt;ternyata/ lebihtinggidarilangitdanbintang/ lebihjauhdarinegericinadankutubutara/”&lt;br /&gt;–        dari renungan pengemis jalanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;anak-anak hitam *&lt;br /&gt;anak-anak hitam/ terus berjalan/ di tengah luluh lantak dunia/ anak-anak hitam....&lt;br /&gt;sayang/ aku tak sempat memotretnya/ karena fana/ telah membiusku/ seperti Poison Ivy/ lenyap dalam kekuasaannya&lt;br /&gt;anak-anak hitam/ mengalir dalam sungai menganak/ berjalan dalam awan beribu /menggerayangi kita/ dan sekujur tubuh manusia&lt;br /&gt;anak-anak hitam/ tak kulupa wajahmu/ tertawa dalam sayu(karena hitam)/ kuyu dalam dekapan penguasa/ anak-anak hitam hanyalah tumbal/ (tapi) mungkin juga timbal&lt;br /&gt;ia terus menjerat/ketika bumi makin bertambah usia/terlupa sudah/ rio/ stockholm/ cartagena/ london/ raratonga/ bangkok/&lt;br /&gt;tempat mereka(sesorang di ujung sana)/ mencoba menangkarmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) ini memang bukan puisi tentang pendidikan, namun tentang kerusakan lingkungan global. penulis menganalogikan polusi dengan “anak-anak hitam”, karena nasibnya tak jauh beda dengan pendidikan bagi anak-anak kita: hitam dan kelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-109504806012830529?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/109504806012830529/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=109504806012830529' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/109504806012830529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/109504806012830529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2004/09/konon-belajar-itu-butuh-keyakinan.html' title=''/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-109504800514671586</id><published>2004-09-12T20:58:00.000-07:00</published><updated>2004-09-12T21:00:05.146-07:00</updated><title type='text'>Manusia Setengah Alien (mencari letak manusia dalam pendidikan)</title><content type='html'>Pernah mendengar kata-kata ini? “Ilmu itu ibarat gelas yang diisi dengan air. Jika ia diisi terus menerus tanpa ada kesempatan untuk menyerapnya, maka ia akan tumpah.” Kata-kata itu begitu membunuh kesadaran saya sebagai seorang manusia yang katanya adalah makhluk termulia di muka bumi ini karena dikaruniai akal sehat. Betapa tidak, fenomena pendidikan kita sepertinya tidak jauh dari perumpamaan itu. Sejak kita SD, kemudian berlanjut ke SLTP dan SMU, kita selalu dijejali dengan kurikulum yang kadang terasa irrasional karena nauzubillah banyaknya. Tentu kita masih ingat dengan pelajaran Bahasa Inggris di SLTP dan SMU yang sebenarnya merupakan repetisi dari pengenalan tenses dasar dalam bahasa Inggris. Atau, pelajaran biologi yang sepertinya terus berulang seputar sistem dalam organ manusia, mulai dari pencernaan, reproduksi, sekresi, hingga ekskresi. Kurikulum yang repetitif ini jadi terasa mubazir bagi siswa-siswi yang entah merasa senang karena tidak usah ribet memahaminya atau sebal karena satu bahasan tidak diberikan kesempatan untuk dieksplorasi lebih lanjut.&lt;br /&gt;            Otak siswa dalam ruang kelas pun tak ubahnya seperti gelas, yang terus menerus diisi oleh kurikulum yang taken for granted (bahkan buku dan LKS-nya pun taken for granted). Dewasa ini, tren untuk mengisi gelas dengan air sebanyak-banyaknya tersebut makin marak dengan hadirnya kelas akselerasi. Lantas, dalam alam sadar kita sebagai manusia, apakah kita merasa puas dengan apa yang terjadi di pendidikan kita ini? Sepertinya kesadaran kita telah diculik.&lt;br /&gt;            Paulo Freire menyebutkan konsep alienasi berkaitan dengan hilangnya kesadaran manusia dalam pendidikan. Alienasi ini adalah kesadaran manusia yang telah dikuasai atau dibelenggu oleh suprastruktur ideologis yang ada di luar dirinya yang menciptakan pemisah antara dirinya dengan kesadaran yang murni. Alienasi ini memang sama sekali tidak ada hubungannya dengan alien, makhluk hijau menyeramkan yang menghisap darah. Namun, biarlah saya menyebut istilah “alien” sebagai simbol tercerabutnya kesadaran manusia dari alam sadarnya. Lantas, tersebutlah cerita (dalam imajinasi saya) mengenai “manusia setengah alien” yang kemudian dijelaskan lagi oleh Paulo Freire, pengacara yang kemudian beralih profesi menjadi pengamat pendidikan, sebagai bentuk kesadaran palsu (false consciousness) yang menghalanginya mencapai pemenuhan dirinya sebagai manusia sejati. Dalam tataran teori sosial, pemahaman Freire terhadap keberpihakannya pada manusia ini bisa digolongkan dalam paradigma humanis. &lt;br /&gt;Beberapa fenomena terbaru di Indonesia cukup menunjukkan betapa terpisahnya antara ilmu dan kedirian penimba ilmu sebagai manusia. Lihatlah, kasus Monsanto yang melanda petani Sulawesi Selatan. Petani kapas yang frustasi akan panen yang kurang memuaskan serasa mendapat mukjizat ketika datang kapas transgenik dari pemerintah yang disalurkan oleh sebuah perusahaan multinasional bernama Monsanto. Sarjana-sarjana bioteknologi yang membuat rekayasa genetika terhadap kapas dimanfaatkan dalam sebuah sistem yang bernama kapitalisme untuk melanggengkan kepentingan perusahaan multinasional. Endingnya, bisa ditebak, petani terpaksa menandatangani poin-poin kerjasama dengan Monsanto yang justru merugikan petani dan menambah keuntungan bagi Monsanto.&lt;br /&gt;            Tentunya ahli bioteknologi tersebut dapat berpikir, hendak dikemanakan ilmu mereka, untuk kepentingan apa ilmu tersebut digunakan. Mereka juga bukan alien, kan? Yang bisa kapan saja disuruh untuk melakukan sesuatu dan memperoleh imbalan atas apa yang mereka kerjakan. Mungkin mereka adalah lulusan-lulusan terbaik yang dimiliki almamater mereka, atau setidaknya mereka bangga bisa mengecap pendidikan tinggi sampai akhirnya mereka bisa membuat rekayasa genetika.&lt;br /&gt;            Alienasi itu tidak hanya dialami setelah kita menamatkan institusi pendidikan. Alienasi juga bisa dialami siswa ketika mereka, misalnya, memperoleh pelajaran tentang  tumbuhan monokotil dan dikotil. Mereka hanya berada di kelas, atau paling banter berada di laboratorium untuk membincangkan ciri-ciri tumbuhan monokotil dan dikotil. Mereka tidak pernah diberi kesempatan untuk melihat langsung tumbuhannya dan menelitinya langsung dari tumbuhan yang masih segar. Alienasi juga bisa dialami siswa ketika mereka terpisah dari tujuan pendidikan yang sebenarnya. Seperti yang teman saya, mahasiswa ITB, pernah keluhkan, “Ah, pendidikan di Indonesia cuma menyentuh aspek kognitif aja!!”Ya, tepatnya seperti itu. Aspek kognitif di sini berarti siswa memang sekedar tahu. Lain halnya kalau misalnya ketika pelajaran ekonomi mereka dibawa langsung ke pasar untuk memahami transaksi ekonomi, atau untuk membuktikan kebenaran asumsi bahwa manusia adalah homo economicus (ketika mereka bertemu Mbok Sayem yang berjualan dengan falsafah tidak untung tidak apa-apa, asal mendapat kenalan, siswa bisa jadi terperanjat melihat kontadiksi antara pernyataan penjual itu dengan teori ekonomi modern yang telah ia peroleh).&lt;br /&gt;            Conscientizacao! Begitu teriakan kaum humanis yang ingin membangkitkan tidur panjang kaum positivis dari terpaan dehumanisasi dalam pendidikan. Secara lebih lengkap, ada tiga bentuk kesadaran manusia terhadap kehidupan mereka: kesadaran magis, kesadaran naif, dan kesadaran kritis. Kesadaran magis adalah suatu keadaan dimana manusia tidak mengetahui hubungan atau kaitan satu faktor dengan faktor lainnya. Kesadaran naif lebih menitikberatkan pada ‘aspek manusia’ sebagai akar penyebabnya. Sedang tingkat tertinggi kesadaran adalah kesadaran kritis yang lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah.&lt;br /&gt;            Sekarang, kita bisa berteriak dengan lantang. Mari bebaskan semua belenggu! Cara dan upaya dari masing-masing tentu berbeda dalam memandang masalah ini, karena kita adalah makhluk yang kompleks dan majemuk. Kalau Gramsci menyebut usaha pembebasan ini sebagai counter hegemony, maka mari kita definisikan kembali apa arti pembebasan ini, sesuai dengan jati diri kita sendiri. Tapi sebelumnya, ada baiknya kita simak pantun yang terdapat dalam buku “Filsafat Ilmu” karya Jujun Suriasumantri, yang menjadi buku teks wajib di beberapa perguruan tinggi.&lt;br /&gt;            Ada empat jenis orang berdasar pengetahuannya:&lt;br /&gt;Ada orang yang tahu di tahunya&lt;br /&gt;            Ada orang yang tahu di tidak tahunya&lt;br /&gt;            Ada orang tidak tahu di tahunya&lt;br /&gt;            Ada orang yang tidak tahu di tidak tahunya&lt;br /&gt;(pelan,sangat pelan saya berbisik dalam sebuah malam yang hening, “Kita termasuk yang mana ya?”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya, tidak mau jadi manusia setengah alien. – Morning Aroshava”  (ketika saya terbangun di esok paginya dan menggoreskan sesuatu di agenda harian saya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depok, 18 Agustus 2004&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-109504800514671586?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/109504800514671586/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=109504800514671586' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/109504800514671586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/109504800514671586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2004/09/manusia-setengah-alien-mencari-letak.html' title='Manusia Setengah Alien (mencari letak manusia dalam pendidikan)'/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-109504786975226242</id><published>2004-09-12T20:57:00.000-07:00</published><updated>2004-09-12T20:57:49.753-07:00</updated><title type='text'>“BUAT APA KULIAH?”</title><content type='html'>Sekolah adalah candu, begitu kata filsuf bijak. Sejak pertama kali kita menjejakkan kaki di bangku sekolah, kita diperkenalkan dengan huruf-huruf, yang bahkan kita tidak mengetahui jenis huruf apakah itu, walau kita perlahan mengerti cara membacanya. Baru setelah sedikit menginjak dewasa, kita tahu huruf-huruf itu adalah huruf latin yang banyak dipergunakan orang-orang di planet ini. Dan kita mengetahui, sejatinya huruf-huruf di dunia ini bermacam-macam, yang sebenarnya; sesuai dengan kajian antropologi yang mengedepankan asumsi bahwa semua kebudayaan adalah sama dan setara, tidak ada kebudayaan yang lebih primitif atau lebih maju; semua layak dipelajari dan patut disebut sebagai simbol kebudayaan. Namun karena hegemoni kekuatan tertentu, sejarah berkata lain.&lt;br /&gt;            Ya, sekolah memang bukan sekedar huruf-huruf, tapi dari analogi itu dapat ditangkap bahwa kebiasaan berpikir secara holistik kurang ditumbuhkan dalam sistem pendidikan kita. Aturan yang berprinsip pada kepraktisan dan penguasaan hal-hal yang biasa terpakai dalam kehidupan sehari-hari membuat kita terbiasa berpikir secara parsial. Pola pendidikan dan materi pengajaran di sekolah, sadar atau tidak sadar, mempengaruhi cara berpikir seseorang. Ketika musim SPMB tiba, lulusan SMU berbondong-bondong (walaupun tahun ini peserta SPMB mengalami penurunan) mendatangi Sekretariat PUML di kotanya untuk mendaftarkan diri mengikuti tes masuk perguruan tinggi negeri. Rata-rata dari mereka, mendambakan jurusan yang disebut “favorit” yang biasanya dicirikan dengan tinggginya tingkat kompetisi (rasio antara daya tampung dan peminat) untuk memasuki jurusan itu. Sebutlah Kedokteran, Teknik, Hukum, atau Ekonomi. Terluncur dari mulut mereka, “Saya masuk Teknik karena kata teman jurusan itu menjanjikan, nantinya tidak sulit untuk mencari pekerjaan.” Alasan untuk mencari pekerjaan memang tidak bisa disalahkan sama sekali, karena memang nyatanya siklus kehidupan orang “normal” adalah sekolah, lulus, kerja, menikah, punya anak, dan seterusnya. Namun, asumsi mendewakan jurusan favorit sepertinya terlalu sempit.&lt;br /&gt;            Yang terjadi, orang masuk perguruan tinggi hanya berdasar passing grade, yang notabene merupakan sebuah “tanda”, bahwa jurusan itu banyak diminati dan prestisius. Orang tidak mempunyai ruang berpikir secara jelas bahwa ia masuk jurusan tersebut karena ia ingin menggali dirinya dan ingin memperkaya diri dengan ilmu yang bakal ia dapat di jurusan itu. Akibatnya, yang terjadi kemudian, orang yang sebenarnya memiliki minat tinggi di satu bidang, karena tidak lolos tes, menjadi termuntahkan ke jurusan lain. Karena pertimbangan lain, beberapa orang lebih memilih perguruan tinggi negeri daripada perguruan tinggi swasta. Delusi orientasi kemudian terjadi; dan sejak saat itu pertanyaan: “Untuk apa berkuliah?” semakin menggemuruh dalam hati. &lt;br /&gt;            “Untuk apa bersekolah?” pertanyaan seperti itu didekati oleh Paulo Freire, pengamat pendidikan asal Brazil, dengan dua tujuan sekolah, yakni pembebasan dan transformasi sosial. Tunggu-tunggu-tunggu, sepertinya dua tujuan itu terlalu berat untuk diejawantah oleh beberapa lulusan SMU kita yang masih bermental positivistik (termasuk saya!) dan seperti saya lontarkan di atas, berpikir secara parsial. Jangankan mencapai kebebasan, memilih jurusan pun kita pun kadang masih terstimulus oleh passing grade dan jurusan favorit. Kebebasan dalam terminologi Freire adalah kebebasan menemukan jati diri di tengah pikuknya dunia dan sistem yang terus menghegemoni. Kebebasan juga bisa diartikan sebagai pembebasan pola berpikir, karena di sekolah manusia diperkenalkan dengan berbagai macam paradigma dan prespektif dalam ilmu, kemudian secara rasional mencari jawaban atas kebuntuan yang selama ini mengganjal di kepala kita. Kelanjutannya, transformasi sosial, adalah berdimensi aksi (action-oriented) yang dimaksudkan untuk membuat perubahan sosial pada berbagai macam level. Perubahan sosial juga dilihat sebagai pemberontakan terhadap belenggu masyarakat.&lt;br /&gt;            Tentu saja dua tujuan itu merupakan tujuan normatif, yang secara sederhana dikatakan sebagai tujuan yang berada dalam taraf ideal. Dalam perkembangan masyarakat yang dinamis ini, pendidikan menjadi banyak dimaknai oleh banyak kepala manusia. Ada yang memang ingin mencapai pemenuhan kebutuhannya mencari ilmu, ada yang ingin mengadakan perubahan atas sistem yang selama ini harus ia terima secara paksa, ada yang terinspirasi dengan orang-orang sukses di bidang itu, ada yang merasa cocok dengan ontologi ilmu itu, ada yang karena dorongan orang tua, ada yang ingin cepat mendapat kerja, bahkan ada yang ingin merasa elit jika ia diterima di jurusan yang mempunyai passing grade yang tertinggi. Alamak!&lt;br /&gt;            Dominasi alasan yang cenderung pada kepraktisan ini dikeluhkan oleh sebagian staf pengajar. Beberapa waktu lalu, saya sempat bercakap dengan salah satu dosen Fakultas MIPA yang mengeluhkan rendahnya minat siswa untuk masuk FMIPA. Rata-rata siswa SMU lebih menyukai Fakultas Teknik, karena dibandingkan dengan FMIPA, FT lebih bergengsi dan lebih diserap industri. Dosen tersebut menyesalkan keengganan mahasiswa untuk belajar dasar dari ilmu-ilmu teknika yang memang bersumber dari MIPA. Ilmu-ilmu dasar yang kurang berguna nantinya di industri diabaikan oleh mahasiswa. Padahal, kalau kita mengacu pada pola berpikir, penguasaan ilmu-ilmu dasar berguna terhadap cara berpikir yang holistik. Ibaratnya orang buta meraba gajah, orang buta tersebut tak akan mampu mendeskripsikan bentuk gajah, karena ia hanya mengetahui gajah dari belakangnya saja, atau dari samping, bukan secara keseluruhan.&lt;br /&gt;            Profesor Mubyarto, ahli ekonomi Indonesia, menyatakan kekecewaanya bahwa selama ini ia salah mengajarkan ilmu ekonomi pada mahasiswa, ilmu ekonomi yang diajarkan di Indonesia rata-rata ilmu ekonomi positif, ekonomi normatifnya jauh dilupakan. Padahal, kalau berpikir lebih lanjut, ekonomi normatif berguna dalam kontrol moralitas dan esensi ekonomi sesungguhnya. Kembali lagi, karena kita selalu mengacu pada alasan kepraktisan dan orientasi pada pekerjaan, ilmu yang kita pelajari pun terasa hambar. Ilmu yang kurang ‘menguntungkan’ bagi mahasiswa disingkirkan jauh-jauh, kalau pun diambil kita hanya sekedar masuk kelas, mengisi absen serta memperoleh nilai bagus.&lt;br /&gt;            Fenomena tersebut juga sepertinya memuntahkan kedatangan kita ke kampus: apakah kita hanya sekedar masuk kelas, bertemu teman-teman, mengisi absen, lantas mencatat. Kemudian ketika ujian tiba, kita belajar dan berusaha mendapat nilai bagus, agar jika saatnya mencari pekerjaan nanti, kita tidak tertunduk malu dengan nilai yang jelek. Proses mencari ilmu itu tidak disertai dengan proses berpikir akan hakikat keberadaannya. Lantas, jika nanti pun bergelut di dunia kerja, kita hanya akan menjadi “Brigade 0804”, yang berarti masuk kerja jam 8 dan pulang jam 4 sore, tanpa disertai dengan pemikiran kritis tentang apa yang bisa ia lakukan dalam kapasitasnya itu. Arti dedikasi terhadap pekerjaan itu kemudian tidak sepenuhnya bisa tercapai.&lt;br /&gt;            Lebih lanjut, Freire juga mengkhawatirkan terjadinya dehumanisasi dalam pendidikan kita, karena orang bersekolah tidak disertai dengan kesadaran yang melekat dalam dirinya, entah itu kesadaran magis, kesadaran naif, atau kesadaran kritis. Proses dehumanisasi secara sederhana disimbolkan manusia tidak lagi menjadi “manusia” secara sesungguhnya dalam pendidikan, melainkan ia hanya menjadi robot. Robot yang siap dijalankan ketika sistem menginginkan berjalan, dan robot yang harus berhenti ketika ia sudah mulai berpikir dan berjalan sesuai dengan ego-nya.&lt;br /&gt;            Kebencian terhadap sekolah sebenarnya sudah diletupkan dengan ungkapan yang populer: Sekolah adalah candu, maka sekolah tak akan memberikan arti apapun. Rupanya ungkapan itu dihayati betul oleh Thomas Alva Edison, penemu lampu bohlam, yang keluar dari sekolah karena ia merasa tidak mendapat sesuatu dari sekolah. Siapa sangka beberapa tahun kemudian, Edison membawa hasil eksperimen ke muka publik yang mencengangkan ahli-ahli fisika. Ki Hajar Dewantara juga pernah berpikir hal yang serupa dengan membuka sekolah alam. Sekolah tak mengharuskan siswanya datang ke kelas, namun siswa bebas mengeksplorasi dirinya di alam.&lt;br /&gt;            Lantas, “Untuk apa kuliah?” Pertanyaan itu ditujukan pada lorong-lorong sepi di kampus, ya seperti lorong yang sepi: terlupakan dan hendak dicampakkan. Pertanyaan-pertanyaan kurang populer seperti itu dalam perjalanan waktu akan menghimpit manusia ketika sistem kapitalisme buta telah merenggut relung hati terdalam seorang manusia. Dan kemudian mengajak kita untuk merenungkan nukilan puisi W.S Rendra, “Sungguh malang sarjana-sarjana yang dibesarkan dari buku, bukan berangkat dari kehidupan. Ketika mereka telah memetik ilmunya, mereka tidak lagi berpijak pada masyarakat dan kehidupan....”&lt;br /&gt;            Dalam hati kecil saya, saya yakin, tiada sesuatu yang mutlak benar, pun itu diucapkan oleh seorang hebat. Termasuk alasan untuk berkuliah. Juga alasan untuk berpijak di muka bumi ini, bahkan.&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-109504786975226242?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/109504786975226242/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=109504786975226242' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/109504786975226242'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/109504786975226242'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2004/09/buat-apa-kuliah.html' title='“BUAT APA KULIAH?”'/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7830037.post-109504781218614206</id><published>2004-09-12T20:56:00.000-07:00</published><updated>2004-09-12T20:56:52.186-07:00</updated><title type='text'>selamat datang di jelaga tak bertepi....</title><content type='html'>selamat datang di jelaga tak bertepi....&lt;br /&gt;dunia tempat orang lalu lalang, hilir mudik, dalam sebuah percepatan&lt;br /&gt;percepatan yang meninggalkan kepalsuan, karena akselerasi itu menyakitkan!&lt;br /&gt;inilah layar bagi kepalsuan itu; tempat kita berkaca dan berkontemplasi&lt;br /&gt;selamat datang; selamat datang di kelompok bermain! (di mana kebebasan adalah hal yang absolut, dan kesalahan adalah perinduk permainan)&lt;br /&gt;selamat datang di ranah hiperealitas......&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7830037-109504781218614206?l=jelagatakbertepi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/feeds/109504781218614206/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7830037&amp;postID=109504781218614206' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/109504781218614206'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7830037/posts/default/109504781218614206'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://jelagatakbertepi.blogspot.com/2004/09/selamat-datang-di-jelaga-tak-bertepi.html' title='selamat datang di jelaga tak bertepi....'/><author><name>kita!</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10156271676913480742</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry></feed>
